Jumat, 06 Juni 2014

Sejarah Tuhan



A.    Pengertian Tuhan
Tuhan adalah segala sesuatu yang paling kita cintai atau utamakan. Di dunia ini tdiak seorangpun yang tidak bertuhan, walaupun ada diantara kita yang menyeut dirinya atheis.
Kata Tuhan merujuk kepada suatu zat abadi dan supranatural, biasanya dikatakan mengawasi dan memerinah manusia dan alam semesta atau jagat raya. Hal ini bisa digunakan untuk merujuk kepada beberapa konsep dalam sebuah bentuk energiatau kesdaran yang merasuki seluruh alam semesta, dimana keberadaan-Nya membuat alam semesta ada, sumber segala yang ada, kebajkan yang terbaik dan tertinggi dalam semua makhluk hidup, ataupun yang tak bisa dimengerti atau dijelaskan.
Dalam bahasa inodnesia menyebut dengan TUHAN yang berasal dari bahasa sansekerta yaitu TUH HYANG, yang memiliki arti roh atau dewa yang memiliki posisi tertinggi dalam kahyangan atau sorga.

B.     SEJARAH TUHAN
Abad ke IV dan VI SM, perkembangan luar biasa terjadi. Para pemikir kreatif mulai menantang dan melampui kepercayaan-kepercayaan religius, mitologi, dan faktor masyarakat yang sudah mapan. Pemikiran mereka makin abstrak. Mereka adalah para filsuf pencari kebijaksanaan. Menurut catatan sejarah, pemikiran Yunani munculnya para filsuf di awali ketika orang mulai mempertanyakan mite-mite atau dongeng-dongeng.
Para filsuf mengkaji kembali persoalan-persoalan kuno mengenai asal-usul alam dan segala sesuatu. Mereka mulai menentang pengertian-pengertian akal sehat tentang sifat-sifat benda dan membedakan antara realitas sejati dengan penampakan benda-benda. Mereka mulai mempertanyaakan mitos-mitos dan mulai mencari jawaban tentang misteri-misteri alam secara sistematis, tema pemikiran itu lalu berkisar pada masalah: “ada”, “menjadi”, “subtansi ruang dan waktu”, “kebenaran”, jiwa dan pengenalan serta “Tuhan Allah dan dunia”.
Pada akhir aabad V SM, Upanishads telah mengembangkan sebuah konsepsi ketuhanan khas yang melampaui dewa-dewa tidak lagi dipandang sebagai wujud lain yang berada di luar para penyembahnya, justru manusia yang berusaha memperoleh realisasi kebenaran batiniah. Para filsuf India mempertahankan suatu konsepsi tentang adanya realitas absolut atau Brahman, yang di pegang teguh oleh perjalanan manusia sehari-sehari yang bebas dan tidak di kenal sama sekali.
Sasaran yang diselidiki para filsuf pertama (abad VI SM) mencakup segala sesuatu yang dapat dipikirkan akal dapat dikatakan mereka adalah filsuf alam, yang dimaksud dengan alam (fusis) adalah seluruh kenyataan hidup dan kenyataan badaniah. Thales merupakan filosof pertama yang bersifat kealaman dan monistis pada zaman Yunani kuno, yakni bahwa esensi sesuatu hal itu selalu bersifat ketunggalan.
Parmanides (540-475 SM) selanjutnya menyatakan bahwa, yang "ada" itu merupakan satu kesatuan yang bulat yang mengambil ruang, maka tidak ada ruang yang kosong. Dari corak pemikiran yang sifatnya kealaman dan monistis, pemikiran Yunani memasuki era baru bersifat kealaman dan pluralitas lalu perkembangan selanjutnya para filsuf mengalihkan obyek pemikiran dari alam ke arah pemikiran tentang manusia sendiri, yang dipelopori oleh Pytagoras (485 SM) dan Sokrates (469-399 SM).
Sejak itu lahir berturut-turut filsuf besar seperti Plato (427-347 SM), Aristoteles (348-322 SM), Platinus (Neoplatinus). Konsep filsafat tertinggi yang diajarkan Plato adalah suatu “idea” (Tuhan). Konsep ketuhanan Plato tidak mempunyai kedudukan yang jelas. Meskipun menyinggung yang “Ilahi” namun Plato tidak setuju dengan adanya para dewa dan dewi suatu mitologi Yunani yang disembah khalayak ramai. Paham tentang Tuhan pencipta dan yang esa tidak ditemukan dalam karya Plato.
Konsep ada “Demiurg” merupakan konsep tentang yang pandai mengatur segala yang dapat disaksikan, tetapi konsep ini bukanlah sang pencipta. Dunia ide tentu saja merupakan tempat dimana yang Ilahi itu muncul, maka manusia yang memikirkan tentang dunia ide, sama halnya dengan mendekati Tuhan juga. Jadi dunia idea adalah realita yang sebenarnya. Sementara Aristoteles menyatakan sebaliknya. Dunia idea adalah bayangan dari dunia kongkrit, dan semua alam raya ini bergerak menuju tujuan tertentu.
Masa setelah Aristoteles kemudian disebut Heliristis, dimana puncak keemasan yunani terletak pada popularitas sokrates, plato, dan sejak aristoteles yang secara umum bersifat kosmosentris.
 pemikiran yunani ditandai dengan perkembangan pemikiran patristik: ketika bapak gereja mulai terlibat dalam pemikiran filsafat yang mewarnai pemikiran yunani hingga abad ke 8 M. seperti filosof besar di bidang teologi dan filsafat: Aurelius Agustinus (354-430 M) pemikirannya merupakan rangkiman seluruh pemikiran kristiani. Menurutnya, manusia sama dengan dunia lain, berpartisipasi dengan idea ilahi secara aktif.
Sejak abad ke-8 di Eropa Barat, muncul pola pemikiran baru yang disebut skolastik. Skolastisisme adalah istilah umum yang digunakan untuk menunjuk pada pemikiran abad pertengahan yabg dipraktikkan di Barat kristen antara sekitar 1050 sampai 1350 pada masa ini kecenderungan pemikiran yang mencoba mempertahankan dan menjelaskan kebenaran agama dengan felsafat.
Tokoh paling penting pada periode skolastik awal adalah St Anselmus (1033-1109) pemikiran Anselmus merupakan sintesis antara pemikiran skolatik dan abad peertengahan. Anselmus menerima sepenuhnya penggunaan dialektika untuk theologi, bagi Anselmus tidak hanya akal budi yang dapat membawa seseorang sampai kepada kepercayaan, melainkan sebaliknya bahwa manusia harus percaya agar dapat memperoleh kepercayaan pemahaman yang benar mengenai kenyataan.
Argumen Anselmus yang paling masyhur ialah bukti antologis eksistensi Tuhan. Bukti antologis dimulai dengan menunjukkan bahwa konsep sesuatu itu sendiri memuat eksistensinya. Anselmus menyatakan bahwa definisi Tuhan itu sendiri mengimplikasikan eksistensi-Nya. Tuhan bagi Anselmus adalah maha besar, ada dalam pikiran dan ada juga di luar pikiran. Argumen tersebut secara radikal mengajarkan bahwa apa yang dipikirkan, berarti objek itu benar-benar ada, tidak mungkin ada sesuatu yang nyata ada di dalam pikiran, tetapi di luar pikiran objek itu tidak ada.
Kemudian, abad-abad berikutnya berlalu dalam kegelapan sampai datangnya abad ketujuh belas, yang diawali dengan munculnya Renaissence. Puncak masa Renaissence dimulai dengan muncul pemikiran Rene Descartes dari Prancis (1596-1650).
Descartes berpendapat bahwa penetapan wujud alam tergantung pada tepatnya wujud Tuhan. Jadi, ia tidak mengambil dalil dari alam untuk menetapkan wujud penciptaannya. Sebaliknya ia mempergunakan keberadaan sang pencipta yang maha sempurna dan abadi sebagai petunjuk bahwa alam itu benar-benar ada, bukan khayalan semu.
Di daratan Eropa muncul filosof menggantikan Descartes yang memiliki pendapat yang patut diperhitungkan dalam filsafat ketuhanan yang terkenal diantaranya aadalah Spinoza filsafat spinoza dapat dikatakan sebagai koreksi terhadap pandangan dualisme Descartes menganai keterpisahan jiwa dan badan dan pandangan dualisme antara Tuhan dan penciptaan dunia.
Pandangan Spinoza tentang Tuhan atau subtansi dapat disimpulkan sebagai berikut: Tuhan itu satu, di luar Tuhan tidak ada sesuatu apapun yang eksis, Bingkai alam adalah tubuh Tuhan, sedangkan sisi mental dari struktur fisikal alam adalah jiwa Tuhan, Objek-objek material adalah modus Tuhan atau substansi.
Filsafat Spinoza mengidentikan Tuhan dengan alam. Tidak ada beda antara Tuhan dan alam. Tuhan bukan merupakan pencipta, tetapi ia adalah alam itu sendiri jadi, pembedaan antara pencipta dan ciptaan Allah dengan alam adalah ilusi. (pendirian ini ialah panteisme). Namun, dalam salah satu tulisannya, Spinoza menyangkal telah mengatakan tentang kesatuan Tuhan itu aada di alam, Dia tidak terpisah dari alam dan alam pun tidak terpisah dari-Nya, karena tidak ada keterpisahan dari “tanpa kesudahan” (yakni Tuhan).
Yahudi clari dunia, namun orang Yunani percaya bahwa karunia akal membuat manusia serumpun dengan Tuhan; mereka, oleh karena itu, bisa mencapainya dengan usaha mereka sendiri. Walaupun demikian, setiap kali kaum monoteis jatuh cinta kepada filsafat Yunani, maka tak pelak lagi mereka ingin mencoba mengadaptasikan konsepsi Tuhan Yunani dengan konsepsi mereka sendiri. Ini akan menjadi salah satu tema pokok cerita kita. Salah satu orang pertama yang berupaya melakukan ini adalah filosof kenamaan Yahudi, Philo dari Aleksandria (30-45 M). Philo adalah seorang Platonis dan memiliki reputasi gemilang sebagai filosof rasional pad a zamannya. Dia menulis dalam bahasa Yunani yang baik dan tampaknya tidak bisa berbahasa Ibrani meskipun dia juga seorang Yahudi yang beriman dan menaati mitzvot. Dia tak melihat adanya perbedaa n antara Tuhannya dengan Tuhan Yunani. Akan tetapi, mesti dikatakan bahwa Tuhan Philo tampak sangat berbeda dari Yahweh. Karena suatu hal, Philo tampaknya kurang senang dengan kitab-kitab sejarah Alkitab, yang coba dia ubah menjadi kiasan-kiasan yang rumit: Aristoteles, dapat diingat kembali, memahami sejarah secara tidak filosofis. Tu• hannya tidak memiliki sifat-sifat manusia: dalam konsepsi Aristoteles, adalah tidak tepat, misalnya, menyatakan bahwa Tuhan “marah”. Yang dapat kita ketahui tentang Tuhan adalah fakta tentang eksistensi- nya saja. Meskipun demikian, sebagai praktisi Yahudi, Philo sungguh- sungguh percaya bahwa Tuhan telah menampakkan dirinya kepada para nabi. Bagaimana hal ini menjadi mungkin? Philo memecahkan persoalan itu dengan membuat pembedaan penting antara esensi Tuhan (Ousia), yang sepenuhnya tidak dapat dipahami, dan aktivitas Tuhan di dunia yang disebutnya “kekuasaan” (dynamies) atau energi (energeiai). Pada dasarnya, itu mirip dengan solusi P dan para penulis Hikmat. Kita tidak pernah bisa mengetahui Tuhan sebagaimana dia dalam dirinya sendiri. Philo menulis bahwa Musa berkata: “Pemahaman tentang aku adalah sesuatu yang manusia, ya, bahkan seluruh langit dan bumi, tidak mampu menampungnya.”
Untuk mengadaptasikan dirinya kepada kemampuan akal kita yang terbatas, Tuhan berkomunikasi melalui “kekuasaannya”, yang tampak• nya sama denga n bentuk-bentu k suci Plato (tetapi Philo tidak selamanya konsisten tentang ini). Bentuk-bentuk suci ini merupakan realitas tertinggi yang dapat dijangkau oleh pikiran manusia. Philo menganggapnya memancar dari Tuhan, seperti Plato dan Aristoteles memandan g bahwa kosmos memancar secara abadi dari Sebab Pertama. Dua di antara kekuasaan ini penting secara khusus. Philo menyebutnya kuasa Kerajaan, yang mengungkapkan Tuhan dalam keteraturan alam, dan kuasa Kreatif, yang dengannya Tuhan meng• ungkapkan diri dalam berkat yang dilimpahkannya kepada manusia. Masing-masing kuasa ini tidak bisa dicampuradukkan dengan esensi ilahi (ousid), yang tetap terbungkus dalam misteri yang tak tertembus. Kuasa itu memampukan kita menangkap kilasan realitas yang berada di atas segala sesuatu yang bisa kita pahami. Terkadang Philo berbicara tentang wujud esensial Tuhan (ousia) didampingi oleh kuasa Kerajaan dan Kreatif dalam sebentuk trinitas. Ketika menginterpretasikan kisah kunjungan Yahweh dan dua malaikat kepada Abraham di Mamre, misalnya, dia mengatakan bahwa peristiwa itu merupakan penampilan kiasan ousia Tuhan—Dia Sebagaimana Adanya—bersama dua ke• kuasaan senior.
            Orang Yahudi selalu memandan g konsepsi Philo tentang Tuhan sebagai tidak autentik. Akan tetapi, orang Kristen mengangga p Philo sangat membantu, dan orang Yunani, seperti akan kita saksikan, menerima pembedaan antara “esensi” Tuhan yang tak dapat diketahui dengan “energi” yang membuatnya dapat kita kenali. Mereka juga akan dipengaruhi oleh teorinya tentang Logos ilahi. Seperti halnya para penulis Hikmat, Philo membayangkan bahwa Tuhan telah membentuk sebuah rancangan dasar (logos) penciptaan, yang bersesuaian dengan alam bentuk-bentuk Plato. Sekali lagi, Philo tidak selalu konsisten. Kadangkala dia menyatakan bahwa Logos adalah salah satu dari kuasa itu; pada saat lain dia tampaknya berpendapat bahwa Logos lebih tinggi, yakni sebagai ide tertinggi tentang Tuhan yang bisa dicapai oleh manusia. Namun demikian, ketika kita berkontemplasi tentang Logos, kita tidak membentuk pengetahuan positif tentang Tuhan: kita tiba di luar jangkauan akal diskursif menuju pemahaman intuitif yang “lebih tinggi daripada suatu cara berpikir, lebih berharga daripada sesuatu yang sekadar merupakan pikiran.”75 Itu adalah aktivitas yang mirip dengan kontemplasi Plato (theoria). Philo ber- sikeras bahwa kita tak akan pernah mencapai Tuhan sebagaimana dia dalam dirinya: kebenaran tertinggi yang dapat kita jangkau adalah pengakuan tak terelakkan bahwa Tuhan benar-benar mentransendensi pikiran manusia.
Ini tidak segamblang kedengarannya. Philo menggambarkan sebuah pengembaraan penuh kasih dan menyenangkan menuju yang tak diketahui, yang memberinya pembebasan dan energi kreatif. Seperti Plato, dia memandan g jiwa seperti dalam pengasingan, terperangkap dalam dunia mated yang bersifat fisik. la harus kembali kepada Tuhan, rumahnya yang sejati, meninggalkan kesenangan, dunia indriawi, dan bahkan bahasa, karena semua itu mengikat kita dengan dunia yang tidak sempurna. Akhirnya, jiwa akan mencapai kebahagiaan yang membawanya mengatasi kesuraman keterbatasan ego menuju realitas yang lebih luas dan utuh. Kita telah menyaksikan bahwa konsepsi tentang Tuhan sering merupakan pemikiran imaji- natif. Para nabi telah merefleksikan pengalaman mereka dan merasa bahwa hal itu berasal dad suatu wujud yang mereka sebut Tuhan. Philo memperlihatkan bahwa kontemplasi religius memiliki banyak kesamaan denga n bentuk-bentuk kreativitas lain. Ada saat-saat, katanya, ketika dia sulit meneruskan penulisan bukunya dan tidak membuat kemajuan apa pun, tapi terkadang dia merasa terkuasai oleh tuhan:
            Aku … tiba-tiba menjadi penuh, ide-ide turun bagaikan salju, sedemikian sehingga di bawah pengaruh kuasa ilahi, aku dipenuhi kegaduhan Corybantic [ritus dan prosesi dalam pemujaan Dewi Cybele—dewi alam masyarakat kuno Asia Minor—yang sangat liar secara emosional,— ed.] dan menjadi tak sadar akan apa pun, tempat, orang, waktu saat ini, diri sendiri, apa yang diucapkan, dan apa yang dituliskan. Karena aku memperoleh ekspresi, gagasan, kebahagiaan hidup, pandangan tajam, kejelasan yang luar biasa atas objek-objek seperti yang mungkin terjadi lewat penglihatan mata yang sangat jernih.
            Segera setelah itu, tidak mungkin lagi bagi orang-orang Yahudi untuk mencapai sebuah sintesis dengan dunia Yunani. Pada tahun kematian Philo terjadi pembunuhan sistematik atas komunitas Yahudi di Aleksandria dan merebaknya ketakutan akan kebangkitan Yahudi. Ketika Romawi menegakkan imperium mereka di Afrika Utara dan Timur Tengah pada abad kesatu SM, mereka menenggelamkan diri dalam kebudayaa n Yunani, menggabungka n dewa-dew a nene k moyang mereka dengan dewa-dewa Yunani dan mengadopsi filsafat Yunani dengan sangat antusias. Namun, mereka tidak mewarisi sikap permusuhan Yunani terhadap orang Yahudi. Sebaliknya, mereka tak jarang lebih membela orang Yahudi daripada orang Yunani, meman• dang mereka sebagai sekutu penuh di kota-kota Yunani yang masih menyimpan sisa-sisa permusuhan terhadap Romawi. Orang Yahudi diberi kebebasan beragama sepenuhnya: agama mereka dikenal sebagai agama besar di zaman antik dan dihormati. Hubungan antara Yahudi dan Romawi biasanya selalu baik, sekalipun di Palestina, yang sering sulit menerima pemerintahan asing. Pada abad kesatu M, Yudaisme berada dalam posisi yang sangat kuat dalam kerajaan Romawi. Sepersepuluh dari seluruh wilayah kerajaan diisi komunitas Yahudi: di Aleksandria, empat puluh persen penduduk adalah orang Yahudi. Orang-orang di kerajaan Romawi tengah mencari alternatif agama baru. Gagasan monoteistik sedang merebak, dewa-dewa lokal tak lama kemudian hanya dianggap sebagai perwujudan dari keilahan yang lebih luas. Orang Romawi tertarik pada karakter moral Yudaisme yang tinggi. Mereka yang keberatan untuk disunat dan mengikuti Taurat sering dijadikan anggota kehormatan sinagoga-sinagoga dan disebut sebagai “orang yang takut kepada Allah”. Jumlah mereka terus meningkat: bahkan diperkirakan bahwa salah seorang kaisar Flavian mungkin telah beralih ke Yudaisme, sementara Konstantin nantinya beralih ke Kristen. Namun di Palestina, sebuah kelompok politik ekstrem dengan keras menentang pemerintahan Romawi. Pada 66 M, mereka merancang sebuah pemberontakan melawan Romawi dan, di luar dugaan, berhasil menghambat gerak maju pasukan Romawi selama empat tahun. Para penguasa cemas pemberontakan itu akan meluas kepada kaum Yahudi diaspora lainnya dan terpaksa menumpasnya tanpa ampun. Pada 70 M, tentara kaisar baru Vespasian akhirnya menguasai Yerusalem, meratakan Kuil dengan tanah, dan menjadikannya kota Romawi bernama Aelia Capitolana. Sekali lagi orang Yahudi terusir ke pengasingan.
Keruntuhan kuil, yang telah menjadi sumber inspirasi Yudaisme baru, merupakan duka yang dalam. Akan tetapi, jika melihat ke belakang, tampaknya orang Yahudi Palestina, yang sering lebih kon- servatif daripada Yahudi diaspora yang sudah terhelenisasi, telah mempersiapkan diri mereka untuk menghadapi bencana ini. Berbagai sekte telah tumbuh di Tanah Suci ini yang dengan berbagai cara berbeda memisahkan diri mereka dari Kuil Yerusalem. Sekte Essenia dan sekte Qumran percaya bahwa Kuil telah menjadi kotor dan korup; mereka menarik diri dan hidup dalam komunitas terpisah, seperti komunitas bergaya monastik di sisi Laut Mati. Mereka percaya bahwa mereka sedang membangun sebuah kuil baru, yang bukan dibuat dengan tangan. Kuil mereka adalah Kuil Ruh; bukannya dengan memberikan hewan kurban seperti yang lama, mereka menyucikan diri dan mencari pengampunan dosa dengan upacara baptis dan perjamuan umum. Tuhan hadir di tengah persaudaraan yang saling mengasihi, bukan di dalam kuil batu
Yang paling progresif di antara semua umat Yahudi Palestina adalah kaum Farisi yang merasa solusi aliran Essenia terlalu elitis. Dalam Perjanjian Baru, kaum Farisi digambarkan sebagai orang-orang munafik. Ini disebabkan oleh distorsi polemik pada abad pertama. Kaum Farisi sebenarnya merupakan orang-orang Yahudi yang sangat spiritual. Mereka percaya bahwa seluruh Israel telah diimbau untuk menjadi bangsa suci para rahib. Tuhan dapat hadir di rumah yang paling sederhana sebagaimana kehadirannya di Kuil. Akibatnya, mereka hidup bagaikan kasta rahib resmi, menjalankan hukum-hukum kesucian khusus yang mereka terapkan hanya pada kuil yang ada di rumah mereka. Mereka bersikeras untuk makan dalam keadaan suci secara ritual karena mereka yakin bahwa meja setiap orang Yahudi bagaikan mezbah Tuhan di Kuil. Mereka menanamkan rasa tentang kehadiran Tuhan dalam setiap perincian kecil kehidupan sehari- hari. Orang Yahudi kini dapat langsung mendekati Tuhan tanpa perantaraan kasta rahib dan tanpa ritual yang rumit. Mereka dapat beroleh ampunan dosa dengan cara berbuat baik kepada tetangga mereka; sedekah merupakan mitzvah terpenting di dalam Taurat; ketika dua atau tiga orang Yahudi belajar Taurat bersama-sama, Tuhan hadir di tengah-tengah mereka. Selama beberapa tahun di awal abad itu, muncul dua aliran yang saling bertentangan: satunya dipimpin oleh Shammai yang Tua, yang lebih ketat, yang lain dipimpin oleh Rabi Hillel yang Tua, yang merupakan kelompok Farisi paling po- puler saat itu. Ada sebuah cerita bahwa suatu hari seorang pagan mendatangi Hillel dan berkata kepadanya bahwa dia pasti akan menganut Yudaisme jika rabi itu mampu membaca semua isi Taurat sambil berdiri di atas sebelah kaki. Hillel menjawab: “Jangan me- lakukan kepada orang lain suatu perbuatan yang engkau sendiri tidak ingin dilakukan kepada dirimu. Itulah keseluruhan Taura.
Pada tahun 70 yang penuh krisis itu, Farisi berkembang menjadi Yudaisme Palestina yang paling penting dan disegani; mereka telah membuktikan kepada umat bahwa mereka tidak membutuhkan Kuil untuk menyembah Tuhan, sebagaimana diperlihatkan oleh kisah masyhur berikut ini:
Ketika Rabi Yohannan ben Zakkei tiba dari Yerusalem, Rabi Yoshua mendatanginya dan diceritakan bahwa Kuil telah dihancurkan. “Celakalah kita!” seru Rabi Yoshua, “tempat penebusan dosa-dosa orang Israel telah dirobohkan!” “Anakku,” jawab Rabi Yohannan, “janganlah berduka. Kita memiliki tempat penebusan lain yang sama ampuhnya. Apakah itu? Itulah perbuatan baik, karena telah dikatakan: Yang Aku kehendaki adalah kasih sayang, bukan pengurbanan.’”78. Konon setelah kejatuhan Yerusalem, Rabi Yohannan diselundup- kan di dalam peti jenazah agar bisa keluar dari kota yang tengah berkobar. Dia telah menentang pemberontakan Yahudi dan ber- pendapa t bahwa orang-orang Yahudi akan lebih baik jika tidak memiliki negara . Oran g Romawi mengizinkanny a mendirika n komunitas Farisi yang mandiri di Jabna, sebelah barat Yerusalem. Beberapa komunitas yang serupa dibangun di Palestina dan Babilonia. Mereka saling terkait erat. Komunitas ini menghasilkan para sarjana yang disebut sebagai tannaim, termasuk tokoh rabi semacam Rabi Yohannan sendiri, Rabi Akiva yang ahli mistik, dan Rabi Ishmael. Mereka mengompilasi mishnah, kodifikasi hukum lisan yang meng- aktualisasikan kembali hukum-hukum Musa. Selanjutnya, sekelompok sarjana baru yang dikenal sebagai amoraim, memulai penafsiran atas Mishnah dan menghasilkan risalah-risalah yang secara kolektif dikenal dengan nama Talmud. Bahkan ada dua Talmud yang telah dikompilasi, yakni Talmud Yerusalem, yang diselesaikan pada akhir abad keempat, dan Talmud Babilonia, yang dianggap lebih autoritatif dan baru selesai pada akhir abad kelima. Proses tersebut terus berlanjut dan setiap generasi sarjana mulai mengomentari Talmud dan tafsiran para pendahulu mereka. Perenungan hukum ini tidak sekering yang cenderung dibayangkan oleh orang luar. Ini merupakan meditasi tanpa akhir tentang Firman Tuhan, Bait Suci baru; setiap lapisan tafsir itu mewakili dinding-dinding dan takhta Kuil baru, mengabadikan kehadiran Tuhan di tengah-tengah umatnya.
Yahweh telah senantiasa menjadi Tuhan yang transenden, yang membimbing manusia dari atas dan tak terjangkau. Para rabi membuat dia hadir sangat dekat di dalam diri manusia dan dalam perincian terkecil kehidupan sehari-hari. Setelah kehilangan Kuil dan menjalani lagi pengalaman di pengasingan, orang Yahudi membutuhkan Tuhan di tengah-tengah mereka. Para rabi tidak mengonstruksikan doktrin formal tentang Tuhan. Sebaliknya, mereka mengalaminya sebagai kehadiran yang nyata. Spiritualitas mereka telah dideskripsikan se- bagai keadaan “mistisisme yang normal.”79 Dalam ayat-ayat Talmud yang paling awal, Tuhan dialami dalam fenomena fisik yang misterius. Para rabi berbicara mengenai Roh Kudus, yang telah berpikir tentang penciptaan dan pembangunan tempat suci, membuat kehadirannya dapat dirasakan dalam embusan angin atau kobaran api. Yang lain mendengarnya dalam dentangan lonceng atau suara ketukan yang keras. Suatu hari, contohnya, ketika Rabi Yohannan duduk berdiskusi tentang pengalaman Yehezkiel melihat kereta perang, sebuah nyala api turun dari langit dan malaikat-malaikat berdiri di dekatnya: sebuah suara dari langit mengonfirmasikan bahwa Rabi itu mempunyai suatu misi khusus dari Tuhan.80
Begitu kuatnya perasaan mereka tentang kehadiran sehingga tak ada doktrin formal dan objektif yang sesuai. Para rabi sering menyatakan bahwa di Gunung Sinai, setiap orang Israel yang berdiri di kaki bukit telah mengalami Tuhan dalam cara yang berbeda. Tuhan telah, sebagaimana mestinya, menyesuaikan dirinya kepada setiap orang “sesuai dengan derajat pemahaman mereka.”81 Seperti dinyatakan oleh seorang rabi: “Tuhan tidak datang kepada manusia dengan penuh paksaan, tetapi selaras dengan kekuatan pemahaman seorang manusia terhadapnya.”8 2 Pandangan rabinik yang sangat penting ini bermaksud bahwa Tuhan tidak dapat dijelaskan dalam suatu formula yang sama bagi semua orang; dia secara esensial merupaka n pengalama n subjektif. Masing-masing individu akan mengalami realitas “Tuhan” dalam cara berbeda demi memenuhi kebutuhan temperamental khas individu itu. Setiap nabi telah meng• alami Tuhan secara berbeda, demikian kata rabi itu, karena ke- pribadiannya berpengaruh terhadap konsepsinya tentang yang ilahi. Akan kita saksikan bahw a monoteis lain juga mengembangka n gagasan yang sangat mirip. Hingga saat ini, ide-ide teologis tentang Tuhan merupakan persoalan pribadi menurut pandangan Yudaisme dan tidak dipaksakan oleh siapa pun.
Setiap doktrin resmi akan membatasi misteri Tuhan yang esensial. Para rabi menunjukkan bahwa Tuhan sama sekali tidak bisa dipahami. Bahkan Musa juga tidak mampu menembus misteri Tuhan: setelah melalui pencarian yang panjang, Raja Daud mengakui bahwa adalah sia-sia untuk mencoba memahami Tuhan karena dia terlalu agung bagi pikiran manusia.83 Orang Yahudi bahkan dilarang mengucapkan namanya. Ini untuk mengingatkan bahwa apa pu n usaha untuk mengungkapkan Tuhan pasti tidak akan memadai: nama suci itu ditulis YHWH dan tidak dilafalkan dalam setiap pembacaan kitab suci. Kita bisa mengagumi perbuatan Tuhan di alam semesta, tetapi, sebagaimana dikatakan oleh Rabi Huna, ini hanya memberi kita gambaran yang sangat kecil tentang keseluruhan realitas: “Manusia tidak dapat mengerti makna petir, topan, badai, tatanan alam, hakikat dirinya sendiri; lantas bagaimana dia bisa membual mampu memahami Raja dari segala Raja?”84 Keseluruhan gagasan tentang Tuhan adalah untuk memotivasi lahirnya rasa tentang misteri dan ketakjuban hidup, bukan untuk meraih solusi yang sejati. Para rabi bahkan memper- ingatkan orang-orang Israel untuk tidak terlalu sering memuji Tuhan dalam doa mereka, karena ucapan mereka cenderung menjadi tidak sempurna.8 5
Bagaimana wujud transenden dan tak terpahami ini terkait dengan dunia? Para rabi mengekspresikan perasaan mereka tentang ini dalam sebuah paradoks: “Tuhan adalah tempat dunia, namun dunia bukanlah tempat Tuhan.”85 Tuhan meliputi dan mencakup dunia, tetapi dia tidak hidup di dalamnya sebagaimana halnya makhluk. Dalam gam• baran favorit mereka lainnya, dikatakan bahwa Tuhan mengisi dunia seperti jiwa memenuhi tubuh: dia menghidupi tetapi melampauinya. Mereka juga berkata bahwa Tuhan seperti penunggang kuda: ketika berada di atas kuda, penunggang bergantung pada binatang itu, tetapi dia lebih unggul daripada kuda dan memegang kontrol lewat tali kekang. Semua ini hanyalah gambaran dan, tak pelak, memang tidak sepadan. Semua ini hanyalah ungkapa n imajinatif tentang “sesuatu” yang agung dan tak terdefinisikan yang di dalamnya kita hidup dan bergerak dan mewujud. Ketika mereka berbicara tentang kehadiran Tuhan di bumi, mereka secara hati-hati—seperti halnya para penulis Alkitab—membedakan antara jejak-jejak kehadiran Tuhan yang dia izinkan untuk kita lihat dengan misteri ilahi yang lebih agung dan tidak bisa dijangkau. Mereka menyamakan gambaran “ke- muliaan” (kavod) YHWH dengan Roh Kudus, yang terus-menerus mengingatkan bahwa Tuhan yang kita alami tidak bersesuaian dengan esensi Realitas Suci itu sendiri.
Salah satu sinonim kata Tuhan yang mereka sukai adalah Shekinah, yang berasal dari bahasa Ibrani shakan, tinggal bersama atau me- negakkan kemah. Kini, tatkala Kuil telah runtuh, citra Tuhan yang telah menemani orang Israel dalam pengembaraan mereka memberi petunjuk tentang Tuhan yang bisa dijangkau.
Beberapa di antara mereka berkata bahwa Shekinah, yang selalu berada bersama umatnya di bumi, tetap bersemayam di Bukit Kuil, walaupun Kuil itu telah dihancurkan. Rabi yang lain berpendapat bahwa penghancuran Kuil telah membebaskan Shekinah dari Yerusalem dan memampukannya mengisi seluruh dunia.87 Seperti halnya “kemuliaan” tuhan atau Roh Kudus, Shekinah tidak dikonsepsikan sebagai wujud ilahi yang terpisah, tetapi sebagai kehadiran Tuhan di bumi. Para rabi melihat kembali sejarah umat mereka dan mendapatkan bahwa dia telah selalu menemani mereka:
            Datang dan lihatlah betapa dicintainya Israel di hadapan Tuhan, sebab ke mana pun mereka pergi Shekinah mengiringi mereka, seperti difirmankan: “Bukankah aku telah secara jelas menyingkapkan diriku kepada rumah orangtuamu ketika mereka berada di Mesir?” Di Babilonia, Shekinah bersama mereka, seperti difirmankan: “Demi engkau, aku [dfjkirim ke Babilonia." Dan ketika di masa depan Israel diselamatkan, Shekinah akan menyertai mereka saat itu, sebagaimana difirmankan: "Tuhanmu akan mengubah ketertawananmu." Artinya, Tuhan akan kembali bersamamu.88
            Hubungan antara Israel dengan Tuhannya begitu kuat sehingga tatkala dia menyelamatkan mereka di masa silam, orang Israel biasa mengatakan kepada Tuhan: "Engkau telah menyelamatkan dirimu sendiri."89 Dalam cara mereka yang khas Yahudi, para rabi mengem- bangkan rasa tentang Tuhan sebagai sesuatu yang diidentik dengan diri, yang oleh orang Hindu disebut Atman.
Gambaran tentang Shekinah telah membantu orang-orang yang terusir untuk menumbuhkan rasa kehadiran Tuhan di mana pun mereka berada. Para rabi berbicara tentang Shekinah yang berpindah dari satu sinagoga diaspora ke sinagoga lain; yang lain menyatakan Shekinah berdiri di depan pintu sinagoga, memberkati setiap langkah yang diambil oleh seorang Yahudi dalam perjalanannya menuju majelis ilmu. Shekinah juga berdiri di depan pintu sinagoga ketika orang Yahudi membacakan Shema bersama-sama di sana.90 Seperti halnya orang Kristen awal, orang Israel dianjurkan oleh rabi-rabi mereka untuk melihat diri mereka sebagai komunitas tunggal dengan "satu jiwa dan satu badan."91 Komunitas adalah Kuil baru, yang meng- abadikan imanensi Tuhan: maka ketika mereka memasuki sinagoga dan membacakan Shema dalam keterpaduan sempurna "dengan taat, dengan satu suara, satu pikiran, dan satu nada," Tuhan hadir di tengah-tengah mereka. Akan tetapi, dia tidak menyukai ketiadaan harmoni di dalam komunitas dan kembali ke langit tempat para malaikat menyenandungkan puja-puji "dalam satu suara dan satu melodi."92Persatuan yang lebih tinggi antara Tuhan dan Israel hanya mungkin terjadi ketika persatuan yang lebih rendah antarsesama Israel telah sempurna: para rabi tak henti-hentinya mengatakan kepada orang Israel bahwa ketika sekelompok orang Yahudi mempelajari Taurat bersama-sama, Shekinah akan bersemayam di tengah-tengah mereka.9 3
Di pengasingan, orang Yahudi merasakan kekerasan dunia di sekeliling mereka; rasa tentang kehadiran ini membantu mereka untuk mengimajinasikan bahwa mereka dikelilingi oleh berkah Tuhan. Ketika mereka mengikat jimat (tfillin) ke tangan dan kepala mereka, mengenakan jumbai ritual (tzitzii), dan memakukan mezuzah yang berisi kata-kata Shema di atas pintu mereka, sebagaimana digambar- kan dalam Kitab Ulangan, mereka tidak boleh mencoba menjelaskan praktik-praktik yang ganjil dan tak jelas ini. Usaha semacam itu akan mengurangi kandungan maknanya. Alih-alih, mereka harus mem- biarkan pelaksanaan mitzvot ini mendorong mereka masuk ke dalam kesadaran tentang limpahan kasih Ilahi: "Israel          dicintai! Alkitab melingkupinya dengan mitzvot: tfillin di kepala dan tangan, mezuzah di pintu, dan tzitzit di pakaian mereka."94 Tanda-tanda ini bagaikan mutiara yang dihadiahkan seorang raja kepada istrinya untuk me- nambah kecantikan sang istri di hadapannya. Ini tidaklah mudah. Talmud memperlihatkan bahwa sebagian orang mempertanyakan apakah Tuhan telah membuat banyak perbedaan di dalam dunia yang gelap ini.95 Spiritualitas para rabi menjadi normatif dalam Yudaisme, bukan hanya di kalangan mereka yang telah meninggalkan Yerusalem tetapi juga di kalangan orang Yahudi yang hidup di diaspora. Ini bukan karena ia didasarkan pada suatu pandangan teoretis: banyak praktik Taurat yang tidak memiliki alur logika. Agama para rabi itu diterima karena sifatnya yang praktis. Visi para rabi telah mencegah umat jatuh ke dalam keputusasaan.
Namun, jenis spiritualitas ini hanya ditujukan kepada kaum pria saja sebab kaum perempuan tidak dibutuhkan—dan karena itu tidak diizinkan—untuk menjadi rabi, mempelajari Taurat, atau berdoa di sinagoga. Agama Tuhan menjadi bersifat patriarkal seperti ke- banyakan ideologi lain pada zaman itu. Peran kaum perempuan terbatas hanya untuk menjaga kesucian ritual rumah mereka. Orang
Yahudi telah semenjak lama menyucikan penciptaan dengan cara memilah bagian-bagiannya yang beragam, dan dalam semangat ini kaum perempuan diturunkan ke suatu kawasan terpisah dari laki- laki, sebagaimana mereka memisahkan susu dari daging di dapur mereka. Secara praktis, ini berarti bahwa kaum perempuan dipandang inferior. Meskipun para rabi mengajarkan bahwa kaum perempuan diberkati Tuhan, tetapi kaum pria diperintahkan untuk bersyukur kepada Tuhan dalam doa pagi karena Tuhan tidak menciptakan mereka sebagai orang yang non-Yahudi, budak, atau perempuan. Walaupun demikian, perkawinan dipandang sebagai sebuah tugas sakral dan kehidupan keluarga dianggap sebagai sesuatu yang luhur. Para rabi menekankan kesuciannya melalui pengesahan yang sering disalahpahami. Jika hubungan seks dilarang selama menstruasi, ini bukan disebabkan oleh anggapan bahwa kaum perempuan itu kotor atau menjijikkan. Masa pantangan itu dirancang untuk mencegah kesewenangan kaum pria terhadap istrinya: "Karena seorang pria jadi sangat mengenal istrinya, dan kemudian ditolak olehnya, Taurat menyatakan bahwa kaum perempuan harus menjalani niddah [tidak melayani hubungan seks] selama tujuh hari [setelah menstruasi] agar dia menjadi dicintai oleh suaminya [setelah itu] seperti pada hari pernikahan.”96 Sebelum pergi ke sinagoga pada suatu hari perayaan, seorang pria diwajibkan melakukan mandi ritual, bukan karena dia kotor, melainkan demi menjadikan dirinya lebih suci dalam menjalan- kan pelayanan ilahi. Dalam semangat ini pula seorang perempuan diwajibkan mandi ritual setelah periode menstruasi, untuk memper- siapkan dirinya bagi kesucian tugas mendatang: hubunga n seks dengan suaminya. Gagasan bahwa seks mungkin merupakan sesuatu yang suci tidak dikenal di dalam Kristen, yang acap melihat seks dan Tuhan sebagai dua hal yang saling tidak bersesuaian. Benar bahwa orang Yahudi pada masa berikutnya sering memberikan inter- pretasi negatif terhadap ajaran-ajaran para rabi, tetapi rabi-rabi itu sendiri tidak mendakwahkan spiritualitas yang murung, asketik, dan menyangkal kehidupan.
            Sebaliknya, mereka mengajarkan bahwa orang Yahudi berkewa- jiban untuk memelihara kehidupan agar tetap baik dan menyenang- kan. Mereka sering menggambarkan Roh Kudus “meninggalkan” atau “mengabaikan” karakter biblikal, seperti Yakub, Daifd, atau Ester ketika mereka sedang sakit atau bersedih.9 7 Kadangkala mereka seakan-akan mendengar para nabi itu mengutip Mazmur 22 ketika mereka merasa Roh meninggalkan mereka: “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” Ini membangkitkan pertanyaan me- narik tentang seruan misterius Yesus dari tiang salib yang mengutip kata-kata ini. Para rabi mengajarkan bahwa Tuhan tidak bermaksud membuat kaum laki-laki atau perempuan menderita. Tubuh mesti dimuliakan dan dirawat, karena ia dibentuk dalam citra Tuhan: adalah berdosa menghindarkan kesenangan-kesenangan semacam anggur dan seks, sebab Tuhan telah menganugerahkan semua itu untuk kebahagiaan manusia. Tuhan tak dapat dijumpai dalam penderitaan dan asketisme. Ketika para rabi menyeru umatnya untuk mengamal- kan cara-cara praktis “memiliki” Roh Kudus, mereka sebenarnya dalam pengertian tertentu diminta untuk menciptakan citra mereka sendiri tentang Tuhan. Para rabi mengajarkan bahwa tidaklah mudah untuk menentukan tapal batas di mana perbuatan Tuhan berawal dan perbuatan manusia berakhir. Para nabi selalu berupaya agar Tuhan bisa dilihat di bumi dengan cara menisbahkan wawasan mereka sendiri kepadanya. Kini para rabi tampak terlibat dalam tugas yang bersifat manusiawi sekaligus bersifat ketuhanan. Tatkala mereka me- nyusun undang-undang baru, maka undang-undang itu akan merupa- kan perpadua n antara unsur ketuhanan dan unsur kemanusiaan. Dengan meningkatnya jumlah Taurat di dunia, para rabi memperluas kehadiran Tuhan di dunia dan menjadikannya lebih efektif. Mereka sendiri menjadi dihormati sebagai inkarnasi Taurat; mereka dianggap lebih “menyerupai Tuhan” dibandingkan dengan manusia lain karena penguasaan mereka atas Taurat.98
Rasa tentang kedekatan Tuhan seperti ini membantu orang Yahudi untuk melihat kemanusiaan sebagai sesuatu yang sakral. Rabi Akiva mengajarkan bahwa mitzvah “cintailah tetanggamu sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri” merupakan “prinsip agung Taurat.”99
Menyakiti sesama manusia merupakan pengingkaran terhadap Tuhan itu sendiri, yang telah menciptakan manusia dalam citranya. Ini setara dengan ateisme: upaya untuk mengingkari eksistensi Tuhan. Dengan demikian, pembunuhan merupakan dosa paling besar karena melang- gar norma-norma yang disucikan: “Kitab Suci mengajarkan kita bahwa apa pu n yang menumpahka n darah manusia dipandang sebagai penghapusan citra Tuhan.”100
Sebaliknya, mengabdi bagi kepentingan manusia lain termasuk ke dalam perbuatan meniru sifat Tuhan (imitatio dei): tindakan itu mewujudkan kembali kasih sayang dan rahmat Tuhan. Karena semua diciptakan dalam citra Tuhan, maka semuanya memiliki derajat yang sama: bahkan Imam Tertinggi sekalipun harus dihukum jika dia meluka i sesama manusia , karen a perbuata n itu sama denga n penyangkalan eksistensi Tuhan.101 Tuhan telah menciptakan adam, seorang manusia, untuk mengajarkan kepada kita bahwa siapa pun yang menghancurkan kehidupan seorang manusia akan dihukum seakan-akan dia telah membunuh seluruh umat manusia; sama halnya, siapa yang menyelamatkan kehidupan seseorang akan diberi pahala yang sama dengan menghidupkan semua umat manusia.102 Ini bukan sekadar sentimen yang lemah, tetapi merupakan prinsip hukum yang mendasar: artinya, tak seorang pun yang boleh dikurbankan demi kepentingan kelompok.
Menghinakan seseorang, bahkan seorang goyim atau budak, adalah perbuatan yang sangat ofensif, karena hal itu setara dengan pembunuhan, penyangkalan akan citra Tuhan yang suci.103 Hak untuk bebas kemudian menjadi sangat krusial: sulit menemukan satu alasan pun untuk menjatuhkan hukuman penjara di dalam semua literatur rabinik, karena hanya Tuhanlah yang berhak merampas kemerdekaan seorang manusia. Menyebarkan aib sese• orang dianggap sama dengan menyangkal eksistensi Tuhan.104 Orang Yahudi tidak mengandaikan Tuhan sebagai Big Brother yang terus mengamati gerak-gerik manusia dari suatu tempat; sebaliknya mereka menanamkan sebuah kesadaran bahwa Tuhan berada dalam diri setiap manusia sehingga hubungan dengan manusia lain menjadi pertemuan yang sarat dengan nilai-nilai kesucian.
Hewan-hewan tidak mengalami kesulitan untuk hidup dalam tabiat mereka, tetapi manusia merasakan sulitnya menjadi manusia yang utuh. Tuhan Israel kadang tampak seakan-akan telah mendorong terjadinya kekejaman yang paling tidak suci dan tidak manusiawi. Namun selama berabad-abad, Yahweh telah menjadi sebuah gagasan yang mungkin dapat membantu orang-orang menanamkan rasa kasih sayang dan saling menghormati terhadap sesama manusia, yang telah menjadi ciri agama-agama Zaman Kapak. Cita-cita para rabi sangat dekat dengan agama besar kedua, yang memang berakar dalam tradisi yang sama
Pada mulanya, manusia menciptakan satu Tuhan yang merupakan Penyebab Pertama bagi segala sesuatu dan Penguasa langit dan bumi. Dia tidak terwakili oleh gambaran apa pun dan tidak memiliki kuil atau pendeta yang mengabdi kepadanya. Dia terlalu luhur untuk ibadah manusia yang tak memadai. Perlahan- lahan dia memudar dari kesadaran umatnya. Dia telah menjadi begitu jauh sehingga mereka memutuskan bahwa mereka tidak lagi menginginkannya. Pada akhirnya dia dikatakan telah menghilang.
Begitulah, setidaknya, menurut satu teori, yang dipopulerkan oleh Wilhelm Schmidt dalam The Origin of the Idea of God, yang pertama kali terbit pada 1912. Schmidt menyatakan bahwa telah ada suatu monoteisme primitif sebelum manusia mulai menyemba h banyak dewa. Pada awalnya mereka mengakui hanya ada satu Tuhan Tertinggi, yang telah menciptakan dunia dan menata urusan manusia dari kejauhan. Kepercayaan terhadap satu Tuhan Tertinggi (kadang- kadan g disebut Tuhan Langit, karena dia diasosiasikan dengan ketinggian) masih terlihat dalam agama suku-suku pribumi Afrika. Mereka mengungkapka n kerinduan kepada Tuhan melalui doa; percaya bahwa dia mengawasi mereka dan akan menghukum setiap dosa. Namun demikian, dia anehnya tidak hadir dalam kehidupan keseharian mereka; tidak ada kultus khusus untuknya dan dia tidak pernah tampil dalam penggambaran.
Warga suku itu mengatakan bahwa dia tidak bisa diekspresikan dan tidak dapat dicemari oleh dunia manusia. Sebagian orang bahkan mengatakan dia telah “pergi”. Para antropolog berasumsi bahwa Tuhan ini telah menjadi begitu jauh dan mulia sehingga dia sebenarnya telah digantikan oleh ruh yang lebih rendah dan tuhan-tuhan yang lebih mudah dijangkau. Begitu pula, menurut teori Schmidt selanjutnya, di zaman kuno, Tuhan Tertinggi digantikan oleh tuhan-tuhan kuil pagan yang lebih menarik. Pada mulanya, dengan demikian, hanya ada satu Tuhan. Jika demi- kian, monoteisme merupakan salah satu ide tertua yang dikembang- kan manusia untuk menjelaskan misteri dan tragedi kehidupan. Ini juga menunjukkan beberapa masalah yang mungkin akan dihadapi oleh ketuhanan semacam itu.
Adalah mustahil untuk membuktikan hal ini dengan cara apa pun. Telah banyak teori tentang asal usul agama. Namun, tampaknya menciptakan tuhan-tuhan telah sejak lama dilakukan oleh umat manusia. Ketika satu ide keagamaan tidak lagi efektif, maka ia segera akan diganti. Ide-ide ini diam-diam sirna, seperti ide tentang Tuhan Langit, tanpa menimbulkan banyak kegaduhan . Dalam era kita sekarang ini, banyak orang akan mengatakan bahwa Tuhan yang telah disembah berabad-abad oleh umat Yahudi, Kristen, dan Islam telah menjadi sejauh Tuhan Langit. Sebagian lainnya bahkan dengan terang-terangan mengklaim bahwa Tuhan telah mati. Yang jelas dia tampak telah sirna dari kehidupan semakin banyak orang, terutama di Eropa Barat. Mereka berbicara tentang suatu “lubang yang pernah diisi oleh Tuhan” dalam kesadaran mereka karena, meski tampak tak relevan bagi sekelompok orang, dia telah memainkan peran krusial dalam sejarah kita dan merupakan salah satu gagasan terbesar umat manusia sepanjang masa. Untuk memahami apa yang telah hilang dari kita itu—jika memang dia telah hilang—kita perlu melihat apa yang dilakukan manusia ketika mereka mulai menyembah Tuhan ini, apa maknanya, dan bagaimana dia dipahami.
Untuk melakukan itu, kita perlu menelusuri kembali dunia kuno Timur Tengah, tempat gagasan tentang Tuhan kita secara perlahan tumbuh sekitar 14.000 tahun silam. Salah satu alasan mengapa agama tampak tidak relevan pada masa sekarang adalah karena banyak di antara kita tidak lagi memiliki rasa bahwa kita dikelilingi oleh yang gaib. Kultur ilmiah kita telah mendidik kita untuk memusatkan perhatian hanya kepada dunia fisik dan material yang hadir di hadapan kita. Metode menyelidiki dunia seperti ini memang telah membawa banyak hasil. Akan tetapi, salah satu akibatnya adalah kita, sebagaimana yang telah terjadi, kehilangan kepekaan tentang yang “spiritual” atau “suci” seperti yang melingkupi kehidupan masyarakat yang lebih tradisional pada setiap tingkatannya dan yang dahulunya merupakan bagian esensial pengalaman manusia tentang dunia. Di Kepulauan Laut Selatan, mereka menyebut kekuatan misterius ini sebagai mana; yang lain mengalaminya sebagai sebuah kehadiran atau ruh; kadang-kadang ia dirasakan sebagai sebuah kekuatan impersonal, seperti layaknya sebentuk radioaktivitas atau tenaga listrik. Kekuatan ini diyakini bersemayam dalam diri kepala suku, pepohonan, bebatuan, atau hewan-hewan. Orang Latin mengalami numina (ruh-ruh) dalam semak yang dianggap suci; orang Arab merasakan bahwa daratan dipenuhi oleh jin-jin. Secara alamiah, manusia ingin bersentuhan dengan realitas ini dan memanfaatkannya, tetapi mereka juga ingin sekadar me- ngaguminya. Ketika orang mulai mempersonalisasi kekuatan gaib dan menjadikannya sebagai tuhan-tuhan, mengasosiasikannya dengan angin, matahari, laut, dan bintang-bintang tetapi memiliki karakteristik manusia, mereka sebenarnya sedang mengekspresikan rasa kedekatan dengan yang gaib itu dan dengan dunia di sekeliling mereka.
Rudolf Otto, ahli sejarah agama berkebangsaan Jerman yang menulis buku penting The Idea of the Holy pada 1917, percaya bahwa rasa tentang gaib ini (numinous) adalah dasar dari agama. Perasaan itu mendahului setiap hasrat untuk menjelaskan asal usul dunia atau menemukan landasan bagi perilaku beretika. Kekuatan gaib dirasakan oleh manusia dalam cara yang berbeda-beda—terkadang ia mengins- pirasikan kegirangan liar dan memabukkan; terkadang ketenteraman mendalam, terkadang orang merasa kecut, kagum, dan hina di hadapan kehadiran kekuatan misterius yang melekat dalam setiap aspek kehidupan. Ketika manusia mulai membentuk mitos dan menyembah dewa-dewa, mereka tidak sedang mencari penafsiran harfiah atas fenomena alam. Kisaji-kisah simbolik, lukisan dan ukiran di gua adalah usaha untuk mengungkapkan kekaguman mereka dan untuk menghubungkan misteri yang luas ini dengan kehidupan mereka sendiri; bahkan sebenarnya para sastrawan, seniman, dan pemusik pada masa sekarang juga sering dipengaruhi oleh perasaan yang sama. Pada periode Paleolitik, misalnya, ketika pertanian mulai berkembang, kultus Dewi Ibu mengungkapkan perasaan bahwa kesuburan yang mentransformasi kehidupan manusia sebenarnya adalah sakral. Para seniman memahat patung-patung yang melukiskannya sebagai seorang perempuan hamil telanjang yang banyak ditemukan oleh para arkeolog tersebar di seluruh Eropa, Timur Tengah, dan India. Dewi Ibu itu tetap penting secara imajinatif selama berabad-abad. Seperti Tuhan Langit yang lama, dia kemudian masuk ke dalam kuil-kuil yang lama dan menempati posisi sejajar dengan dewa-dewa lain yang lebih tua. Dia dahulunya merupakan salah satu dewa terkuat, jelas lebih kuat daripada Dewa Langit, yang terus menjadi sosok yang remang-remang. Dia disebut Inana di Sumeria kuno, Isytar di Babilonia, Anat di Kanaan, Isis di Mesir, dan Aphrodite di Yunani. Kisah yang benar-benar mirip terdapat di semua kebudayaan ini untuk mengekspresikan peranannya di dalam kehidupa n spiritual manusia. Mitos-mitos ini tidak dimaksudkan untuk dipahami secara harfiah, tetapi merupakan upaya metaforis untuk meng- gambarkan sebuah realitas yang terlalu rumit dan pelik untuk bisa diekspresikan dengan cara lain. Kisah-kisah dramatis dan mem- bangkitkan emosi tentang dewa-dewi ini membantu manusia untuk menyuarakan perasaan mereka tentang kekuatan dahsyat, namun tak terlihat yang mengelilingi mereka.
Di dunia kuno memang tampaknya manusia percaya bahwa hanya melalui keterlibatan dalam kehidupan yang suci ini mereka bisa menjadi manusia yang sesungguhnya. Kehidupan duniawi amat rentan dan dihantui bayang-bayang kematian, tetapi jika manusia meneladani tindakan dewa-dewa maka mereka akan memiliki dalam kadar tertentu kekuatan dan keefektifan dewa-dewa itu. Dengan demikian, bisa dikatakan bahw a dewa-dew a itu telah memperlihatkan kepad a manusia bagaimana cara membangun kota-kota dan kuil-kuil mereka, yang merupakan salinan dari tempat mereka bersemayam di langit. Dunia suci para dewa—seperti yang sering diceritakan di dalam mitos—bukanlah sekadar sebuah ideal yang ke arah itu manusia harus menuju, tetapi merupakan prototipe eksistensi manusia; itulah pola atau arketipe orisinal yang menjadi model kehidupan kita di sini. Dengan demikian, segala sesuatu yang ada di bumi dipandang sebagai replika dari semua yang ada di dunia ilahiah. Inilah persepsi yang membentuk mitologi, organisasi ritual dan sosial kebanyakan kebudayan antik dan terus mempengaruhi lebih banyak masyarakat tradisional pada era kita sekarang ini. Di Iran kuno, misalnya, setiap orang atau objek di dunia jasadi (getik) diyakini mempunyai padanan- nya di dunia arketipal realitas suci (menok). Ini adalah perspektif yang sulit untu k kita apresiasi di dunia modern , karena kita memandang autonomi dan kebebasan sebagai nilai kemanusiaan yang tinggi. Namun demikian, ungkapan terkenal post coitum omne animal tristist est tetap mengungkapkan pengalaman yang sama: setelah suatu momen yang menegangkan dan dinanti-nanti dengan penuh harap, kita sering merasa kehilangan sesuatu yang lebih besar, namun senantiasa luput dari jangkauan- kita. Meniru tuhan masih menjadi ajaran agama yang penting: beristirahat pada hari Sabbath atau mencuci kaki pada hari Kamis Maundy—perbuatan-perbuatan yang tidak bermakna dalam dirinya sendiri—kini menjadi signifikan dan sakral karena orang-orang percaya bahwa perbuatan semacam itu pernah dikerjakan oleh Tuhan.
Spiritualitas yang serupa telah menjadi ciri dunia Mesopotamia kuno. Lembah Tigris-Eufrat, yang berada di wilayah pemerintahan Irak kini, telah dihuni sejak 4000 SM oleh kelompok manusia yang dikenal sebagai orang Sumeria. Mereka telah membangun salah satu kebudayaan oikumene (dunia berperadaban) terbesar pertama. Di kota-kota Ur, Erech, dan Kish, orang Sumeria mencipta aksara cunei• form mereka, membangun menara-kuil hebat yang disebut ziggurat, dan mengembangkan hukum, sastra, dan mitologi yang mengesan- kan. Tak lama berselang, kawasan itu diinvasi oleh orang Akkadian Semitik, yang kemudian mengadopsi bahasa dan peradaban Sumeria. Lalu, masih sekitar 2000 SM, orang Amorit menaklukkan peradaban Sumeria-Akkadian dan menjadikan Babilonia ibu kota mereka. Akhirnya, sekitar 500 tahun kemudian, orang Asyur bermukim di Asyur yang tak jauh dari situ lalu menguasai Babilonia pada abad kedelapan SM. Tradisi Babilonia ini juga mempengaruhi mitologi dan agama Kanaan, yang akan menjadi Tanah yang Dijanjikan bagi orang Israel kuno. Sebagaimana masyarakat di dunia kuno lainnya, orang Babilonia menisbahkan prestasi kebudayaan mereka kepada dewa-dewa yang telah mewahyukan gaya hidup mereka sendiri kepad a nene k moyan g mitikal masyarakat Babilonia. Denga n demikian, Babilonia dianggap sebagai gambaran surga, setiap candi- nya adalah replika kerajaan langit. Keterkaitan dengan alam suci ini dirayakan setiap tahun dalam Festival Tahun Baru yang meriah, yang telah secara kukuh dikembangkan pada abad ketujuh SM. Dirayakan di kota suci Babilonia selama bulan Nisan—atau April— Festival itu secara khidmat memahkotai raja dan menahbiska n kekuasaannya untuk tahun berikutnya.
Namun, stabilitas politik ini hanya bisa bertahan selama ia berpartisipasi di dalam pemerintahan dewa-dewa yang lebih abadi dan efektif, yang telah mengenyahkan kekacauan primordial ketika dunia pertama kali diciptakan. Dengan demikian, Festival sebelas hari suci itu mengantarkan para partisipan dari zaman yang profan ke alam para dewa yang sakral dan abadi melalui tindakan ritual. Seekor domba disembelih untuk meninggalkan tahun yang lama; penghinaan publik terhadap raja dan pemahkotaan raja yang zalim sebagai pengganti membangkitkan kembali kekacauan asal; pemberontakan menghidupkan kembali pertarungan dewa-dewa melawan kekuatan perusak.
Dengan demikian, perbuatan-perbuatan simbolik memiliki nilai sakramental; tindakan itu membuat orang Babilonia mampu meneng- gelamkan diri ke dalam kekuatan suci atau mana yang menjadi tempat bergantung peradaban besar mereka. Kebudayaan dirasakan sebagai sebuah pencapaian yang rentan, yang selalu bisa menjadi korban kekuatan yang mengacaukan dan memecah belah. Pada senja hari keempat Festival itu, para pendeta dan penyanyi paduan suara memenuhi bait suci untuk menyenandungkan Enuma Elish, puisi epik yang merayakan kemenangan para dewa atas kejahatan. Kisah ini bukanlah peristiwa faktual tentang asal usul fisik kehidupan di bumi, melainkan suatu upaya simbolik yang hati-hati untuk meng- ungkap sebuah misteri besar dan membebaskan kekuatan sucinya. Pengisahan harfiah tentang penciptaan adalah mustahil, sebab tidak ada orang yang hadir pada saat peristiwa-peristiwa yang tak ter- bayangkan itu terjadi: mitos dan simbol dengan demikian merupakan satu-satunya cara yang sesuai untuk menjelaskannya. Pandangan sekilas atas Enuma Elish memberi kita wawasan tentang spiritualitas yang melahirkan konsep kita tentang Tuhan Pencipta berabad-abad kemudian. Meskipun kisah biblikal dan Qurani tentang penciptaan akan mengambil bentuk yang sama sekali berbeda, mitos-mitos aneh ini tidak pernah benar-benar hilang, tetapi akan kembali masuk ke dalam sejarah Tuhan di kemudian hari, dikemas dalam sebuah idiom monoteistik.
Kisah dimulai dengan penciptaan dewa-dewa itu sendiri, sebuah tema yang—sebagaimana akan kita saksikan nanti—menjadi begitu penting dalam mistisisme Yahudi dan Muslim. Pada mulanya, seperti dituturkan dalam Enuma Elish, dewa-dewa muncul berpasangan dari sebuah substansi berair yang tidak berbentuk—sebuah substansi yang denga n sendirinya suci. Dalam mitos Babilonia—seperti yang kemudian tercantum dalam Alkitab—tak ada penciptaan yang bermula dari ketiadaan, itu sebuah gagasan yang asing bagi dunia kuno. Sebelum dewa-dewa maupun manusia ada, bahan mentah yang suci ini telah ada secara abadi. Ketika orang Babilonia mencoba mem- bayangkan zat primordial suci ini, mereka berpikir ia pasti mirip dengan tanah berpaya di Mesopotamia, yang tak henti-hentinya terancam banjir yang akan menyapu habis karya-karya manusia yang lemah. Oleh karena itu, dalam Enuma Elish, kekacauan {chaos) bukan berupa api panas yang mendidihkan, melainkan sebuah keadaan di mana segala sesuatu menjadi tanpa batas, definisi, dan identitas: Tatkala yang manis dan pahit menyatu, tak ada buluh yang terjalin, tak ada ketergesaan yang mengeruhkan air, dewa-dewa tak bernama, tak berwatak dan, tak bermasa depan.
Kemudian tiga dewa muncul dari pusat tanah berpaya; Apsu (diidentifikasikan sebagai air sungai yang manis), istrinya, Tiamat (laut yang asin), dan Mummu, Rahim kekacauan. Namun, ketiga dewa ini bisa dikatakan merupakan model awal dan inferior yang me- merlukan perbaikan. Nama “Apsu” dan “Tiamat” dapat diterjemahkan sebagai “jurang”, “kehampaan” atau “teluk tak berdasar”. Mereka sama-sama memiliki potensi tak berbentuk dari ketiadaan bentuk yang azali dan belum mencapai suatu identitas yang jelas.
Selanjutnya, serangkaian dewa-dewa lain muncul dari mereka dalam proses yang disebut sebagai emanasi, yang akan menjadi sangat penting dalam sejarah Tuhan kita sendiri. Dewa-dewa baru dilahirkan dari dewa-dewa yang lain secara berpasangan, masing- masingnya mendapatkan definisi yang lebih besar dari yang sebelumnya seiring langkah maju evolusi keilahian. Pertama-tama datang Lahmu dan Lahamn (nama-nama mereka berarti “endapan lumpur”; air dan tanah masih bercampur menjadi satu). Kemudian muncul Ansher dan Kishar yang secara berurutan diidentifikasi dengan horizon langit dan laut. Setelah itu Anu (langit) dan Ea (bumi) tiba dan rae- nyempurnakan proses itu. Alam suci mempunyai langit, sungai-sungai, dan bumi yang berbeda dan terpisah satu sama lain. Namun, pen• ciptaan baru saja dimulai; kekuatan jahat dan pemecah belah hanya bisa dikalahkan melalui perjuangan sengit dan tanpa henti.
Dewa- dewa yang lebih muda dan dinamis bangkit melawan tetua mereka, tetapi meskipun Ea mampu mengalahkan Apsu dan Mummu, dia tak berdaya menghadapi Tiamat, yang menghasilkan serombonga n monster beraneka ragam bentuk untuk berperang atas namanya. Untungnya Ea punya anak kandung yang luar biasa: Marduk, Dewa Matahari, spesimen keturunan dewa yang paling sempurna. Dalam sebuah pertemuan Majelis Agung para dewa, Marduk berjanji me- merangi Tiamat dengan syarat bahwa dialah yang nanti menjadi penguasa mereka. Akan tetapi, dia baru berhasil membunuh Tiamat dengan bersusah payah dan setelah melewati pertarungan yang lama dan berbahaya. Dalam mitos ini, kreativitas adalah sebuah pertarungan, diraih denga n susah payah setelah menempu h berbagai macam rintangan.
Bagaimanapun, pada akhirnya, Marduk berhasil mengangkangi mayat Tiamat yang raksasa dan memutuskan untuk menciptakan sebuah dunia baru; dia membelah tubuh Tiamat menjadi dua untuk membentuk lengkungan langit dan bumi manusia; kemudian dia merancang undang-undang yang akan menjaga agar segala sesuatu tetap berada pada posisinya yang telah ditentukan. Ketertiban mesti dicapai, tetapi kemenangan belum lagi sempurna. Kemenangan itu mesti dimantapkan kembali, melalui liturgi khusus, tahun demi tahun. Kemudian para dewa berkumpul di Babilonia, pusat bumi baru, dan mendirikan sebuah kuil tempat ritus-ritus langit diselenggarakan. Hasilnya adalah ziggurat besar untuk menghormati Marduk,
“kuil bumi, simbol ketakterbatasan langit.”
Tatkala kuil itu telah selesai, Marduk menempati singgasananya di puncak kuil dan dewa-dewa menggemakan suara:
“Inilah Babilonia, kota kesayangan para dewa, tanah airmu yang tercinta!”
Kemudian mereka melakukan liturgi
“dari sumber di mana semesta memperoleh strukturnya, dunia gaib menjadi nyata dan dewa-dewa mengambil tempat mereka di dalam semesta.”
Hukum dan ritual ini mengikat setiap orang; bahkan para dewa mesti menaatinya demi menjamin keberlangsungan ciptaan. Mitos mengekspresikan makna batin peradaban, sebagaimana orang Babilonia melihatnya. Mereka mengetahui betul bahwa nenek moyang mereka sendiri yang membangun ziggurat, tetapi kisah Enuma Elish menyuarakan kepercayaan mereka bahwa usaha kreatif mereka hanya mungkin bertahan jika memiliki keterkaitan dengan kekuatan ilahi. Liturgi yang mereka rayakan di Tahun Baru telah diciptakan sebelum manusia ada: liturgi itu tersurat dalam hakikat segala sesuatu, yang bahkan dewa-dewa tunduk kepadanya. Mitos itu juga mengekspresikan keyakinan mereka bahwa Babilonia adalah tempat suci, pusat dunia, dan tanah air dewata—sebuah pernyataan yang penting dalam hampir semua sistem keagamaan kuno. Ide tentang kota suci, tempat manusia merasakan kedekatan dengan kekuatan sakral, sumber segala wujud dan kesaktian, menjadi penting dalam ketiga agama monoteistik.
Akhirnya, hampir seperti sebuah kebetulan saja, Marduk rnenciptakan manusia. Marduk mengalahkan Kingu (teman dungu Tiamat yang diciptakannya setelah kekalahan Apsu), menebasnya, dan membentuk manusia pertama dengan cara mencampur darah dewa dengan abu. Para dewa menyaksikan dengan perasaan kaget dan takjub. Ada yang sedikit lucu dalam kisah mitikal tentang asal usul manusia ini; meski merupakan puncak penciptaan, tetapi manusia digambarkan berasal dari salah satu dewa yang paling bodoh dan tidak sakti. Akan tetapi, kisah itu mengandung satu hal penting lain. Manusia pertama diciptakan dari substansi seorang dewa; karenanya dia memiliki hakikat ilahiah, sekalipun terbatas. Tak ada jurang pemisah antara manusia dan dewa-dewa. Dunia alamiah, manusia, dan para dewa semuanya memiliki hakikat yang sama dan diturunkan dari substansi suci yang sama pula. Pandangan pagan bersifat holistik. Dewa-dewa tidaklah terasing dari umat manusia dalam kawasan ont o logis yang terpisah: ketuhanan secara esensial tidak berbeda dari kemanusiaan. Oleh karena itu, tidak diperlukan sebuah wahyu khusus dari para dewa atau undang-undang ilahi untuk diturunkan ke bumi. Dewa-dewa dan manusia berbagi penderitaan yang sama, satu-satu- nya perbedaan di antara mereka adalah bahwa dewa-dewa itu lebih kuat dan abadi.
Visi holistik ini tidak terbatas di Timur Tengah, tetapi lazim di seluruh dunia kuno. Pada abad keenam SM, Pindar mengungkapkan versi Yunani tentang keyakinan ini dalam odenya mengenai per- tandingan Olimpiade:
Satu pertarungan, satu antara manusia dan dewa-dewa;
Dari satu ibu kita berdua menarik napas.
Tetapi perbedaan kekuatan dalam segalanya Memisahkan kita;
Karena tanpa yang lain kita tiada, kecuali langit yang perkasa
Tetap tidak berubah untuk selamanya.
Namun dalam keagungan pikiran atau jasad
Kita bisa menjadi seperti yang Abadi.
Bukannya memandang para atlet sebagaimana adanya, yang masing-masing berpacu mencapai prestasi pribadi terbaiknya, Pindar menempatkan mereka berhadap-hadapan dengan dewa-dewa, yang menjadi pola bagi semua cita-cita manusia. Manusia meniru dewa- dewa bukan sebagai wujud yang tak berdaya, melainkan untuk me- menuhi potensi mereka yang secara esensial berwatak ilahiah.
Mitos Marduk dan Tiamat tampaknya telah mempengaruhi orang Kanaan, yang memiliki kisah yang amat mirip tentang Baal-Habad, dewa badai dan kesuburan, yang sering disebut dalam Alkitab dengan cara yang jauh dari memuji. Kisah pertarungan Baal dengan Yam- Nahar, dewa laut dan sungai, diceritakan dalam lembaran yang ditulis sekitar abad keempat belas SM. Baal dan Yam keduanya tinggal bersama El, Dewa Tertinggi Kanaan. Pada Majelis El, Yam menuntut agar Baal diserahkan kepadanya. Dengan menggunakan dua senjata magis, Baal malah mengalahkan Yam dan nyaris membunuhnya andaikata Asyera (istri El dan ibu para dewa) tidak memohon dengan mengatakan bahwa membunuh lawan yang sudah tidak berdaya adalah tidak terhormat. Baal merasa malu dan melepaskan Yam, yang mewakili keganasan laut clan sungai yang tak henti-hentinya mengancam akan membanjiri bumi. Sedangkan Baal, dewa badai, membuat bumi menjadi subur.
Versi lain dari mitos itu menyebutkan bahwa Baal membunuh Lotan, naga berkepala-tujuh, yang dalam bahasa Ibrani disebut Leviathan. Dalam hampir semua kebudayaan, naga menyimbolkan sesuatu yang laten, tak berbentuk, dan tak kentara. Dengan demikian, Baal telah menghentikan kemungkinan untuk kembali ke dalam ketiadaan bentuk primal lewat tindakan yang betul-betul kreatif dan dianugerahi sebuah istana indah yang didirikan oleh para dewa untuk menghormatinya. Oleh karena itu, dalam setiap agama kuno, kreativi- tas dipandang suci: kita masih menggunakan bahasa agama untuk berbicara tentang “inspirasi” kreatif yang memperbarui realitas dan menyegarkan pemaknaan tentang dunia.
Akan tetapi, Baal kemudian mengalami kemunduran: dia mati dan harus turun ke alam Mot, dewa kematian dan sterilitas.
Tatkala mendengar tentang nasib anaknya, Dewa Tertinggi El turun dari singgasananya, membalut Baal dan merajah pipinya, namun tetap tidak bisa menebus putranya. Adalah Anat, kekasih dan saudara pe- rempuan Baal, yang meninggalkan alam suci dan pergi mencari be- lahan jiwanya,
“merindukannya bagaikan induk sapi atau induk domba mencari anaknya.”
Ketika dia menemukan mayat Baal, dia menyelenggarakan upacara pemakaman untuk mengagungkannya, menangkap Mot, menebasnya dengan pedang, membelah, membakar, dan menginjak-injaknya seperti jagung sebelum kemudian menyemaikan- nya ke tanah.
Kisah yang mirip juga diceritakan tentang dewi agung lainnya— Inana, Isytar, dan Isis—-yang mencari mayat dewa dan membawa kehidupan baru ke atas bumi. Akan tetapi, kemenangan Anat harus diperbarui dan tahun ke tahun melalui upacara ritual. Belakangan— kita tak tahu entah dengan cara bagaimana, sebab pengetahuan kita tidak lengkap—Baal hidup lagi dan kembali ke pangkuan Anat. Pemujaan akan keutuhan dan harmoni, yang disimbolisasikan oleh kesatuan seks, dirayakan melalui seks ritual di kalangan masyarakat Kanaan kuno. Dengan meniru para dewa melalui cara ini, umat manusia ikut berjuang melawan sterilitas dan memastikan kreativitas serta kesuburan dunia. Kematian seorang dewa, pencarian sang dewi, dan keberhasilan untuk kembali ke alam suci merupakan tema-tema keagamaan yang konstan dalam banyak budaya dan akan muncul kembali dalam agama-agama dengan Satu Tuhan yang disembah oleh umat Yahudi, Kristen, dan Islam.
Agama ini di dalam Alkitab dinisbahkan kepada Abraham (Nabi Ibrahim), yang meninggalkan Ur dan akhirnya menetap di Kanaan pada suatu masa antara abad kedua puluh dan kesembilan belas SM. Kita tak memiliki riwayat kontemporer tentang Abraham, tetapi para peneliti menduga bahwa Abraham mungkin sekali merupakan salah seorang pemimpin kafilah pengembara yang membawa rakyatnya dari Mesopotamia menuju Laut Tengah pada akhir milenium ketiga SM. Para pengembara ini—sebagian dari mereka disebut Abiru, Apiru, dan Habiru dalam sumber-sumber Mesopotamia dan Mesir—berbicara dalam bahasa Semitik Barat, yang mana bahasa Ibrani adalah salah satunya.
Mereka bukanlah kaum nomad padang pasir yang reguler sebagaimana orang Badui yang berimigrasi bersama ternak-ternak mereka sesuai pergantian musim. Mereka lebih sulit diklasifikasikan dan sering terlibat konflik dengan autoritas-autoritas konservatif. Status kultural mereka biasanya lebih tinggi dibanding penduduk padang pasir itu. Sebagian bekerja sebagai tentara bayaran, pegawai pemerin- tah, ada yang menjadi pedagang, pelayan, atau tukang besi. Sebagian di antara mereka menjadi kaya raya dan kemudian berupaya mem- punyai tanah dan bermukim menetap. Kisah-kisah tentang Abraham di dalam kitab Kejadian menceritakan bahwa dia bekerja pada Raja Sodom sebagai prajurit bayaran dan bahwa dia sering berkonflik dengan autoritas Kanaan dan daerah sekitarnya. Pada akhirnya, ketika istrinya, Sara, meninggal, Abraham membeli tanah di Hebron, yang sekarang terletak di Tepi Barat.
Kisah dalam kitab Kejadian tentang Abraham dan anak keturunannya mengindikasikan adanya tiga gelombang kedatangan orang Ibrani di Kanaan, kawasan Israel pada era modern. Salah satunya terkait denga n Abraham dan Hebron , terjadi sekitar 1850 SM. Gelombang kedua berkaitan dengan cucu Abraham, Yakub, yang diganti namanya menjadi Israel (“Semoga Tuhan menunjukkan kekuasaannya”); dia menetap di Sikhem, yang sekarang menjadi kota Arab Nablus di Tepi Barat. Alkitab menceritakan kepada kita bahwa putra Yakub, yang menjadi leluhur dua belas suku keturunan Israel, beremigrasi ke Mesir selama musim paceklik yang hebat di Kanaan. Gelombang ketiga pemukiman Ibrani terjadi sekitar 1200 SM ketika suku-suku yang mengaku keturunan Abraham tiba di Kanaan dari Mesir. Mereka mengatakan bahwa mereka telah dijadikan budak oleh orang Mesir, tetapi dimerdekakan oleh suatu ilah bernama Yahweh, yang juga merupakan tuhan pemimpin mereka, Musa. Setelah mendesak masuk ke Kanaan, mereka beraliansi dengan orang Ibrani yang ada di sana dan kemudian disebut sebagai orang Israel. Alkitab membuat jelas bahwa orang-orang yang kita kenal sebagai bangsa Israel kuno merupakan konfederasi berbagai kelompok etnis, yang secara mendasar disatukan oleh kesetiaan mereka kepad a Yahweh, Tuhan Musa. Akan tetapi, kisah biblikal itu ditulis beberapa abad setelahnya, sekitar abad kedelapan SM, meskipun jelas disandar- kan pada sumber-sumber narasi yang lebih awal.
Dalam abad kesembilan,-beberapa sarjana biblikal Jerman mengembangkan metode kritis yang menguraikan empat sumber berbed a dalam lima kitab pertama Alkitab: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan. Ini kemudian dikumpulkan menjadi sebuah naskah akhir yang kita kenal sebagai Lima Kitab Musa (Pentateukh) pada abad kelima SM. Bentuk kritisisme semacam ini telah mendapat banyak perlakuan keras, namun tak ada seorang pun yang mampu menciptakan teori yang lebih memuaskan untuk menjelaskan mengapa terdapat kisah yang cukup berbeda tentang peristiwa-peristiwa biblikal penting, seperti Penciptaan dan Air Bah, dan mengapa kadangkala Alkitab mengandung pertentangan dalam dirinya sendiri.
Dua penulis biblikal paling awal, yang karyanya dapat ditemukan dalam kitab Kejadian dan Keluaran, kemungkinan menulis pada abad kedelapan SM, walaupun ada yang menyebut kemungkinan penulisan di masa yang lebih awal. Salah satunya dikenal sebagai “J” karena dia menyebut nama Tuhannya dengan “Yahweh”, yang lainnya disebut “E” karena dia lebih suka meng- gunakan nama ketuhanan yang lebih formal, “Elohim”. Pada abad kedelapan, orang Israel telah membagi Kanaan menjadi wilayah dalam dua kerajaan terpisah. J menulis di Kerajaan Yehuda di sebelah selatan, sementara E berasal dari Kerajaan Israel di sebelah utara
.
Kita akan mendiskusikan dua sumber lain Lima Kitab Musa—tradisi Deuteronomis (D) dan Para Imam (P) tentang sejarah Israel kuno—pada Bab 2. Kita aka n melihat bahw a dalam banyak hal, baik J da n E mempunyai perspektif keagamaan yang mirip denga n tetangga mereka di Timur Tengah, tetapi kisah-kisah mereka memang mem- perlihatkan bahwa pada abad kedelapan SM, orang Israel mulai mengembangkan visi mereka sendiri yang khas. J, misalnya, memulai sejarah Tuhannya dengan kisah tentang penciptaan dunia, yang, jika dibandingkan dengan Enuma Elish, sangat tidak antusias:
Ketika TUHAN [Yahweh] Allah menjadikan bumi dan langit—belum ada semak apa pun di bumi, belum timbul tumbuh-tumbuhan apa pun di padang, sebab TUHAN Allah belum menurunkan hujan ke bumi, dan belum ada orang untuk mengusahakan tanah itu; tetapi, ada kabut naik ke atas dari bumi dan membasahi seluruh permukaan bumi itu—ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia (adam) itu dari debu tanah (adamah) dan mengembuskan napas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.
Ini benar-benar merupakan titik berangkat yang baru. Alih-alih berkonsentrasi kepada penciptaan dunia dan pada periode prasejarah sebagaimana kaum pagan sezamannya di Mesopotamia dan Kanaan, J lebih tertarik pada periode historis yang biasa. Tak terdapat keter- tarikan yang sungguh-sungguh tentang penciptaan di Israel hingga abad keenam SM ketika pengarang yang kita sebut “P” menuliskan kisahnya yang hebat dalam apa yang sekarang merupakan bab pertama kitab Kejadian. J tidak secara mutlak yakin bahwa Yahweh adalah satu-satunya pencipta langit dan bumi. Namun, yang paling mencolok adalah persepsi J tentang perbedaan nyata antara manusia dengan tuhan. Bukannya tersusun dari zat suci yang sama dengan tuhannya, manusia (adam), bagai sebuah permainan kata, adalah bagiah dari tanah (adamah).
Tidak seperti tetangga pagannya, J tidak mengesampingkan sejarah duniawi sebagai sejarah yang profan, lemah, dan tak sub- stansial dibandingkan sejarah dewa-dewa yang suci dan primordial. Dia bergegas melewati peristiwa-peristiwa prasejarah hingga tiba di penghujung periode mitis, yang mencakup kisah-kisah seperti Air Bah dan Menara Babel, kemudian tiba di permulaan sejarah Israel. Ini secara mendadak diawali pada bab kedua belas tatkala manusia Abram, yang kemudian diberi nama baru Abraham (“bapa sejumlah besar bangsa”), diperintahkan oleh Yahweh meninggalkan keluarga- nya di Haran, yang kini menjadi wilayah timur Turki, dan bermigrasi ke Kanaan dekat Laut Tengah. Kita diberi tahu bahwa ayahnya, Terah, seorang pagan, sudah lebih dahulu bermigrasi ke arah barat dari Ur bersama keluarganya. Kini Yahweh mengatakan kepad a Abraham bahwa dia memiliki takdir istimewa: dia akan menjadi bapak sebuah bangsa besar yang suatu hari akan berjumlah lebih banyak daripada bintang-bintang di langit, dan suatu ketika anak keturunannya akan menguasai tanah Kanaan sebagai milik mereka. Kisah J tentang panggilan bagi Abraham ini menetapkan nada awal bagi sejarah Tuhan ini di masa depan. Di Timur Tengah kuno, mana yang suci dialami dalam ritual dan mitos. Marduk, Baal, dan Anat tidak diharap- kan terlibat dalam kehidupan awam yang profan dari para penyem- bahnya: tindakan-tindakan mereka telah berlangsung dalam waktu yang sakral. Akan tetapi, kekuasaan Tuhan Israel bekerja secara langsung dalam peristiwa-peristiwa di dunia nyata. Dia dialami sebagai sesuatu yang ada di sini dan pada saat ini. Wahyu pertamanya berisi- kan sebuah titah: Abraham harus meninggalkan negerinya dan pergi ke Kanaan.
Pada abad kedelapan SM, ketika J dan E menuliskan kronik mereka, perubahan kondisi sosial dan ekonomi di Anak Benua India sedang menjadikan Weda tidak lagi relevan. Gagasan para penduduk asli, yang telah tertindas selama beberapa abad setelah invasi orang Aria, kembali muncul ke permukaan dan membawa pada kehausan baru akan agama. Bangkitnya perhatian terhadap karma, paham bahwa nasib seseorang ditentukan oleh perbuatannya sendiri, mem- buat orang-orang tidak mau menyalahkan para dewa atas perilaku manusia yang tidak bertanggung jawab. Semakin kuat kecenderungan untuk memandang para dewa sebagai simbol ketunggalan Realitas transenden. Ajaran Weda sarat dengan ritual pengurbanan, namun bangkitnya ketertarikan kepada praktik India kuno “Yoga” (“penge- kangan” daya pikir melalui disiplin konsentrasi khusus) bermakna bahwa orang-orang menjadi tidak puas terhadap suatu agama yang hanya memusatkan perhatian kepada aspek-aspek ekgternal. Pe• ngurbanan dan liturgi tidaklah memadai: mereka ingin menemukan makna batin ritus-ritus ini. Kita akan melihat bahwa nabi-nabi Israel merasakan ketidakpuasan yang sama. Di India, dewa-dewa tidak lagi dipandang sebagai wujud lain yang berada di luar para penyem- bahnya; justru manusia yang berusaha memperoleh realisasi kebenaran batiniah.
Dewa-dewa tidak lagi penting di India. Selanjutnya mereka digantikan oleh pemuka agama, yang akan dipandang lebih tinggi daripada para dewa. Ini merupakan penegasan kuat tentang nilai kemanusiaan dan keinginan untuk mengendalikan nasib: ini akan menjadi pandangan keagamaan terbesar di anak benua itu. Agama baru Hinduisme dan Buddhisme tidak menyangkal eksistensi para dewa, atau melarang orang untuk menyembahnya. Dalam pandangan mereka, hambatan dan penyangkalan semacam itu akan merusak. Sebagai gantinya, orang Hindu dan Buddha mencari cara baru untuk mentransendensikan para dewa, untuk melampaui mereka. Selama abad kedelapan, para pemuka agama mulai mengetengahkan isu- isu ini dalam risalah yang disebut Aranyakas dan Upanishads, yang secara kolektif dikenal sebagai Vedanta-. penutup Weda. Upanishads terus-menerus muncul sehingga pada akhir abad kelima SM, telah terkumpul sebanyak dua ratus buah. Tidak mungkin melakukan generalisasi terhadap agama yang kita sebut Hinduisme karena ia mengelak dari sistem dan menolak kemungkinan bahwa satu tafsiran eksklusif bisa dianggap memadai. Namun, Upanishads telah mengem- bangkan sebuah konsepsi ketuhanan khas yang melampaui dewa- dewa tetapi hadir secara begitu dekat di dalam segala sesuatu.
Dalam ajaran Weda, orang mengalami kekuatan suci dalam ritual pengurbanan. Mereka menyebut kekuatan suci ini Brahman. Kasta para rahib (disebut dengan istilah Brahmana) juga diyakini mempunyai kekuatan ini. Karena ritual pengurbanan dipandang sebagai mikro- kosmos alam semesta, Brahman lambat laun diartikan sebagai sebuah kekuatan yang menyangga segala sesuatu. Seluruh dunia dipandang sebagai aktivitas ilahi yang menyeruak dari wujud misterius Brahman, yang merupakan makna batin seluruh eksistensi. Upanishads men- dorong orang untuk menumbuhkan rasa kehadiran Brahman di dalam segala sesuatu. Ini adalah proses pewahyuan dalam makna harfiahnya: pengungkapan dasar tersembunyi dari seluruh wujud. Segala sesuatu yang terjadi merupakan manifestasi Brahman: pandangan yang benar terletak dalam persepsi kesatuan di balik fenomena yang berbeda. Sebagian Upanishads melihat Brahman sebagai kekuatan pribadi, tetapi sebagian lain melihatnya betul-betul impersonal. Brahman tidak dapat dipanggil dengan kata “engkau”; ini adalah istilah yang netral, bukan laki-laki atau perempuan, bukan pula dia dialami sebagai kehenda k ilah yang berdaulat. Brahman tidak berbicara kepada manusia. Dia tak dapat bertemu dengan lelaki atau perempuan; dia berada di atas segala aktivitas manusia. Dia juga tidak menanggapi kita dengan secara personal; dosa tidak membuatnya “marah”, dan dia tidak dapat dikatakan “mencintai” atau “membenci” kita. Ber- syukur atau memujinya karena telah menciptakan dunia sama sekali tidak tepat.
Kekuatan ilahiah ini akan betul-betul terasing dari kita seandainya tidak ada fakta bahwa ia melingkupi, menyokong, dan mengilhami kita. Teknik-teknik Yoga telah membuat orang sadar tentang dunia batin. Disiplin pengaturan postur, cara bernapas, makanan, dan kon- sentrasi mental ini juga telah berkembang secara mandiri dalam kebudayaan lain, seperti akan kita lihat nanti, dan tampaknya meng- hasilkan pencerahan serta iluminasi yang telah ditafsirkan secara berbeda-beda, namun alamiah bagi kemanusiaan. Upanishads meng- klaim bahwa pengalaman mengenai dimensi baru dari diri ini merupa• kan kekuatan suci yang sama dengan yang melingkupi seluruh alam. Prinsip abadi yang ada dalam setiap individu disebut Atman: ini merupakan versi baru visi holistik paganisme kuno, penemuan kem- bali dalam terma baru Satu Kehidupan yang ada di dalam dan di luar diri kita yang pada dasarnya bersifat sakral. Chandogya Upanishads menjelaskan hal ini melalui analogi tentang garam. Seorang pemuda bernama Sretaketu telah mempelajari Weda selama dua belas tahun dan merasa telah cukup menguasainya. Ayahnya, Uddalaka, mengaju- kan sebuah pertanyaan yang tak bisa dijawabnya. Kemudian ayahnya mengajarkan tentang kebenaran fundamental yang sama sekali belum diketahuinya. Dia memerintahkan anaknya untuk meletakkan sepo- tong garam di dalam air dan melaporkan hasilnya pada pagi hari berikutnya. Ketika sang ayah memintanya untuk mengambil garam itu, Sretaketu tidak dapat menemukannya karena garam itu telah larut semuanya. Uddalaka mulai bertanya:
“Maukah engkau mencicipi bagian ini? Seperti apa rasanya?” katanya.
“Garam.”
“Cicipilah bagian tengahnya. Seperti apa?”
“Garam.”
“Cicipilah bagian ujungnya. Seperti apa?”
“Garam.”
“Buanglah itu dan mendekatlah kepadaku.” Sretaketu melakukan apa yang diperintahkan, namun [itu tidak membuat garam] menjadi berubah. [Ayahnya berkata]: “Anakku, memang benar bahwa engkau tidak bisamelihat Wujud ada di sini, namun wujud itu benar-benar ada di sini. Esensi pertama ini—dimiliki alam semesta sebagai Dirinya: Itulah yang Nyata: Itulah Diri: itulah engkau, Sretaketu!” Jadi, meskipun kita tidak dapat melihatnya, Brahman melingkupi dunia dan, sebagaimana Atman, abadi dalam diri setiap kita.
Atman mencegah pemberhalaan Tuhan, menjadi Realitas eksterior “di luar sana”, proyeksi ketakutan dan keinginan kita sendiri. Dalam Hinduisme, Tuhan tidak dilihat sebagai sebuah Wujud yang ditambah- kan ke dunia seperti yang kita ketahui, karena itu tidak pula identik dengan dunia. Tak bisa kita memahami ini melalui akal semata. Pemahama n ini “diwahyukan” kepad a kita melalui pengalaman (anubhara) yang tidak dapat diungkapkan dalam kata-kata atau konsep. Brahman adalah “Apa yang tidak bisa diucapkan dalam kata-kata, tetapi sesuatu yang dengannya kata-kata diucapkan Apa yang tak bisa dipikirkan oleh akal, tetapi sesuatu yang dengannya akal berpikir.” Mustahil untuk berbicara kepada Tuha n yang semelekat ini atau berpikir mengenai dia, menjadikannya objek pikiran semata. la adalah Realitas yang hanya bisa dicerna dalam puncak perasaan orisinal yang melampaui kesadaran diri: Tuhan datang kepada pikiran orang-orang yang mengenai Dia melampaui pikiran, bukan kepada mereka yang membayangkan Dia bisa diraih oleh pikiran. Dia tidak dikenal oleh kaum cendekia dan dikenal oleh orang sederhana. Dia dikenal di dalam puncak keterjagaan yang membukakan pintu kehidupan abadi.
Sebagaimana terhadap dewa-dewa, nalar tidak disangkal tetapi dilampaui. Pengalaman tentang Brahman atau Atman tidak dapat dijelaskan secara rasional, seperti halnya sepenggal musik atau syair. Akal mutlak diperlukan untuk menciptakan karya seni semacam itu dan mengapresiasinya, tetapi ia menawarkan sebuah pengalaman yang melampaui daya otak atau akal murni. Ini juga akan menjadi tema konstan dalam sejarah Tuhan.
Cita-cita transendensi personal juga bersemayam di dalam diri Yogi, orang yang meninggalkan keluarganya dan melepaskan diri dari keterkaitan dan tanggung jawab sosial demi mencari pencerahan, meletakkan dirinya di dalam realitas wujud yang lain. Sekitar 538 SM, seorang pemuda bernama Siddharta Gautama juga meninggalkan istrinya yang cantik, putranya, rumahnya yang mewah di Kapilawastu, kira-kira 100 mil ke arah utara Benares, dan menjadi seorang petapa sederhana. Dia terhenyak melihat penderitaan manusia dan bermaksud menemukan rahasia untuk mengakhiri nestapa yang dilihatnya ada dalam segala sesuatu di sekelilingnya. Selama enam tahun, dia duduk di kaki para guru spiritual Hindu dan menjalani tirakat penyangkalan diri yang berat, tetapi tidak banyak membuat kemajuan. Ajaran para guru itu tidak menarik hatinya, dan penyiksaan diri hanya membuatnya lemah. Baru setelah meninggalkan metode-metode ini sama sekali dan mengalami ketidaksadaran pada suatu malam dia pun men- dapatkan pencerahan. Seluruh kosmos bersorak, bumi berguncang, bunga-bunga bertebaran dari langit, angin semerbak berembus, dan para dewa dari berbagai tingkatan langit bersukaria.
Kembali, seperti dalam visi pagan, para dewa, alam, dan manusia bersatu dalam simpati. Ada harapan baru untuk membebaskan diri dari penderitaan dan mendapatkan nirvana, akhir semua nestapa. Gautama telah menjadi Buddha, Yang Tercerahkan. Pada mulanya, setan Mara menggodanya untuk tetap berada di tempat itu dan menikmati anugerah yang baru didapatkannya: tak ada gunanya upaya menyebarkan berita itu karena tak seorang pu n akan memper- cayainya. Namun, dua dewa dari kuil tradisional—Maha Brahma dan Sakra, Tuan para devas—datang menemui Buddha dan memintanya untuk menjelaskan metodenya kepada dunia. Buddha setuju dan selama empat puluh tahun ke depan, dia mengembara ke pelosok India untuk menyampaikan pesannya: dalam dunia yang penuh derita ini, hanya satu yang tidak berubah. Itulah Dharma, cara hidup yang benar, satu-satunya yang bisa membebaskan kita dari penderitaan. Ini tak ada hubungannya dengan Tuhan. Secara implisit, Buddha mempercayai eksistensi dewa-dewa sebab mereka merupakan bagian dari latar kulturalnya, namun dia tidak percaya bahwa mereka berman- faat banyak bagi manusia. Mereka pun terikat dalam realitas penderitaan dan perubahan; mereka tidak membantunya meraih pencerahan; mereka terlibat dalam siklus kelahiran kembali sebagaimana makhluk lain, dan akhirnya mereka juga akan sirna. Akan tetapi, pada saat yang krusial dalam kehidupannya—seperti ketika dia memutuskan untuk menyebarkan pesannya—dia membayangkan para dewa mem- pengaruhinya dan memainkan peran aktif. Oleh karena itu, Buddha tidak menyangkal dewa-dewa, tetapi percaya bahwa Realitas tertinggi nirvana lebih luhur daripada para dewa. Ketika orang Buddha meng- alami kedamaian atau rasa transendensi dalam meditasi, mereka tidak mempercayai bahwa itu berasal dari hubungan dengan wujud yang supranatural. Keadaan seperti itu alamiah bagi kemanusiaan: bisa dicapai oleh setiap orang yang hidup dengan cara yang benar dan mempelajari teknik Yoga. Oleh sebab itu, alih-alih bersandar kepada suatu dewa, Buddha mengajak murid-muridnya untuk menyelamatkan diri mereka sendiri.
Ketika bertemu murid pertamanya di Benares setelah peristiwa pencerahannya, Buddha memaparkan sistemnya yang didasari oleh satu fakta esensial: seluruh eksistensi adalah dukkha. Semuanya terdiri dari penderitaan: seluruh kehidupan adalah suram. Segalanya datang dan pergi dalam perubahan tak bermakna. Tak ada yang mempunyai arti penting yang permanen. Agama dimulai dengan persepsi bahwa ada sesuatu yang salah. Di masa pagan kuno, ada mitos tentang dunia arketipal suci, yang bersesuaian dengan dunia kita dan bisa menanamkan kekuatannya kepada manusia. Buddha mengajarkan bahwa adalah mungkin untuk melepaskan din dan dukkha melalui cara hidup yang penyayang terhadap sesama makhluk, berbicara dan bertindak lemah lembut, ramah, dan benar, serta menjauhkan diri dari segala obat-obatan atau bahan memabukkan yang bisa mengaburkan pikiran. Buddha tidak mengklaim telah menciptakan sistem ini. Dia bersikeras bahwa dia hanya “memperoleh” saja: “Aku telah melihat ajaran kuno, sebuah Jalan kuno, yang ditelusuri Buddha dari zaman yang lalu.”
Seperti undang-undang paganisme, Buddhisme juga dibatasi oleh struktur eksistensi dasar, yang melekat dalam kondisi kehidupan itu sendiri. la mempunyai realitas objektif bukan karena ia dapat diper- lihatkan melalui bukti logis, melainkan karena setiap orang yang secara serius berusaha untuk hidup dengan cara itu akan menemukan bahwa sistem itu ternyata efektif. Keefektifannya, bukan bukti filosofis atau historis, selalu menjadi ciri khas agama yang berhasil. Selama berabad-abad orang Buddha di banyak belahan bumi telah merasakan bahwa gaya hidup ini menghasilkan pengertian tentang makna tran- sendensi.
Karma mengikat manusia kepada lingkaran kebangkitan kembali tak berujung dalam rangkaian kehidupan yang sarat derita. Namun jika mereka mampu mengubah perilaku egois mereka, mereka akan mampu mengubah nasib. Buddha membandingkan proses kelahiran kembali ini dengan api yang menyulut sebuah lampu, yang darinya nyala api lampu kedua berasal, demikian seterusnya hingga nyala itu padam. Jika seseorang masih menyala dengan dosanya pada saat dia mati, maka dia akan menyulut lampu yang lain. Akan tetapi, jika api itu dipadamkan, lingkaran penderitaan akan berhenti dan nirvana akan diperoleh. “Nirvana” secara harfiah berarti “padam” atau “usai”. Ini bukan semata-mata sebuah keadaan negatif. Di kalangan orang Buddha, ia justru memainkan peran yang sebanding dengan Tuhan. Seperti dijelaskan Edward Conze dalam Buddhism: its Essence and Development, kaum Buddhis sering menggunakan penggambaran teistik untuk menjelaskan nirvana, realitas tertinggi:
Kami diajarkan bahwa nirvana itu permanen, stabil, abadi, diam, tak lapuk oleh usia, tak pernah mati, tidak dilahirkan, dan tidak diciptakan, bahwa ia adalah kekuatan, anugerah, dan kebahagiaan, perlindungan yang aman, tempat berteduh, dan tempat dengan rasa aman yang tak terpunahkan; bahwa ia adalah Kebenaran sejati dan Realitas tertinggi; bahwa ia adalah kebaikan, tujuan puncak, dan satu-satunya dambaan kehidupan kita, kedamaian yang abadi, terselubung, dan tak ter- pahami.
Beberapa penganut Buddha mungkin berkeberatan atas pembandingan ini karena mereka merasa konsep tentang “Tuhan” begitu terbatas untuk dapat menuangkan konsepsi mereka tentang realitas tertinggi. Umumnya hal ini disebabkan karena kaum teistik meng- gunakan kata “Tuhan” secara terbatas untuk merujuk kepada wujud yang terlalu berbeda dari kita. Sebagaimana para guru Upanishads, Buddha mengajarkan bahwa nirvana tidak bisa didefinisikan atau didiskusikan seakan-akan ia berbeda dari realitas manusia.
Mencapai nirvana tidak sama dengan “naik ke langit” seperti yang sering dipahami orang Kristen. Buddha selalu menolak untuk menjawab pertanyaan tentang nirvana atau tentang hal-hal luhur lainnya karena pertanyaan semacam itu “tidak layak” dan “tidak pantas”. Kita tidak bisa mendefinisikan nirvana karena kata-kata dan konsep kita terbelenggu oleh dunia indriawi dan perubahan. Pengalaman adalah satu-satunya “bukti” yang terandalkan. Murid- muridnya akan mengetahui bahwa nirvana ada hanya karena latihan mereka menjalani kehidupan yang baik akan memampukan mereka melihatnya.
Wahai para rahib, ada yang tak dilahirkan, tak menjadi, tak diciptakan, tak tersusun. Jika, wahai para rahib, tidak ada yang tak dilahirkan, tak menjadi, tak diciptakan, dan tak tersusun ini, maka tentu tak akan ada jalan keluar bagi yang dilahirkan, yang menjadi, yang diciptakan, yang tersusun. Tetapi karena ada yang tak dilahirkan, yang tak menjadi, yang tak diciptakan, dan yang tak tersusun, maka ada jalan keluar bagi yang dilahirkan, yang menjadi, yang diciptakan, dan yang tersusun.
Para rahibnya tidak boleh berspekulasi tentang hakikat nirvana. Yang dapat dilakukan Buddha hanyalah menyediakan bagi mereka rakit yang akan membawa mereka menyeberang ke “pantai yang lebih jauh”. Ketika ditanya apakah seorang Buddha yang telah men• capai nirvana tetap hidup setelah mati, dia mengabaikan pertanyaan ini karena menganggapnya “tidak layak”. Sama tidak layaknya seperti menanyakan ke mana perginya api setelah ia “padam”. Sama kelirunya mengatakan bahwa seorang Buddha yang hidup dalam nirvana berarti tidak ada: kata “ada” tidak berhubungan dengan keadaan apa pun yang bisa kita pahami. Kita akan menemukan bahwa selama berabad- abad, orang Yahudi, Kristen, dan Muslim telah memberikan jawaban yang sama terhadap pertanyaan tentang “keberadaan” Tuhan. Buddha berusaha memperlihatkan bahwa bahasa tidak mampu membahas realitas yang berada di luar jangkauan konsep dan akal. Lagi-lagi, dia tidak menolak akal tetapi menekankan arti penting pemikiran yang jernih serta akurat dan penggunaan bahasa. Namun akhirnya, dia berpendapat bahwa teologi atau kepercayaan seseorang, seperti ritual yang dijalaninya, tidaklah penting. Hal-hal seperti itu memang menarik, tetapi tidak punya arti final. Satu-satunya yang berharga adalah hidup dengan cara yang baik; jika ini diupayakan, penganut Buddha akan menemukan bahwa Dharma itu benar, meskipun mereka tidak bisa menyampaikannya dalam ungkapan yang logis.
Di sisi lain, orang-orang Yunani amat tertarik kepada logika dan nalar. Plato (kl. 428-348 SM) selalu menyibukkan diri mengkaji persoalan-persoalan epistemologi dan hakikat kebijaksanaan. Banyak karya awalnya ditujukan sebagai upaya membela Sokrates, yang mendesak orang untuk memperjelas gagasan mereka lewat per- tanyaan-pertanyaan kritis yang diajukannya. Akan tetapi, Sokrates dihukum mati pada 399 SM dengan tuduhan merusak para pemuda dan murtad. Dalam cara yang tidak berbeda dengan yang ditempuh orang India, Plato kecewa terhadap upacara-upacara kuno dan mitos- mitos agama yang menurutnya merendahkan dan tidak layak. Plato juga telah dipengaruhi filosof abad keenam SM, Pythagoras yang mungkin sekali telah terpengaruh gagasan-gagasan dari India, yang menyebar melalui Persia dan Mesir. Dia juga percaya bahwa jiwa adalah bagian zat ilahi yang terjatuh, tercemar, dan terperangkap dalam tubuh seperti dalam sebuah kuburan dan terhukum untuk menjalani siklus kelahiran kembali yang tiada habisnya. Dia telah menyuarakan pengalaman semua manusia tentang rasa keterasingan di dunia yang tampaknya bukan merupakan unsur sejati kita. Phy- tagoras mengajarkan bahwa jiwa bisa dibebaskan melalui penyucian ritual, yang akan memampukan manusia mencapai harmoni dengan semesta yang teratur. Plato juga meyakini eksistensi realitas suci dan tak berubah yang melampaui dunia indriawi, bahwa jiwa adalah sepenggal keilahian, unsur yang terlepas darinya, terpenjara dalam tubuh tetapi mampu meraih kembali status keilahiannya dengan cara penyucian daya nalar pikiran. Dalam mitos gua yang populer, Plato melukiskan kegelapan dan keburaman kehidupan manusia di bumi: manusia hanya mampu melihat bayang-bayang realitas abadi yang terpantul di dinding gua. Namun, lambat laun manusia mampu keluar lalu mencapai pencerahan dan pembebasan dengan melatih pikiran- nya memperoleh cahaya ilahi.
Pada akhir hayatnya , Plato mungkin telah meninggalkan doktrinnya tentang bentuk-bentuk atau ide-ide abadi, tetapi gagasan ini justru menjadi krusial bagi banyak monoteis ketika mereka berupaya mengungkapkan konsepsi ketuhanan mereka. Ide merupakan realitas stabil dan konstan yang bisa dipahami oleh kekuatan nalar, juga merupakan realitas yang lebih utuh, permanen, dan efektif dibanding- kan fenomena material yang lemah dan selalu berubah yang kita capai lewat indra. Segala yang ada di dunia ini hanyalah pantulan, “bagian” atau “tiruan” dari bentuk-bentuk abadi di wilayah ilahi. Ada ide yang selalu bersesuaian dengan setiap konsepsi umum yang kita miliki, seperti Cinta, Keadilan, dan Keindahan. Akan tetapi, yang paling tinggi di antara semua bentu k adalah ide tentang Kebaikan. Dengan demikian, Plato telah memberi kerangka filosofis bagi mitos kuno tentang dunia arketipal. Gagasannya tentang ke- abadian dapat dilihat sebagai versi rasional dari alam suci mitis, yang di dalamnya hal-hal jasadiah menjadi bayang-bayang semata. Dia tidak membahas hakikat Tuhan, tetapi membatasi diri pada alam suci bentuk-bentuk, meski terkadang tampak bahwa Keindahan atau Kebaikan ideal tidak mewakili suatu realitas puncak. Plato yakin bahwa alam ilahiah itu statis dan tak berubah. Orang Yunani me- mandang gerak dan perubahan sebagai ciri realitas inferior: sesuatu yang memiliki identitas sejati selalu sama, dicirikan oleh ketetapan dan ketakberubahan. Dengan demikian, gerak yang paling sempurna adalah gerak melingkar karena ia terus-menerus berputar dan kembali ke posisi asalnya: gerak melingkar benda-benda langit meniru gerakan alam ilahiah dengan sebaik mungkin. Citra statis alam ilahiah ini akan berpengaruh sangat besar terhadap orang Yahudi, Kristen, dan Muslim, walaupun hal itu sangat berbeda dengan Tuhan pemberi wahyu, yang selalu aktif, inovatif dan, di dalam Alkitab, bahkan berubah pikiran ketika dia menyesal telah menciptakan manusia dan memutuskan untuk memunahkan ras manusia dalam peristiwa Air Bah.
Ada aspek mistik Plato yang sangat menyenangkan hati kaum monoteis. Bentuk-bentuk suci Plato bukanlah realitas yang ada “di luar sana”, melainkan bisa dijumpai di dalam din. Dalam dialog dramatiknya, Symposium, Plato memperlihatkan betapa kecintaan pada tubuh yang cantik bisa disucikan dan ditransformasikan menjadi kontemplasi ekstatik (theoria) tentang Keindahan ideal. Dalam naskah itu dia membuat Diotima, mentor Sokrates, berbicara bahwa Keindah• an adalah unik, abadi, dan mutlak, tidak sama dengan apa pun yang pernah kita alami di dunia ini:
Keindahan ini pertama-tama adalah abadi; ia tidak pernah diwujudkan maupun dimatikan; tak mengalami pasang surut; kemudian ia bukan indah sebagian dan jelek sebagian, bukan indah pada satu saat dan jelek pada saat lain, bukan indah dalam kaitannya dengan hal ini dan jelek dengan hal itu, tidak beraneka menurut keragaman pemerhatinya; tidak pula keindahan ini akan tampil di dalam imajinasi seperti kecantikan seraut wajah atau tangan atau sesuatu yang bersifat jasadiah, atau seperti keindahan sebuah pemikiran atau ilmu pengetahuan, atau seperti keindahan yang bersemayam di dalam sesuatu di luar dirinya sendiri, apakah itu makhluk hidup atau bumi atau langit atau apa pun lainnya; dia akan melihatnya sebagai yang absolut, ada sendirian di dalam dirinya, unik, abadi.
Pendek kata, gagasannya tentang Keindahan memiliki banyak kesamaan dengan apa yang oleh kaum teistik disebut “Tuhan”. Meski sedemikian transenden, ide-ide seperti ini dapat dijumpai dalam pikiran manusia. Dalam era modern, kita memandang berpikir sebagai sebuah aktivitas, sebagai sesuatu yang kita kerjakan. Plato meng- anggapnya sebagai sesuatu yang terjadi pada akal: objek-objek pikiran merupakan realitas yang aktif di dalam akal manusia yang merenung- kannya. Seperti Sokrates, dia memandang pemikiran sebagai proses mengingat kembali (recollection), pemahaman sesuatu yang pernah kita ketahui, namun telah terlupa. Karena manusia merupakan kesuci- an yang tercampak, bentuk-bentuk alam ilahiah ada dalam diri mereka dan bisa “disentuh” oleh nalar, yang bukan sekadar aktivitas rasional atau otak melainkan sebuah cerapan intuitif akan realitas abadi yang ada dalam diri kita. Gagasan ini akan sangat berpengaruh terhadap kaum mistik dalam ketiga agama monoteis.
Plato percaya bahwa alam semesta pada dasarnya rasional. Ini adalah mitos atau konsepsi imajiner lain tentang realitas. Aristoteles (384-322 SM) mengambil langkah lebih jauh. Dia adalah orang pertama yang mengapresiasi arti penting penalaran logis, basis semua ilmu pengetahuan, dan yakin bahwa adalah mungkin bagi kita untuk mencapai pengertian tentang alam semesta dengan cara menerapkan metode ini. Selain mengupayakan pemahaman teoretis tentang kebenaran dalam empat belas risalah yang dikenal sebagai Meta• physics (istilah yang diciptakan oleh editornya, yang menempatkan urutan risalah ini “sesudah Physics”: meta ta physika), dia juga mempelajari fisika teoretis dan biologi empiris. Meskipun demikian, dia memiliki kesantunan intelektual yang besar, bersikeras bahwa tak seorang pun mampu mencapai konsepsi yang memadai tentang kebenaran, tetapi setiap orang bisa memberikan sumbangsih kecil terhadap pemahaman kolektif manusia. Banyak kontroversi mengenai penilaiannya terhadap karya Plato. Dia tampaknya secara tempera• mental menentang pandangan Plato mengenai transendensi bentuk- bentuk, menolak gagasan bahwa bentuk-bentuk itu mempunyai eksis- tensi pendahulu yang independen. Aristoteles berpendapat bahwa bentuk-bentuk itu hanya memiliki realitas sebagaimana keberadaan- nya di dunia material konkret kita ini.
Meski pendekatannya begitu membumi dan perhatiannya besar kepada fakta ilmiah, Aristoteles memiliki pemahaman yang tajam tentang hakikat dan arti penting agama dan mitologi. Dia mengemuka- kan bahwa orang-orang yang terlibat dalam berbagai misteri agama tidak perlu mempelajari fakta apa pun “kecuali mengalami emosi dan disposisi tertentu.”35Inilah dasar dari teori sastranya yang terkenal bahwa tragedi mengakibatkan purifikasi (katharsis) rasa takut dan iba yang berujung pada pengalaman kelahiran kembali. Tragedi- tragedi Yunani, yang pada awalnya merupakan bagian dari festival keagamaan , tidak mesti menghadirkan kisah faktual peristiwa- peristiwa sejarah tetapi berupaya mengilhami kebenaran yang lebih serius. Bahkan sejarah lebih remeh daripada puisi dan mitos: “Yang satu menguraikan apa yang telah terjadi, yang lainnya apa yang mungkin terjadi. Karena itu, puisi adalah sesuatu yang lebih serius dan filosofis daripada sejarah; karena puisi berbicara tentang apa yang universal, sedangkan sejarah apa yang partikular.”36 Mungkin atau tidak mungkin ada seorang Achilles atau Oedipus historis, tetapi fakta-fakta kehidupan mereka tidak relevan dengan karakter yang kita saksikan dalam Homer dan Sophocles, yang mengekspresikan kebenaran yang berbeda tetapi lebih mendalam tentang kondisi manusia. Uraian Aristoteles tentang katharsis tragedi merupakan presentasi filosofis atas kebenara n yang telah dipahami Homo religiosus secara intuitif: presentasi simbolis, mitikal, dan ritual atas peristiwa-peristiwa yang tak tertanggungkan dalam kehidupan sehari- hari dapat menebus dan mentransformasikannya menjadi sesuatu yang murni dan bahkan menyenangkan.
Gagasan Aristoteles tentang Tuhan berpengaruh besar terhadap monoteis selanjutnya, khususnya terhadap orang Kristen di dunia Barat. Dalam Physics, dia menganalisis hakikat realitas dan struktur serta substansi semesta. Dia mengembangkan apa yang kemudian berkembang menjadi versi filosofis teori emanasi kuno tentang kisah penciptaan: Ada hierarki eksistensi, masing-masing memberi bentuk dan mengubah yang di bawahnya. Akan tetapi, tidak seperti mitos kuno, dalam teori Aristoteles, emanasi semakin melemah ketika semakin jauh dari sumbernya. Pada puncak hierarki ini terdapat Penggerak yang Tidak Digerakkan, yang oleh Aristoteles diidentifikasi sebagai Tuhan. Tuhan ini merupakan wujud murni dan, dengan demikian, abadi, tidak berubah, dan spiritual. Tuhan ini adalah akal murni, pada saat yang sama merupakan yang berpikir dan yang dipikirkan sekaligus, terlibat dalam waktu abadi untuk berkontemplasi tentang dirinya sendiri, objek pengetahuan tertinggi. Karena materi tidak abadi dan lemah, tidak ada unsur materi di dalam Tuhan atau tingkat wujud yang lebih tinggi. Penggerak yang Tidak Digerakkan mengakibatkan semua gerak dan aktivitas di alam semesta, karena setiap pergerakan pastilah mempunyai sebab yang dapat dilacak kembali kepada sumber yang tunggal. Dia mengaktifkan dunia melalui sebuah proses penarikan, karena semua wujud tertarik ke arah Wujud itu sendiri.
Manusia berada dalam posisi istimewa: jiwa kemanusiaannya mempunyai akal karunia ilahi, yang membuatnya serumpun dengan Tuhan dan ikut ambil bagian dalam hakikat keilahian. Kapasitas akal yang ilahiah ini meletakkannya dalam posisi yang lebih tinggi daripada tumbuhan dan hewan. Akan tetapi, sebagai tubuh dan jiwa, manusia adalah mikrokosmos keseluruhan alam semesta. Dalam dirinya termuat bahan paling dasar dari alam semesta sekaligus akal yang ilahiah. Kewajibannyalah untuk menjadi abadi dan ilahiah denga n cara menyucika n akalnya. Kebijaksanaan (sopbia) merupaka n yang tertinggi dari semua kebajikan manusia; itu diekspresikan dalam kontemplasi (theoria) tentang kebenaran filosofis yang, seperti dalam konsepsi Plato, membuat kita suci dengan cara meniru aktivitas Tuhan sendiri. Theoria tidak diraih melalui logika semata, tetapi merupakan intuisi terlatih yang menghasilkan transendensi diri yang ekstatik. Akan tetapi, sedikit sekali orang yang mampu mencapai kebijaksanaan ini dan kebanyakan hanya dapat mencapai phronesis, melatih firasat dan kecerdasan dalam hidup sehari-hari.
Meski dalam sistemnya posisi Penggerak yang Tidak Digerakkan sangatlah penting, Tuhan Aristoteles tidak banyak terkait dengan agama. Tuhan ini tidak menciptakan dunia, karena tindakan itu akan mengakibatkan perubahan dan aktivitas temporal yang tidak sepantas- nya. Meskipun segala sesuatu merindukannya, Tuhan ini tetap tidak peduli pada eksistensi alam semesta, karena dia tidak dapat ber- kontemplasi tentang sesuatu yang lebih rendah daripada dirinya. Dia jelas tidak mengarahkan atau membimbing dunia dan tidak dapat membawa perubahan dalam kehidupan kita, dengan cara apa pun. Adalah pertanyaan yang tak terjawab, apakah Tuhan mengetahui keberadaan kosmos ini, yang telah beremanasi darinya sebagai akibat niscaya dari keberadaannya. Pertanyaan tentang keberadaan Tuhan yang seperti itu secara keseluruhan bersifat periferal. Aristoteles sendiri mungki n telah meninggalkan teologinya cli akhir masa hidupnya. Sebagai manusia Zaman Kapak, dia dan Plato sama-sama menaruh perhatian terhadap kesadaran individual, kehidupan yang baik, dan masalah keadilan di masyarakat. Namun pemikiran mereka bersifat elitis. Dunia bentuk-bentuk murni Plato atau Tuhan Aristoteles yang jauh, hanya dapat menimbulkan sedikit pengaruh bagi kehidupan orang awam, sebuah fakta yang belakangan terpaksa diakui oleh pengagum keduanya dari kalangan Yahudi dan Muslim.
Oleh karena itu, dalam ideologi-ideologi baru Zaman Kapak, terdapat kesepakatan umum bahwa kehidupan manusia mengandung unsur transenden yang esensial. Para pemikir terkemuka yang telah kita bahas telah menerjemahkan transendensi ini secara berbeda- beda, tetapi mereka sepakat untuk melihatnya sebagai sesuatu yang krusial bagi perkembangan kaum pria dan wanita menjadi manusia yang utuh. Mereka tidak secara mutlak mencampakkan mitologi- mitologi kuno, tetapi melakukan penafsiran ulang atasnya dan mem- bantu orang-orang untuk bangkit melampauinya. Pada saat yang sama dengan masa terbentuknya ideologi-ideologi ini, nabi-nabi Israel mengembangkan tradisi mereka sendiri untuk menghadapi kondisi yang berubah, hingga Yahweh akhirnya menjadi satu-satunya Tuhan mereka. Akan tetapi, bagaimana Yahweh yang pemarah bisa sesuai dengan visi-visi lain yang luhur ini?
Semua perbincangan tentang Tuhan adalah perbincangan yang sulit. Namun, kaum monoteis bersikap amat positif tentang bahasa sembari tetap menyangkal kapasitasnya untuk mengekspresikan realitas transenden. Tuhan orang Yahudi, Kristen, dan Islam adalah Tuhan yang—dalam beberapa pengertian—berkata-kata (berfirman). Firmannya sangat krusial di dalam ketiga agama besar itu. Firman Tuhan telah membentuk sejarah kebudayaan kita. Kita harus me- mutuskan apakah kata “Tuhan” masih tetap memiliki makna bagi kita pada masa sekarang