YADNYA
1.1 PENDAHULUAN
Yadnya menurut ajaran agama Hindu,
merupakan satu bentuk kewajiban yang harus dilakukan oleh umat manusia di dalam
kehidupannya sehari-hari. Sebab Tuhan menciptakan manusia beserta makhluk hidup
lainnya berdasarkan atas yadnya, maka hendaklah manusia memelihara dan
mengembangkan dirinya, juga atas dasar yadnya sebagai jalan untuk memperbaiki
dan mengabdikan diri kepada Sang Pencipta yakni Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha
Esa).
Sahayajñáh
prajah strishtva
puro
vácha prajápatih
anena
prasavishya dhvam
esha
va stv ishta kámadhuk (Bh. G. III.10)
Dahulu kala Hyang Widhi (Prajapati),
menciptakan manusia dengan jalan yadnya, dan bersabda: "dengan ini
(yadnya) engkau akan berkembang dan mendapatkan kebahagiaan (kamadhuk) sesuai
dengan keinginanmu".
Deván bhávayatá nena
te devá bhávayantuvah
parasparambhávayantah
sreyah param
avápsyatha. (Bh. G. III.11)
Dengan ini (yadnya), kami berbakti
kepada Hyang Widhi dan dengan ini pula Hyang Widhi memelihara dan mengasihi
kamu, jadi dengan saling memelihara satu sama lain, kamu akan mencapai kebaikan
yang maha tinggi.
Tanpa penciptaan melalui yadnya-Nya
Hyang Widhi maka alam semesta berserta segala isinya ini, termasuk pula manusia
tidak mungkin ada. Hyang Widhilah yang pertama kali beryadnya menciptakan dunia
dengan segala isinya ini dengan segala cinta kasih-Nya. Karena inilah
pelaksanaan yadnya di dalam kehidupan ini sangat penting artinya
dan merupakan suatu kewajiban bagi umat manusia di dunia. Karena
itu pula kita dituntut untuk mengerti, memahami dan melaksanakan yadnya tersebut
di dalam realitas hidup sehari-hari sebagai salah satu amalan ajaran agama yang
diwahyukan oleh Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa).
1.2 YADNYA
A.
Pengertian
Yadnya.
Kalau ditinjau secara dari
ethimologinya, kata yadnya berasal dari bahasa sansekerta, yaitu dari kata
"yaj" yang artinya memuja atau memberi penghormatan atau menjadikan
suci. Kata itu juga diartikan mempersembahkan; bertindak sebagai perantara.
Dari urat kata ini timbul kata yaja (kata-kata dalam pemujaan), yajata (layak
memperoleh penghormatan), yajus (sakral, retus, agama) dan yajna (pemujaan, doa
persembahan) yang kesemuanya ini memiliki arti sama dengan Brahma.
Yadnya (yajna), dapat juga diartikan
korban suci, yaitu korban yang didasarkan atas pengabdian dan cinta kasih.
Pelaksanaan yadnya bagi umat Hindu adalah satu contoh perbuatan Hyang Widhi
yang telah menciptalan alam semesta dengan segala isinya dengan yadnya-Nya.
Yadnya adalah cara yang dilakukan untuk menghubungkan diri antara manusia
dengan Hyang Widhi beserta semua manifestasinya untuk memperoleh kesucian jiwa
dan persatuan Atman dengan Paramatman. Yadnya juga merupakan kebaktian,
penghormatan dan pengabdian atas dasar kesadaran dan cinta kasih yang keluar
dari hati sanubari yang suci dan tulus iklas sebagai pengabdian yang sejati
kepada Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa).
Dengan demikian jelaslah bahwa yadnya mempunyai arti sebagai suatu
perbuatan suci yang didasarkan atas cinta kasih, pengabdian yang tulus iklas
dengan tanpa pamerih. Kita beryadnya, karena kita sadar bahwa Hyang Widhi menciptakan
alam ini dengan segala isinya termasuk manusia dengan yadnyanya pula.
Penciptaan Hyang Widhi ini didasarkan atas korban suci-Nya, cinta dan kasih-Nya
sehingga alam semesta dengan segala isinya ini termasuk manusia dan
mahluk-mahluk hidup lainnya menjadi ada, dapat hidup dan berkembang dengan
baik. Hyang Widhilah yang mengatur peredaran alam semesta berserta segala
isinya dengan hukum kodrat-Nya, serta perilaku kehidupan mahluk dengan
menciptakan zat-zat hidup yang berguna bagi mahluk hidup tersebut sehingga
teratur dan harmonis. jadi untuk dapat hidup yang harmonis dan berkembang
dengan baik, maka manusia hendaknya melaksanakan yadnya, baik kepada Hyang
Widhi beserta semua manifestasi-Nya, maupun kepada sesama makhluk hidup. Semua
yadnya yang dilakukan ini akan membawa manfaat yang amat besar bagi
kelangsungan hidup makhluk di dunia.
Hindu yang ada (Weda). Yadnya dapat
pula diartikan memuja, menghormati, berkorban, mengabdi, berbuat baik
(kebajikan), pemberian, dan penyerahan dengan penuh kerelaan (tulus ikhlas)
berupa apa yang dimiliki demi kesejahteraan serta kesempurnaan hidup bersama
dan kemahamuliaan Sang Hyang Widhi Wasa
Di dalamnya terkandung nilai- nilai:
- Rasa tulus ikhlas dan kesucian.
- Rasa bakti dan memuja (menghormati) Sang Hyang Widhi Wasa, Dewa, Bhatara, Leluhur, Negara dan Bangsa, dan kemanusiaan.
- Di dalam pelaksanaannya disesuaikan dengan kemampuan masing- masing menurut tempat (desa), waktu (kala), dan keadaan (patra).
- Suatu ajaran dan Catur Weda yang merupakan sumber ilmu pengetahuan suci dan kebenaran yang abadi.
Cara tempat yang satu dengan tempat yang yang lainnya mempunyai cara-cara
yang berbeda. Kala adalah penyesuaian terhadap waktu untuk beryadnya, atau
kesempatan di dalam pembuatan dan pelasksanaan yadnya tersebut. Sedangkan Patra
adalah keadaan yang harus menjadi perhitungan di dalam melakukan yadnya. Orang
tidak dapat dipaksa untuk membuat yadnya besar atau yang kecil. Yang penting
disini adalah upakara dan upacara yang dibuat tidak mengurangi tujuan yadnya
itu dan berdasarkan atas bakti kepada Hyang Widhi, karena di dalam bakti inilah
letak nilai-nilai dari pada yadnya tersebut.
B.
Tujuan
Yadnya
Bila direnungkan tujuan diadakannya
sebuah Yadnya yaitu untuk membalas Yadnya yang dahulu dilakukan oleh Ida Sang
Hyang Widhi ketika menciptakan alam semesta beserta isinya. Hal tersebut dapat
kita lihat dari sloka dibawah ini:
“sahayajnah
prajah srishtva, paro vacha pajapatih,
Anema
prasavish dhvam, esha yostvisha kamaduk”
Artinya:
Pada zaman dulu kala Praja Pati (Tuhan Yang Maha Esa) menciptakan
manusia dengan Yadnya dan bersabda. Dengan ini engkau akan mengembang dan akan
menjadi kamanduk (memenuhi) dari keinginanmu.
Dari sloka di atas dapat kita lihat
secara jelas, bahwa kita melaksanakan Yadnya atas dasar Tuhan mengawali
menciptakan dunia besrta isinya berdasarkan Yadnuhan itu diteruskan agar
kehidupan di dunia ini berlanjut terus dengan saling beryadnya.
Bukankah akibat dari Tuhan berbuat
Yadnya itu menimbulkan Rnam (hutang). Kemudian agar tercipta hokum
keseimbangan, maka rnam itu harus dibayar dengan Yadnya (Tri Rna). Tri Rna ini
dalam kehidupan sehari-hari dapat dibayar dengan melaksanakan Panca Yadnya.
Dimana Dewa Rna dibayar dengan Dewa Yadnya dan dibayar dengan Bhuta Yadnya,
kemudian Rsi Rna dibayar dengan Rsi Yadnya, dan yang terakhir yaitu Pitra Rna
dibayar dengan Pitra Yadnya dan Manusa Yadnya.
Memang konsep Agama Hindu adalah
mewujudkan keseimbangan. Dengan terwujudnya keseimbangan berarti terwujud pula
keharmonisan hidup yang didambakan oleh setiap orang di dunia ini. Untuk
terwujudnya keseimbangan tersebut dalam Umat Hindu diajarkan Tri Hita Karana
yaitu tiga factor yang menyebabkan terwujudnya suatu kebahagiaan.
Berkaitan dengan itu, dalam Bhagawadgita III.2
menyebutkan:
“ishtan
bhogan hivodeva, donsyante yajna bhavitah,
tair dattan apradayabho, yobhunkte stena eca sah”
Artinya:
Dipelihara oleh Yadnya Para Dewa,
akan memberikan kamu kesenangan yang kamu inginkan. Ia yang menikmati pemberian
ini, tanpa memberikan balasan kepadanya adalah pencuri.
Selanjutnya seloka Bhagawadgita
III.13 menyebutkan:
“yajna
sisyah sinah santo, nucyanta sarwa kilbisaih,
bhujate
tuagham papa, ye pacauty atmakatanat”
Artinya:
Orang yang baik, maka apa yang
tersisa dari Yadnya, mereka itu terlepas dari segala dosa, akan tetapi mereka
yang jahat yang menyediakan makanan kepentingan sendiri, mereka itu adalah
makan dosanya sendiri.
Jadi dengan petikan sloka di atas
dapat ditegaskan bahwa Yadnya itu bertujuan untuk melangsungkan kehidupan yang
berkesinambungan yaitu dengan cara:
· Membayar
Rna (hutang) untuk mencapai kesempurnaan hidup.
· Melebur
dosa untuk mencapai kebebasan yang sempurna.
C.
Fungsi Dan Makna Yadnya
Jika kita lihat dari tujuan pelaksanaan Yadnya yang
dijelaskan diatas maka secara umum fungsi daripada Yadnya adalah sebagai sarana
untuk mengembangkan serta memelihara kehidupan agar terwujud kehidupan yang
sejahtra dan bahagia atau kelepasan yakni menyatu dengan Sang Pencipta.
Berdasarkan
uraian diatas dapat dijabarkan fungsi dari pelaksanaan Yadnya, yaitu sebagai
berikut:
1. Sarana untuk mengamalkan Weda
Yadnya
adalah sarana untuk mengamalkan Weda yang dilukiskan dalam bentuk symbol-simbol
atau niyasa. Yang kemudian symbol tersebut menjadi realisasi dari ajaran Agama
Hindu.
2. Sarana untuk meningkatkan kualitas
diri
Setiap kelahiran manusia selalu disertai oleh karma
wasana. Demikian pula setiap kelahiran bertujuan untuk meningkatkan kualitas
jiwatman sehingga tujuan tertinggi yaitu bersatunya atman dengan brahman (
brahman atman aikyam ) dapat tercapai. Dalam upaya meningkatkan kualitas diri,
umat Hindu selalu diajarkan untuk buatan baik. Perbuatan baik yang paling utama
adalah melalui Yadnya. Dengan demikian setiap yadnya yang kita lakukan hasilnya
adalah terjadinya peningkatan kualitas jiwatman.
3. Sebagai sarana penyucian
Dengan sebuah Yadnya sesuatu hal bisa disucikan
seperti diadakannya Dewa Yadnya, Bhuta Yadnya, Rsi Yadnya, Pitra Yadnya dan
Manusa Yadnya yaitu pada bagian-bagian tertentu mengandung makna dan tujuan
untuk penyucian atau pembersihan.
4. Sarana untuk terhubung Kepada Ida
Sang Hyang Widhi
Yadnya merupakan sarana yang dapat digunakan untuk
mengadakan hubungan dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasinya,
seperti yang sering dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
5. Sarana untuk mengungkapkan rasa
terima kasih
Dengan sebuah yadnya seseorang mampu mengungkapkan
rasa syukur dan ucapan terimakasih kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sesame
manusia, maupun kepada alam, seperti yang sudah biasa dilakukan dalam penerapan
Panca Yadnya.
D. Tingkat
Pelaksanaan Yadnya
Di dalam menghayati serta
mengamalkan ajaran agama, maka pelaksanaan Yadnya dilakukan secara bertingkat
sesuai dengan kemampuan umat masing- masing. Adapun bentuk pelaksanaan Yadnya
itu adalah sebagai berikut:
Dalam bentuk pemujaan (sembah, kebaktian)
ditujukan kepada:
a)
Sang
Hyang Widhi Wasa.
b) Para Dewa/ Dewi yang merupakan
manifestasi kemahakuasaan- Nya.
c) Para Bhatara/ Bhatari, Leluhur.
Dalam bentuk penghormatan ditujukan kepada:
a) Pemerintah/ Pejabat Pemerintah.
b) Orang- orang yang lebih tua atau yang
berkedudukan lebih tinggi.
c) Orang- orang yang berjasa dan para tamu.
d) Makhluk- makhluk yang nampak dan tidak
nampak yang lebih rendah
derajatnya daripada manusia.
Adapun bentuk rasa hormat yang kita
berikan itu adalah tanpa merendahkan martabat diri sendiri, akan tetapi
didasarkan atas keikhlasan, ketulusan, dan kerendahan hati dan prinsip saling
hormat menghormati, harga menghargai, percaya mempercayai satu dengan yang
lain.
Dalam bentuk pengabdian, baik
kepada keluarga, masyarakat, Negara, Bangsa, Tanah Air, dan kemanusiaan.
Pengabdian yang ditujukan kepada Sang Hyang Widhi Wasa adalah merupakan
pengabdian yang tertinggi nilainya. Pengabdian kepada keluarga (anak-istri),
masyarakat, Negara, Bangsa, Tanah Air dan kemanusiaan itu, satu dengan yang
lainnya saling berkaitan.
Besar kecilnya pengabdian yang dapat kita berikan (abdikan) tergantung atas kemampuan kita masing-masing.
Besar kecilnya pengabdian yang dapat kita berikan (abdikan) tergantung atas kemampuan kita masing-masing.
Dalam bentuk cinta dan kasih sayang
terhadap semua makhluk hidup, terutama dalam keadaan melarat, menderita,
terkena bencana/ malapetaka, di mana kemauan dan tindakan suka serta ikhlas
berkorban sangat berperan di dalam bentuk cinta dan kasih sayang ini, demi
kebahagiaan bersama dan kesempurnaan hidup.
Dalam bentuk pengorbanan di mana
pengorbanan benda, tenaga, pikiran, jiwa dan raga dapat diberikan demi
menjunjung tinggi cita- cita yang mulia dan luhur, baik dalam hubungan dharma
kepada negara maupun kepada agama (Dharmaning Negara dan Dharmaning Agama).
Dari kelima bentuk pelaksanaan
yadnya tersebut dapat disimpulkan bahwa arti yadnya itu sangat luas dalam
hubungannya dengan pelaksanaan dharma, bukan saja terbatas pada pelaksanaan
Panca Yadnya ataupun pelaksanaan dari berbagai bentuk upacara- upacara yang
menggunakan sarana ataupun yang tanpa menggunakan sarana.
E.
Dalam
Pelaksanaan Upacara Yadnya Beberapa Hal Yang Perlu Diperhatikan
- Adanya kebersihan tempat/ bangunan suci serta sarana upacara.
- Adanya keseragaman pelaksanaan Upacara Yadnya.
- Ketertiban.
- Bahan- bahan Upacara Yadnya yang terdapat di daerah setempat, agar tidak terhalang karena tidak adanya sesuatu alat tertentu.
F.
Panca
Yadnya
Panca Yadnya adalah lima jenis karya
suci yang diselenggarakan oleh umat Hindu di dalam usaha mencapai kesempurnaan
hidup. Adapun Panca Yadnya atau
PancaMaha
Yadnya tersebut terdiri dari:
1.
Dewa Yadnya
Ialah suatu korban suci/ persembahan
suci kepada Sang Hyang Widhi Wasa dan seluruh manifestasi- Nya yang terdiri
dari Dewa Brahma selaku Maha Pencipta, Dewa Wisnu selaku Maha Pemelihara dan
Dewa Siwa selaku Maha Pralina (pengembali kepada asalnya) dengan mengadakan
serta melaksanakan persembahyangan Tri
Sandhya (bersembahyang tiga kali dalam sehari) serta Muspa
(kebaktian dan pemujaan di tempat- tempat suci). Korban suci tersebut
dilaksanakan pada hari- hari suci, hari peringatan (Rerahinan), hari ulang
tahun (Pawedalan) ataupun hari- hari raya lainnya seperti: Hari Raya Galungan
dan Kuningan, Hari Raya Saraswati, Hari Raya Nyepi dan lain- lain.
2.
Pitra Yadnya.
lalah suatu korban suci/ persembahan
suci yang ditujukan kepada Roh- roh suci dan Leluhur (pitra) dengan menghormati
dan mengenang jasanya dengan menyelenggarakan upacara Jenasah (Sawa Wedana)
sejak tahap permulaan sampai tahap terakhir yang disebut Atma Wedana.
Adapun tujuan dari pelaksanaan Pitra Yadnya ini adalah demi pengabdian dan bakti yang tulus ikhlas, mengangkat serta menyempurnakan kedudukan arwah leluhur di alam surga. Memperhatikan kepentingan orang tua dengan jalan mewujudkan rasa bakti, memberikan sesuatu yang baik dan layak, menghormati serta merawat hidup di harituanya juga termasuk pelaksanaan Yadnya. Hal tersebut dilaksanakan atas kesadaran bahwa sebagai keturunannya ia telah berhutang kepada orangtuanya (leluhur) seperti:
Adapun tujuan dari pelaksanaan Pitra Yadnya ini adalah demi pengabdian dan bakti yang tulus ikhlas, mengangkat serta menyempurnakan kedudukan arwah leluhur di alam surga. Memperhatikan kepentingan orang tua dengan jalan mewujudkan rasa bakti, memberikan sesuatu yang baik dan layak, menghormati serta merawat hidup di harituanya juga termasuk pelaksanaan Yadnya. Hal tersebut dilaksanakan atas kesadaran bahwa sebagai keturunannya ia telah berhutang kepada orangtuanya (leluhur) seperti:
- Kita berhutang badan yang disebut dengan istilah Sarirakrit.
- Kita berhutang budi yang disebut dengan istilah Anadatha.
- Kita berhutang jiwa yang disebut dengan istilah Pranadatha.
3.
Manusa Yadnya
Adalah suatu korban suci/ pengorbanan
suci demi kesempurnaan hidup manusia. Di dalam pelaksanaannya dapat berupa
Upacara Yadnya ataupun selamatan, di antaranya ialah:
- Upacara selamatan (Jatasamskara/ Nyambutin) guna menyambut bayi yang baru lahir.
- Upacara selamatan (nelubulanin) untuk bayi (anak) yang baru berumur 3 bulan (105 hari).
- Upacara selamatan setelah anak berumur 6 bulan (oton/ weton/ 210 hari).
- Upacara perkawinan (Wiwaha) yang disebut dengan istilah Abyakala/ Citra Wiwaha/ Widhi-Widhana.
Di dalam menyelenggarakan segala usaha
serta kegiatan- kegiatan spiritual tersebut masih ada lagi kegiatan dalam
bentuk yang lebih nyata demi kemajuan dan kebahagiaan hidup si anak di dalam
bidang pendidikan, kesehatan, dan lain- lain guna persiapan menempuh kehidupan
bermasyarakat. Juga usaha di dalam memberikan pertolongan dan menghormati
sesama manusia mulai dari tata cara menerima tamu (athiti krama), memberikan
pertolongan kepada sesama yang sedang menderita (Maitri) yang diselenggarakan
dengan tulus ikhlas adalah termasuk Manusa Yadnya.
4.
Resi Yadnya.
Adalah suatu Upacara Yadnya berupa
karya suci keagamaan yang ditujukan kepada para Maha Resi, orang- orang suci,
Resi, Pinandita, Guru yang di dalam pelaksanaannya dapat diwujudkan dalam
bentuk:
- Penobatan calon sulinggih menjadi sulinggih yang disebut Upacara Diksa.
- Membangun tempat- tempat pemujaan untuk Sulinggih.
- Menghaturkan/ memberikan punia pada saat- saat tertentu kepada Sulinggih.
- Mentaati, menghayati, dan mengamalkan ajaran- ajaran para Sulinggih.
- Membantu pendidikan agama di dalam menggiatkan pendidikan budi pekerti luhur, membina, dan mengembangkan ajaran agama.
5.
Bhuta Yadnya.
Adalah suatu korban suci/
pengorbanan suci kepada sarwa bhuta yaitu makhluk- makhluk rendahan, baik yang
terlihat (sekala) ataupun yang tak terlihat (niskala), hewan (binatang),
tumbuh- tumbuhan, dan berbagai jenis makhluk lain yang merupakan ciptaan Sang
Hyang Widhi Wasa.
Adapun pelaksanaan upacara Bhuta Yadnya ini dapat berupa: Upacara Yadnya (korban suci) yang ditujukan kepada makhluk yang kelihatan/ alam semesta, yang disebut dengan istilah Mecaru atau Tawur Agung, dengan tujuan untuk menjaga keseimbangan, kelestarian antara jagat raya ini dengan diri kita yaitu keseimbangan antara makrokosmos dengan mikrokosmos.
Adapun pelaksanaan upacara Bhuta Yadnya ini dapat berupa: Upacara Yadnya (korban suci) yang ditujukan kepada makhluk yang kelihatan/ alam semesta, yang disebut dengan istilah Mecaru atau Tawur Agung, dengan tujuan untuk menjaga keseimbangan, kelestarian antara jagat raya ini dengan diri kita yaitu keseimbangan antara makrokosmos dengan mikrokosmos.
Di dalam pelaksanaan yadnya biasanya seluruh unsur- unsur Panca Yadnya
telah tercakup di dalamnya, sedangkan penonjolannya tergantung yadnya mana yang
diutamakan
G. Yadnya Menurut Waktu Pelaksanaannya
Menurut ketentuan waktu pelaksanaan Yadnya, umat Hindu
mengenal dua jenis Yadnya yang disebut dengan istilah:
1. Nitya
Karma Yadnya.
Yaitu Yadnya yang diselenggarakan/
dilaksanakan tiap- tiap hari.
Contoh: Tri Sandhya, Memberi suguhan Yadnya Sesa (Ngejot/ Saiban).
Contoh: Tri Sandhya, Memberi suguhan Yadnya Sesa (Ngejot/ Saiban).
2.
Naimittika Karma Yadnya
Yaitu Yadnya yang diselenggarakan pada waktu- waktu
tertentu.
Contoh: Upacara Persembahyangan Purnama Tilem, selamatan, Hari Raya, dan sebagainya.
Contoh: Upacara Persembahyangan Purnama Tilem, selamatan, Hari Raya, dan sebagainya.
H. Yadnya
Menurut Cara Menjalankannya (Panca
Marga Yadnya)
Panca Marga Yadnya adalah merupakan
dasar yang menunjang pelaksanaan Panca Yadnya.
1.
Drewya Yadnya.
Adalah suatu korban suci secara
ikhlas dengan menggunakan barang- barang yang dimiliki kepada orang lain pada
waktu, tempat, dan alamat yang tepat, demi kepentingan dan kesejahteraan
bersama, masyarakat, Negara dan Bangsa.
Pada umumnya Drewya Yadnya ini
ditujukan kepada:
- Orang sakit.
- Orang yang menuntut ilmu.
- Anak- anak yatim- piatu.
- Para tamu.
- Para Pendeta.
- Keluarga yang menderita karena ditinggal tugas.
2.
Tapa Yadnya.
Yaitu
suatu korban suci dengan jalan bertapa, sebagai jalan peneguhan iman di dalam
menghadapi segala jenis godaan agar memiliki ketahanan di dalam perjuangan
hidup serta menyukseskan suatu cita- cita luhur. Suatu kegiatan Tapa jika
dilatarbelakangi oleh keinginan untuk menghindarkan diri dari berbagai
kewajiban dalam kehidupan ini, tidak dapat kita katakan sebagai Tapa Yadnya.
Tapa Yadnya justru dilaksanakan demi menegakkan dharma, sehingga kekuatannya
akan menelurkan adanya ketenangan, ketentraman, serta kebahagiaan, baik bagi
pelakunya maupun bagi masyarakat banyak. Tapa Yadnya termasuk Yadnya yang
sangat berat, akan tetapi sangat mulia dan tinggi nilainya dari sudut
spiritual. Apabila diyakini pelaksanaannya maka akan dicapai apa yang disebut
"SATYAM EVA JAYATE" yang berarti hanya kebenaran yang menang pada
akhirnya.
3.
Swadyaya Yadnya.
Adalah suatu korban suci yang
menggunakan sarana "diri sendiri" sebagai kurbannya (Sadhana), yang
dilaksanakan dengan tulus ikhlas karena terdorong oleh perasaan kasih sayang
yang sangat mendalam, umpamanya berupa berbagai jenis organ tubuh, seperti
daging, darah, tenaga, pikiran, mata, jantung, dan sebagainya.
Swadyaya Yadnya dilaksanakan benar-
benar demi:
- Rasa cinta kasih yang sejati.
- Rasa tanggung jawab yang sangat besar.
- Panggilan rasa kemanusiaan.
- Rasa bakti karena panggilan jiwa.
Demikian besar pengorbanan yang dituntut bagi pelaksanaan Swadyaya Yadnya
sehingga menjadikan pelakunya sebagai manusia yang luar biasa. Para anggota
ABRI yang berjuang demi membela Bangsa dan Negara, para penerima hadiah Nobel
untuk perdamaian dan kemanusiaan dapat digolongkan sebagai pelaksana- pelaksana
dari Swadyaya Yadnya
4.
Yoga Yadnya
Adalah suatu korban suci dengan cara
menghubungkan diri (menyatukan cipta, rasa, dan karsa) ke hadapan Sang Hyang
Widhi Wasa yang sifatnya sangat mendalam, sehingga si pelaksana (Yogin)
tersebut benar- benar merasakan bersatu serta manunggal dengan- Nya, mencapai
alam kesucian atau Moksa. Tetapi tidaklah semudah sebagaimana yang telah
diajarkan serta diuraikan di dalam berbagai Sastra Yoga yang ada, melainkan ada
beberapa bekal minimal di dalam rangka melaksanakan Yoga Yadnya, seperti
umpamanya:
Ilmu pengetahuan tentang berbagai
selukbeluk Yoga (sastra- sastra Yoga mulai dari Yoga Asanas, Hatta Yoga,
Kundalini Yoga, Raja Yoga, dan sebagainya).
Adanya kesanggupan dan kemampuan
serta keberanian di dalam melaksanakan Yoga Yadnya itu. Keyakinan, kesanggupan,
serta kemampuan melaksanakan "Tri Kaya Parisudha" yaitu berpikir,
berbicara, serta berbuat suci dan benar. Suci lahir dan batin serta mengenal berbagai
ilmu mengenai jalan menuju Moksa. Mengerti serta mengetahui bagaimana caranya
untuk mencapai Moksa.Meyakini ajaran Panca Sradha.
5.
Jnana
Yadnya
Jnana Yadnya berarti korban suci
yang menyeluruh, yang berintikan dasar pengetahuan dan kesucian. Para Maha Resi
terdahulu telah sanggup melaksanakan korban suci Jnana Yadnya ini, karena
kesanggupan dan kemampuan beliau mengolah pikiran dengan ilmu pengetahuan
kesuciannya itu sehingga mampu untuk menerima wahyu dari Sang Hyang Widhi Wasa,
yang dipergunakan oleh umat manusia sebagai pedoman dalam mengatur kehidupan
material dan spiritual dalam usaha mencapai kebahagiaan di dunia (jagadhita)
dan kedamaian abadi di akhirat (Moksa). Di antara para Maha Resi Hindu yang
telah berhasil di dalam melaksanakan Jnana Yadnya ini antara lain:
Bhagawan Abhyasa, sebagai Maha Resi
penerima wahyu yang telah mengkodifikasikan CATUR WEDA (Catur Weda Sruti).
Bhagawan Wararuci, sebagai Maha
Resi yang telah menyusun sari pati dari Astha Dasa Parwa (Mahabarata)
diwujudkan dalam kitab Sarasamuçcaya.
Sang Krishna, Sang Rama Dewa.
Kesemuanya adalah pelaksana Jnana
Yadnya yang telah mencapai kedudukan tertinggi di antara umat manusia pada
jamannya maupun pada jaman- jaman berikutnya sampai sekarang.
I.
Tri Rna
Tri Rna
berasal dari kata tri dan rna. Tri berarti tiga, rna
berarti hutang. Jadi secara etimologi Tri Rna berarti tiga hutang. Tri
rna juga berarti tiga jenis ketergantungan dalam hidup manusia yang membawa
ikatan hutang (rna). Ketiga hutang (tri rna) tersebut meliputi :
1.
Dewa rna
Dewa rna
merupakan ketergantungan manusia kepada Tuhan yang telah menciptakan
kehidupan, memelihara dan memberikan kebutuhan hidup.
2.
Pitra rna
Pitra rna
merupakan ketergantungan kepada leluhur yang telah melahirkan, mengasuh dan
membesarkan diri kita.
3.
Rsi rna
Rsi rna
merupakan ikatan hutang kepada para Rsi yang telah memberikan pengetahuan suci
untuk membebaskan hidup ini dari kebodohan menuju kesejahteraan dan kebahagiaan
hidup lahir batin.
Kemajuan
teknologi dibidang transportasi dapat membantu manusia, sehingga manusia dengan
mudah dan cepat dapat bepergian kemanapun juga. Hal ini didukung oleh alat
transportasi yang canggih dan modern, serta menawarkan kenyamanan dan keamanan
bagi penumpangnya. Dengan kecanggthan alat-alat transportasi tersebut akan
mengantarkan penumpang relatif lebth cepat sampai di tempat tujuan. Dalam
bidang komunikasi, manusia sangat mudah berkomunikasi baik di desa maupun di
kota. Hal ini didukung oleh kemajuan teknologi komunikasj yang relatif murah dan
mudah. Dalarn hal berkomunikasi, manusia tidak terbatas pada lokal saja,
melainkan sudah mencapai tingkat internasional. Komunikasi lokal maupun
interlokal dengan menggunakan teknologi canggih seperti internet, telepon
celuler, televisi dan lain-lain. Informasi yang ada dapat diakses lewat
teknologi seperti internet, telpon celuluer, televisi dan lain sebagainya.
Dengan adanya kemajuan teknologi transportasi dan komuniki yang signifikan,
membawa implikii terhadap perkembangan tourism. Manusia akan lebih mudah
mengunjungi tempat-tempat pariwisata baik antar pulau maupun antar negara.
Dengan demikian akan berpengaru juga terhadap perkembangan pan wisata dan
ekonomi global.
Derasnya
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) tidak menyurutkan Umat Hindu
yang ada di Bali untuk tetap melaksanakan upacara yadnya. Pelaksanaan upacara
keagamaan secara kuantitas terus mengalami peningkatan seiring dengan kemajuan
ilmu pengetahuan dan teknologi. Upacara yadnya ini salah satu penyebab
datangnya wisatawan asing untuk berlibur ke Bali. Di samping itu juga karena
keindal-ian alam Bali, yang mendorong wisatawan unt-uk datang ke Bali, sehingga
Bali menjadi daerah tujuan wisata dunia. Dengan demikian Bali sangat terkenal
di seluruh dunia sehingga mendapat berbagai sebutan seperti pulau seribu pura,
pulau sorga, pulau dewata dan sebagainya. Kemajuan tersebut juga berpengaruh
terhadap perekonomian masyarakat Bali khususnya yang memeluk agama Hindu.
Dengan meningkatnya pendapatan masyarakat, berimplikasi terhadap kuantitas
pelaksanaan upacara keagamaan yang semakin meriah. Kemajuan ilmu pengetahuan
dan teknologi dimanfaatkan oleh Umat Hindu untuk membantu kelancaran upacara
yadnya itu sendiri. Hal ini membuktikan bahwa Agama Hindu bersifat flexibel dan
dinamis sesuai dengan perkembangan jaman.
Budaya
melaksanakan upacara yadnya ini yang diwariskan oleh para leluhur keberadaannya
masih tetap eksis dengan kehidupan masyarakat yang memeluk Agama Hindu. Hal ini
disebabkan adanya ketaatan dan patuhnya masyarakat Bali yang memeluk Agama
Hindu melaksanakan ajaran agama melalui upacara yadnya.
Soeka (1987;
11) mengatakan bahwa hutang budi manusia disebut Tri Rnam. Tri artinya tiga,
Rnam artinya hutang. Jadi Tri Rnam berarti tiga macam hutang budi manusia
kepada yang menciptakan, yang memelihara/membesarkan, yang mendidik, memberi
tuntunan hidup dan sebagainya. Khususnya Umat Hindu dalam kehidupan merasa
mempunyai hutang yang disebut dengan Tri Rna. Bagian dan Tri Rna antara lain :
Dewa Rna (hutang kepada Tuhan), Rsi Rna (hutang kepada tokoh-tokoh agama) dan
Pitra Rna (hutang kepada orang tua dan leluhur). Dewa Rna yaitu kesadaran
berhutang kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa(Tuhan) atas yadnyaNya kepada alam
semesta beserta isinya.
Hutang ini
diaplikasikan dengan melaksanakan Dewa Yadnya yang disembahkan kepada Ida Sang
Hyang Widhi Wasa (Tuhan) baik dengan upacara yadnya pada saat piodalan maupun
pada hari-hari suci serta merenovasi tempat-tempat suci. Bhuta Yadnya yang
disembahkan kepada alam semesta baik dengan upacara vadnva berupa caru, tawur,
serta dengan menjaga kelestarian alam semesta. Rsi Rna merupakan kesadaran
berhutang kepada para Rsi atau orang-orang suci yang telah berjasa mengajarkan
ilmu pengetahuan suci Weda. Weda tersebut diolah disusun sedemikian rupa
sehingga menjadi kitab sastra agama. Hutang ini dapat diaplikasikan dengan
mematahi petunjuk sastra agama serta menjauhi larangan-larangan agama,
menghormati para guru, dan lain sebagainya. Dalam bentuk upacara, dapat
dilakukan dengan membantu prosesi Upacara Medwijati yang
dilaksanakan oleh sulinggih. Pitra Rna merupakan kesadaran berhutang kepada orang tua dan leluhur atas jasajasanya dalam memelihara dan mendidik sejak dan dalam kandungan sampai menjadi manusia dewasa. Hutang ini dapat diaplikasikan dengan melaksanakan upacara Pitra yadnya dan Manusa yadnya serta berbakti kepada orang yang lebih tua atau menghormati orang yang patut dihormati.
dilaksanakan oleh sulinggih. Pitra Rna merupakan kesadaran berhutang kepada orang tua dan leluhur atas jasajasanya dalam memelihara dan mendidik sejak dan dalam kandungan sampai menjadi manusia dewasa. Hutang ini dapat diaplikasikan dengan melaksanakan upacara Pitra yadnya dan Manusa yadnya serta berbakti kepada orang yang lebih tua atau menghormati orang yang patut dihormati.
Hal ini yang
memunculkan adanya hrmacam-macam yadnya dan upacara yang dilaksanakan oleh Umat
Hindu. Dengan demikian, Tri Rna ini diaplikasikan oleh umat Hindu di Bali
dengan melaksanakan upacara Panca Yadnya (Bhuta Yadnya, Manusa Yadnya, Pitra
Yadnya, Rsi Yadnya dan Dewa Yadnya). Upacara Yadnya atau Panca Yadnya bertujuan
untuk membayar hutang-hutang manusia. Hal ini dikemukakan dalam Bhagawadgita
III.10 sebagai berikut:
sahayajnah prajah srtva
Puro vaca prajapatih
Anena Prasavisyadhvam
Esa vo stv’ istakamadhuk
Artinya:
Pada jaman dahulu kala Prajapati menciptakan manusia dengan yadnya yang bersabda : dengan ini engkau akan mengembang dan akan menjadi kamandhuk (lembu perahan yang memerah susunya). dan keinginanmu (Mantra, 2006;43).
Pada jaman dahulu kala Prajapati menciptakan manusia dengan yadnya yang bersabda : dengan ini engkau akan mengembang dan akan menjadi kamandhuk (lembu perahan yang memerah susunya). dan keinginanmu (Mantra, 2006;43).
Berdasarkan
sloka di atas, bahwa Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan) dalam menciptakan
manusia berdasarkan yadnya. Dengan demikian manusia akan mempunyai kewajiban
untuk membalas kebesaran-Nya. Dengan melaksanakaii yadnya yang dikenal dengan
Panca Yadnya. Upacara manusa yadnya merupakan bagian dari Panca Yadnya. Upacara
perkawinan merupakan salah satu bagian dari upacara Manusia Yadnya.
Menurut Sura
(2000) agama Hindu terdiri dari tiga kerangka, yaitu filsafat (tattwa), etika,
dan acara. Dalam realisasinya, ketiganya merupakan satu kesatuan yang utuh dan
tidak dapat dipisah-pisahkan; artinya satu aktifitas keagamaah merupakan
realisasi dari ketiga kerangka dasar tersebut. Dalam penampilan secara empiris,
upacara mungkin nampak lebih menonjol ketimbang aspek etika dan tattwa. Tetapi
esensinya terdalam dari Agama Hindu terdapat dalam tattwa.
Upacara Yadnya merupakan salah satu bagian dan Tri Kerangka dasar Agama Hindu yaitu : Tattwa (filsafat), Etika (susila) dan Ritual (upacara). Namun pelaksanaan dan upacara panca yadnya tersebut yang dilaksanakan di Bali belum seluruhnya dipahami tujuannya oleh umat Hindu. Pelaksanaan upacara keagamaan di Bali dititik beratkan pada ritual, sehingga yang menonjol adalah pelaksanaan upacara itu sendiri.
Upacara Yadnya merupakan salah satu bagian dan Tri Kerangka dasar Agama Hindu yaitu : Tattwa (filsafat), Etika (susila) dan Ritual (upacara). Namun pelaksanaan dan upacara panca yadnya tersebut yang dilaksanakan di Bali belum seluruhnya dipahami tujuannya oleh umat Hindu. Pelaksanaan upacara keagamaan di Bali dititik beratkan pada ritual, sehingga yang menonjol adalah pelaksanaan upacara itu sendiri.
yang terjadi akhir-akhir ini di Bali sangat
mengkhawatirkan masyarakat khususnya dari kalangan agamawan. Kemajuan teknologi
bagaikan pisau bermata dua. Disatu sisi membawa dampak positif, namun disisi
lain membawa dampak yang negatif. Dampak positip yang diakibatkan oleh kemajuan
teknologi yakni dapat memudahkan dan membantu manusia dalam mengakses informasi
dan memudahkan pekerjaan seperti mempercepat arus berkomunikasi, lebih cepat
sampai di tempat tujuan dan lain sebagainya. Sedangkan dampak negatifnya yakni
manusia menjadi konsumtif, individual, meterialistis dan lain-lain. Selain itu, kalangan remaja (masa brahmacari) terjadi pergaulan bebas sehingga menyebabkan seks bebas yang mengakibatkan kehamilan sebelum adanya prosesi adanya upacara perkawinan.
manusia menjadi konsumtif, individual, meterialistis dan lain-lain. Selain itu, kalangan remaja (masa brahmacari) terjadi pergaulan bebas sehingga menyebabkan seks bebas yang mengakibatkan kehamilan sebelum adanya prosesi adanya upacara perkawinan.
Seiring dengan kemajuan
teknologi yang sangat pesat dijaman ini, tentunya membawa dampak positif dan
negatif terhadap kehidupan manusia. Salah satu dampak negatif dari kemajuan
teknologi tersebut yang mendukung hubungan seks bebas. VCD, DVD, HP, tabloid,
majalah beserta internet dengan mudah menyajikan gambar, foto, film - film
porno yang dapat diakses oleh remaja. Hal ini memicu hubungan seks bebas
dikalangan remaja dimana gambar, film, foto - foto porno biasa mereka lihat
melalui alat - alat teknologi.
Dengan kemajuan teknologi tersebut, hubungan
seks bebas semakin meresahkan dan mengkhawatirkan di era sekarang ini. Denpost
(tanggal 30 Juni 2009) menyatakan bahwa marak dan bebasnya peredaraan benda -
benda porno seperti blue film (BF), majalah atau tabloid porno dan sejenisnya
di Indonesia, turut andil “menyuburkan” perilaku seks bebas di kalangan remaja.
Untuk itu, kalangan orang tua, agamawan dan tokoh masyarakat untuk memberikan
ajaran agama kepada para remaja agar terhindar dari hubungan seks bebas. Untuk
mengarahkan manusia agar selalu untuk berperilaku seks yang baik, benar dan
sehat jelas tidak mudah dilakukan. Banyak tantangan yang harus dihadapi oIeh
mereka yang terhadap hubungan seks yang sakraL
1.3 SEJARAH NGABEN DI BALI

Bali
dengan umat yang memeluk Agama Hindu yang menganut kepercayaan adanya roh masih
hidup setelah badan kasar tak bergerak dan terbentang kaku, mempunyai upacara
yang khas dalam penyelenggaraan jazad seseorang yang berpulang yang disebut Pitra
Yajna dimana rangkaian dari upacara ini biasa dikenal dengan Istilah Ngaben /
Palebon / Pralina dll, dan disesuaikan dengan tingkat dan kedudukan seseorang
yang bernilai “Desa-Kala-Patra-Nista-Madya-Utama”.
Secara garis besarnya Ngaben itu dimaksudkan adalah untuk memproses kembalinya Panca Mahabhuta di alam besar ini dan mengantarkan Atma (Roh) kealam Pitra dengan memutuskan keterikatannya dengan badan duniawi itu. Dengan memutuskan kecintaan Atma (Roh) dengan dunianya, Ia akan dapat kembali pada alamnya, yakni alam Pitra.
Secara garis besarnya Ngaben itu dimaksudkan adalah untuk memproses kembalinya Panca Mahabhuta di alam besar ini dan mengantarkan Atma (Roh) kealam Pitra dengan memutuskan keterikatannya dengan badan duniawi itu. Dengan memutuskan kecintaan Atma (Roh) dengan dunianya, Ia akan dapat kembali pada alamnya, yakni alam Pitra.
Kemudian yang menjadi tujuan upacara ngaben adalah
agar ragha sarira (badan / Tubuh) cepat dapat kembali kepada asalnya, yaitu
Panca Maha Bhuta di alam ini dan Atma dapat selamat dapat pergi ke alam pitra.
Oleh karenanya ngaben tidak bisa ditunda-tunda, mestinya begitu meninggal
segera harus diaben. Agama Hindu di India sudah menerapkan cara ini sejak dulu
kala, dimana dalam waktu yang singkat sudah diaben, tidak ada upacara yang
menjelimet, hanya perlu Pancaka tempat pembakaran, kayu-kayu harum sebagai kayu
apinya dan tampak mantram-mantram atau kidung yang terus mengalun. Agama Hindu
di Bali juga pada prinsipnya mengikuti cara-cara ini. Cuma saja masih
memberikan alternatif untuk menunggu sementara, mungkin dimaksudkan untuk berkumpulnya
para sanak keluarga, menunggu dewasa (hari baik) menurut sasih dll, tetapi
tidak boleh lewat dari setahun. Tetapi sebenarnya dengan mengambil jenis ngaben
sederhana yang telah ditetapkan dalam Lontar, sesungguhnya ngaben akan dapat
dilaksanakan oleh siapapun dan dalam keadaan bagaimana juga. Yang penting
tujuan utama upacara ngaben dapat terlaksana. Sementara menunggu waktu setahun
untuk diaben, sawa (jenasah / jasad / badan kasar orang yang sudah meninggal)
harus dipendhem (dikubur) di setra (kuburan). Untuk tidak menimbulkan sesuatu
hal yang tidak diinginkan, sawa pun dibuatkan upacara-upacara tirta pengentas.
Dan proses pengembalian Panca Maha Bhuta terutama Unsur Prthiwinya akan berjalan
dalam upacara mependhem ini.
Ngaben selalu berkonotasi pemborosan, karena tanpa
biaya besar kerap tidak bisa ngaben. Dari sini muncul pendapat yang sudah tentu
tidak benar yaitu : Ngaben berasal dari kata Ngabehin, artinya berlebihan. Jadi
tanpa mempunyai dana berlebihan, orang tidak akan berani ngaben. Anggapan keliru
ini kemudian mentradisi. Akhirnya banyak umat Hindu yang tidak bisa ngaben,
lantaran biaya yang terbatas. Akibatnya leluhurnya bertahun-tahun dikubur. Hal
ini sangat bertentangan dengan konsep dasar dari upacara ngaben itu. Dari
beberapa penelusuran terhadap berbagai lontar di Bali, ngaben ternyata tidak
selalu besar. Ada beberapa jenis ngaben yang justru sangat sederhana.
Ngaben-ngaben jenis ini antara lain Mitrayadnya, Pranawa dan Swasta. Namun
demikian, terdapat juga berbagai jenis upacara yang tergolong besar, seperti
sawa prateka dan sawa wedhana.
Ngaben secara umum didefinisikan sebagai upacara
pembakaran mayat, kendatipun dari asal-usul etimologi, itu kurang tepat. Sebab
ada tradisi ngaben yang tidak melalui pembakaran mayat. Ngaben sesungguhnya
berasal dari kata beya artinya biaya atau bekal, kata beya ini dalam kalimat
aktif (melakukan pekerjaan) menjadi meyanin. Kata meyanin sudah menjadi bahasa
baku untuk menyebutkan upacara sawa wadhana. Boleh juga disebut Ngabeyain. Kata
ini kemudian diucapkan dengan pendek, menjadi ngaben.
Ngaben
atau meyanin dalam istilah baku lainnya yang disebut-sebut dalam lontar adalah
atiwa-atiwa. Kata atiwa inipun belum dapat dicari asal usulnya kemungkinan
berasal dari bahasa asli Nusantara (Austronesia), mengingat upacara sejenis ini
juga kita jumpai pada suku dayak, di kalimantan yang disebut tiwah. Demikian
juga di Batak kita dengar dengan sebutan tibal untuk menyebutkan upacara
setelah kematian itu.
Upacara
ngaben atau meyanin, atau juga atiwa-atiwa, untuk umat Hindu di pegunungan
Tengger dikenal dengan nama entas-entas. Kata entas mengingatkan kita pada
upacara pokok ngaben di Bali. Yakni Tirta pangentas yang berfungsi untuk
memutuskan hubungan kecintaan sang atma (roh) dengan badan jasmaninya dan mengantarkan
atma ke alam pitara
. Dalam
bahasa lain di Bali, yang berkonotasi halus, ngaben itu disebut Palebon yang
berasal dari kata lebu yang artinya prathiwi atau tanah. Dengan demikian
Palebon berarti menjadikan prathiwi (abu). Untuk menjadikan tanah itu ada dua
cara yaitu dengan cara membakar dan menanamkan kedalam tanah. Namun cara membakar
adalah yang paling cepat.
Tempat
untuk memproses menjadi tanah disebut pemasmian dan arealnya disebut tunon.
Tunon berasal dari kata tunu yang berarti membakar. Sedangkan pemasmian berasal
dari kata basmi yang berarti hancur. Tunon lain katanya adalah setra atau sema.
Setra artinya tegal sedangkan sema berasal dari kata smasana yang berarti
Durga. Dewi Durga yang beristana di Tunon ini.
Diantara pendapat diatas, ada satu
pendapat lagi yang terkait dengan pertanyaan itu. Bahwa kata Ngaben itu berasal
dari kata “api”. Kata api mendapat prefiks “ng” menjadi “ngapi” dan mendapat
sufiks “an” menjadi “ngapian” yang setelah mengalami proses sandi menjadi
“ngapen”. Dan karena terjadi perubahan fonem “p” menjadi “b” menurut hukum
perubahan bunyi “b-p-m-w” lalu menjadi “ngaben”. Dengan demikian kata Ngaben
berarti “menuju api”.
Adapun yang dimaksud api di sini
adalah Brahma (Pencipta). Itu berarti atma sang mati melalui upacara ritual
Ngaben akan menuju Brahma-loka yaitu linggih Dewa Brahma sebagai manifestasi
Hyang Widhi dalam Mencipta (utpeti).
Sesungguhnya
ada dua jenis api yang dipergunakan dalam upacara Ngaben yaitu Api Sekala
(kongkret) yaitu api yang dipergunakan untuk membakar jasad atau pengawak sang
mati dan Api Niskala (abstrak) yang berasal dari Weda Sang Sulinggih selaku
sang pemuput karya yang membakar kekotoran yang melekati sang roh. Proses ini
disebut “mralina”.
Di
antara dua jenis api dalam upacara Ngaben itu, ternyata yang lebih tinggi
nilainya dan mutlak penting adalah api niskala atau api praline yang muncul
dari sang Sulinggih. Sang Sulinggih (sang muput) akan memohon kepada Dewa Siwa
agar turun memasuki badannya (Siwiarcana) untuk melakukan “pralina”. Mungkin
karena api praline dipandang lebih mutlak/penting, dibeberapa daerah pegunungan
di Bali ada pelaksanaan upacara Ngaben yang tanpa harus membakar mayat dengan
api, melainkan cukup dengan menguburkannya. Upacara Ngaben jenis ini disebut
“bila tanem atau mratiwi”. Jadi ternyata ada juga upacara Ngaben tanpa mengunakan
api (sekala). Tetapi api niskala/api praline tetap digunakan dengan Weda
Sulinggih dan sarana tirtha praline serta tirtha pangentas.
Lepas
dari persoalan api mana yang lebih penting. Khusus tentang kehadiran api sekala
adalah berfungsi sebagai sarana yang akan mempercepat proses peleburan sthula
sarira (badan kasar) yang berasal dari Panca Mahabutha untuk menyatu kembali ke
Panca Mahabhuta Agung yaitu alam semesta ini. Proses percepatan pengembalian
unsur-unsur Panca Mahabhuta ini tentunya akan mempercepat pula proses penyucian
sang atma untuk bisa sampai di alam Swahloka (Dewa Pitara) sehingga layak
dilinggihkan di sanggah/merajan untuk disembah. Tentunya setelah melalui
upacara “mamukur” yang merupakan kelanjutan dari “Ngaben”.
Ngaben (Pelebonan; Pengabenan; Sawa
Wedana)
disebutkan adalah upacara
pensucian atman atau
roh orang yang telah meninggal dunia
untuk mengembalikan unsur unsur yang melekat dalam badan kasar dan halus dari
roh bersangkutan.
Secara
riil mayat di bakar dengan api sedangkan secara niskala
dibakar dengan api suci kekuatan dari puja mantra Ida Sulinggih yang
muput dan sering di sebut sebagai Agni Pralina selanjutnya dilakukan proses memukur
untuk pensucian atman tingkat lanjut.
Tujuan Upacara Ngaben ini adalah
untuk mempercepat pengembalian unsur - unsur dari panca maha butha yang
ada dalam diri manusia kepada asalnya atau ke sang pencipta, Ida Sang Hyang Widhi,
Tuhan Yang Maha Esa dan bermakna untuk menyelamatkan Manusia dan habitatnya;
menuju Jagadhita dan moksa.
Percaya dengan adanya Roh Leluhur,
orang Hindu Bali merasa belum lengkap kehidupannya apabila belum melaksanakan
Ngaben, karena Ngaben itu dimaknai sebagai kewajiban atau utang yang harus
dibayar kepada Leluhur yang telah melahirkan kita, seperti penjelasan Pitra Rna sebagai salah satu bagian dari Tri Rna.
Dalam
upacara pengabenan, disebutkan terdapat 6
(enam) tugas Pendeta
(sulinggih) antara lain :
- Menyelamatkan Atman (Atman kertih)
- Jana kertih
- Jagat kertih
- Buana Kertih
- Banyu Kertih
- Wana Kertih.
Demikian ngaben disebutkan
yang dikutip dari salah satu komentar dari Forum Diskusi Jaringan Hindu
Nusantara (ref1)
Sebagai
salah satu bentuk dari upacara pitra yadnya,
untuk pengertian, simbolisasi, makna dan istilah (ref2)
dalam kelengkapan upacara ngaben dijelaskan seperti berikut :
- Memandikan jenazah. Upacara memandikan jenazah dengan peralatan dan tatacaranya, disebut atiwa - tiwa, yang bermakna bahwa orang yang telah meninggal itu mapeningan atau masucian, karena arwahnya akan meninggalkan alam ini menuju alam pitra atau alam astral ("Mrtya Loka"; Alam Bwah Loka).
- Meletakkan jenazah di balai. ini bermakna bahwa orang yang meninggal itu telah siap untuk menerima upacara pengabenan yang diperuntukkan kepadanya.
- Ngendag atau ngulapin ke setera. ini melambangkan suatu pemberitahuan kepada roh orang yang akan diaberikan itu diajak pulang untuk diabenkan.
- Mendak toya hening Upacara ini bermakna mencari air hening untuk dipakai tirtha - pamanahan. Yang melakukan menanah - tirtha adalah Ida Pedanda sang muput.
Daftar Istilah Upacara Ngaben |
.... ngastawa, mapegat, berputar tiga kali di perempatan jalan dll ....
Dalam perhitungan wariga dan
dewasa ayu dalam urip wewaran,
adapun hari / dewasa tidak baik yang perlu dihindari dalam upacara ngaben :
Hal - hal yang terkait
dengan upacara ngaben :
- Umumnya, Gamelan Angklung dimainkan untuk mengiringi suatu upacara kremasi ngaben ini yang dengan pelaksanaan Cita Agni dengan menggunakan damar kurung agar semakin sempurna prosesi ngaben ini....
- Makalah Upacara Ngaben di Bali "..... dilandasi oleh pemikiran akan hakekat kehidupan sebagai manusia, yang berasal dari Tuhan untuk kembali kepada Tuhan"
- Kebiasaan membuat petulangan untuk kelengkapan sarana upacara ngaben di Bali, telah diwariskan secara turun temurun oleh nenek moyang dari jaman dahulu sampai sekarang.
- Penggunaan bade atau wadah pada saat upacara pengabenan yang didasari oleh bhadawang nala.
- Setelah prosesi ngaben ini selesai akan dilanjutkan dengan upacara Atma Wedana, sebagai bentuk penyucian atman (roh) leluhur kita ini.
Berbeda halnya dengan upacara adat ngaben di Desa
Trunyan seperti layaknya upacara-upacara kematian serupa yang
dilakukan di Bali yaitu jenasah tidak dibakar, melainkan hanya diletakkan di
tanah pekuburan, demikianlah disebutkan beberapa hal dalam upacara ngaben di
Bali.
Dalam filosofi upacara pengabenan
atau ngaben ini sebagaimana disebutkan dalam salah satu panduan upacara pitra yadnya juga disebutkan tertuang dalam :
aspek Prakerthi Tattwa | Bahwa sang hyang widhi menciptakan alam semesta
beserta isinya melalui proses manifestasi-nya dengan kekuatan "cetana dan acetana",
sehingga kekuatan acetananya :
- mahat > budhi > ahamkara > manah & dasendriya ( panca budhindriya & panca karmendriya.
- Juga ahamkara bermanifestasi menjadi tri guna > panca tan matra > panca maha bhuta > jadilah "stula sarira").
Sebaliknya
sejak manusia meninggal dunia, atma, rokh dan kekuatan panca maha bhutanya
meninggalkan tubuhnya, maka tubuh mulai disebut jazad dan dalam pitra puja
disebut "pitra".
Sehingga proses penyuciannya akan mengalami proses terbalik dari proses
lahir yaitu ngeringkes > ngaben > memukur >
nilapati dan pada akhirnya akan bersatu kembali dengan kekuatan "sang hyang
prakerthi".
a)
PENGABENAN
DI BALI
Ngaben secara umum didefinisikan
sebagai upacara pembakaran mayat, kendatipun dari asal-usul etimologi, itu
kurang tepat. Sebab ada tradisi ngaben yang tidak melalui pembakaran mayat.
Ngaben sesungguhnya berasal dari kata beya artinya biaya atau bekal,
kata beya ini dalam kalimat aktif (melakukan pekerjaan) menjadi meyanin. Kata
meyanin sudah menjadi bahasa baku untuk menyebutkan upacara sawa wadhana. Boleh
juga disebut Ngabeyain. Kata ini kemudian diucapkan dengan pendek,
menjadi ngaben.
Secara umum, ‘Ngaben’ di Bali bisa
dikatakan sebagai salah satu ritual agama dan juga ritual tradisi yang bermakna
mengembalikan jasad manusia yang sudah meninggal ke asalnya yang disebut dengan
Panca Maha Bhuta (lima unsur: tanah, air, api, angin dan ether). Jadi, ritual
agama atau tradisi? Tidak murni agama dan juga tidak murni tradisi, dua-duanya
kena.
Ritual agama karena memang tercantum
dalam kitab suci, ritual tradisi karena pada kenyataannya pelaksanaan upacara
ngaben di Bali dipenuhi dengan bumbu tradisi di Bali, ada bade/wadah, ada
singa/lembu, ada gender/wayang, ada tarian2 tertentu yang disakralkan dan
lan-lain. Dengan mengambil analogi upacara ngaben (kremasi) di India sebagai
asal muasal agama Hindu, Ngaben di Bali tentunya sangat berbeda dengan ngaben
di India. Makanya saya berasumsi bahwa Ngaben di Bali adalah perpaduan tradisi
dan agama.
Di India ucapara kremasi tidak perlu
tetek bengek seperti di Bali. Lalu apakah salah Ngaben seperti yang di Bali?
Tentu tidak. Karena Hindu adalah fleksibel di mana pelaksanaan ajarannya
disesuaikan dengan budaya setempat (local genius). Yang membuat kita saya
khawatir adalah ketika upacara Ngaben di Bali sudah menyimpang dari esensi
dasarnya, sudah jauh bias dari makna semula dan sudah keluar dari rel ajaran
agama. Masih segar rasanya dalam ingatan saya ketika beberapa upacara ngaben di
Bali dikomersialkan secara jor-joran. Dibuatkan website, dimasukkan ke surat
kabar bahkan diumumkan di televisi lokal. Salahkah? Tentu tidak, hanya saja
saya jadi muak. Itu adalah hak dari masing-masing individu.
Adanya trend baru pada Upacara
Ngaben di Nusa Penida, mengispirasi judul postingan ini yang mungkin bisa
digolongkan eyewitness news karena mengalami sendiri. Ngaben di sana menjadi
semacam ajang pamer kemampuan finansial dari keluarga yang bersangkutan. Di
desa B (nama lengkap desa ada pada redaksi penulis), sebuah keluarga yang
melaksanakan upacara ngaben yang ‘nyeleneh’ karena sebuah sepeda motor baru
ikut diaben bersama jasad orang yang meninggal. Alasannya, karena dia sangat
mencintainya dan niat untuk membelikan sepeda motor belum kesampaian pada saat
orang itu masih hidup.
Saya kok tidak yakin apakah di alam
sana masih perlu sepeda motor. Sekali lagi, ini tidak salah. Tapi alangkah
bijaksananya jika sepeda motor itu digunakan saja di dunia ini. Di desa S, ada
lagi yang membuat singa-singaan (bagian dari badewadah yang nanti ikut dibakar)
dari uang kertas. Patung singa tersebut dibuat seperti biasa dengan rangka
bambu dan dibalut dengan beludru dan hiasan prada. Begitu selesai, seluruh
badan singa tersebut ditempeli dengan uang kertas pecahan Rp 50 ribuan dan Rp
100 ribuan, sehingga patung singa tersebutpun memerlukan penjagaan khusus
sebelum dibakar. Alasannya? Biar roh yang meninggal mempunyai bekal di alam
sana. Salahkah? Tentu tidak, jika si roh memang perlu beli tiket pesawat/bis
untuk menuju alam sana.
Sampai di sini saya hanya bisa
merenung. Di mana sebenarnya esensi manusia Bali dalam melaksanakan ajaran
budaya agama? Semurni apakah manusia Hindu Bali dalam melaksanakan ajaran
agama? Contoh-contoh kecil di atas tentu saja tidak bisa dijadikan parameter
untuk menilai secara keseluruhan namun paling tidak fenomena tersebut bisa membuka
mata saya bahwa ego masih sangat mendominasi ke hal-hal yang menyangkut religi.
Juga kurangnya pemahaman yang benar tentang esensi dan makna dasar dari sebuah
ritual yang dilaksanakan.
Ngaben atau meyanin dalam istilah
baku lainnya yang disebut-sebut dalam lontar adalah atiwa-atiwa. Kata
atiwa inipun belum dapat dicari asal usulnya kemungkinan berasal dari bahasa
asli Nusantara (Austronesia), mengingat upacara sejenis ini juga kita jumpai
pada suku dayak, di kalimantan yang disebut tiwah. Demikian juga di
Batak kita dengar dengan sebutan tibal untuk menyebutkan upacara setelah
kematian itu.
Upacara ngaben atau meyanin, atau
juga atiwa-atiwa, untuk umat Hindu di pegunungan Tengger dikenal dengan
nama entas-entas. Kata entas mengingatkan kita pada upacara pokok
ngaben di Bali. Yakni Tirta pangentas yang berfungsi untuk memutuskan hubungan
kecintaan sang atma (roh) dengan badan jasmaninya dan mengantarkan atma ke alam
pitara.
Dalam bahasa lain di Bali, yang
berkonotasi halus, ngaben itu disebut Palebon yang berasal dari kata lebu
yang artinya prathiwi atau tanah. Dengan demikian Palebon
berarti menjadikan prathiwi (abu). Untuk menjadikan tanah itu ada dua cara
yaitu dengan cara membakar dan menanamkan kedalam tanah. Namun cara membakar
adalah yang paling cepat.
Tempat untuk memproses menjadi tanah
disebut pemasmian dan arealnya disebut tunon. Tunon berasal dari
kata tunu yang berarti membakar. Sedangkan pemasmian berasal dari
kata basmi yang berarti hancur. Tunon lain katanya adalah setra
atau sema. Setra artinya tegal sedangkan sema berasal dari kata
smasana yang berarti Durga. Dewi Durga yang bersthana di Tunon ini.
Diantara pendapat diatas, ada satu
pendapat lagi yang terkait dengan pertanyaan itu. Bahwa kata Ngaben itu berasal
dari kata “api”. Kata api mendapat presfiks “ng” menjadi “ngapi” dan mendapat
sufiks “an” menjadi “ngapian” yang setelah mengalami proses sandi menjadi
“ngapen”. Dan karena terjadi perubahan fonem “p” menjadi “b” menurut hukum
perubahan bunyi “b-p-m-w” lalu menjadi “ngaben”. Dengan demikian kata Ngaben
berarti “menuju api”.
Adapun yang dimaksud api di sini
adalah Brahma (Pencipta). Itu berarti atma sang mati melalui upacara ritual
Ngaben akan menuju Brahma-loka yaitu linggih Dewa Brahma sebagai manifestasi
Hyang Widhi dalam Mencipta (utpeti).
Sesungguhnya ada dua jenis api yang
dipergunakan dalam upacara Ngaben yaitu Api Sekala (kongkret) yaitu api yang
dipergunakan untuk membakar jasad atau pengawak sang mati dan Api Niskala
(abstrak) yang berasal dari Weda Sang Sulinggih selaku sang pemuput karya yang
membakar kekotoran yang melekati sang roh. Proses ini disebut “mralina”.
Di antara dua jenis api dalam
upacara Ngaben itu, ternyata yang lebih tinggi nilainya dan mutlak penting
adalah api niskala atau api praline yang muncul dari sang Sulinggih. Sang
Sulinggih (sang muput) akan memohon kepada Dewa Siwa agar turun memasuki
badannya (Siwiarcana) untuk melakukan “pralina”. Mungkin karena api praline
dipandang lebih mutlak/penting, dibeberapa daerah pegunungan di Bali ada
pelaksanaan upacara Ngaben yang tanpa harus membakar mayat dengan api,
melainkan cukup dengan menguburkannya. Upacara Ngaben jenis ini disebut “bila
tanem atau mratiwi”. Jadi ternyata ada juga upacara Ngaben tanpa mengunakan api
(sekala). Tetapi api niskala/api praline tetap digunakan dengan Weda Sulinggih
dan sarana tirtha praline serta tirtha pangentas.
Lepas dari persoalan api mana yang
lebih penting. Khusus tentang kehadiran api sekala adalah berfungsi sebagai
sarana yang akan mempercepat proses peleburan sthula sarira (badan kasar) yang
berasal dari Panca Mahabutha untuk menyatu kembali ke Panca Mahabhuta Agung
yaitu alam semesta ini. Proses percepatan pengembalian unsure-unsur Panca
Mahabhuta ini tentunya akan mempercepat pula proses penyucian sang atma untuk
bisa sampai di alam Swahloka (Dewa Pitara) sehingga layak dilinggihkan di
sanggah/merajan untuk disembah. Tentunya setelah melalui upacara “mamukur” yang
merupakan kelanjutan dari “Ngaben”.
b)
Landasan
Filosofis
Manusia
terdiri dari dua unsur yaitu Jasmani dan Rohani. Menurut Agama Hindu manusia
ituterdiri dari tiga lapis yaitu Raga Sarira, Suksma Sarira, dan Antahkarana
Sarira. Raga Sarira adalah badan kasar. Badan yang dilahirkan karena nafsu
(ragha) antara ibu dan bapak. Suksma Sarira adalah badan astral, atau
badan halus yang terdiri dari alam pikiran, perasaan, keinginan, dan nafsu
(Cinta, Manah, Indriya dan Ahamkara). Antahkarana Sarira adalah yang
menyebabkan hidup atau Sanghyang Atma (Roh).
Ragha
sarira atau badan kasar manusia terdiri dari unsur panca mahabhuta yaitu
prthiwi, apah, teja, bayu, dan akasa. Prthiwi adalah unsur tanah, yakni
bagian-bagian badan yang padat, apah adalah Zat Cair, yakni
bagian-bagian badan yang cair ; seperti darah, kelenjar, keringat, air susu
dll. Teja adalah api yakni panas badan (suhu), emosi. Bayu adalah
angin, yaitu nafas. Dan yang Akasa adalah ether, yakni unsur badan yang
terhalus yang menjadikan rambut, kuku.
Proses
terjadinya Ragha Sarira atau badan kasar adalah sebagai berikut : sari-sari
Panca Maha Bhuta yang terdapat pada berbagai jenis makanan terdiri dari enam
rasa yang disebut sad rasa yaitu Madhura (manis), Amla (asam), Tikta (pahit),
Kothuka (pedas) , kyasa (sepet) dan lawana (asin). Sad rasa tersebut dimakan
dan diminum oleh manusia, dimana didalam tubuh diproses disamping menjadi
tenaga, ia menjadi kama. Kama bang (Ovum / sel telur) dan kama putih (sperma).
Dalam pesanggamaan kedua kama ini bertemu dan bercampur melalui pengentalan
menjadilah ia janin, badan bayi. Sisanya menjadi air nyom, darah lamas (kakere)
dan ari-ari.
Percampuran
kedua kama ini dapat menjadi janin, bilamana atma masuk atau turun kedalamnya.
Konon atma ini masuk kedalam unsur kama yang bercampur ini, ketika ibu dan
bapak dalam keadaan lupa, dalam asyiknya menikmati rasa. Disamping Panca Maha
Bhuta yang kemudian berubah menjadi janin ikut juga Panca Tan Matra, yakni
benih halus dari Panca Maha Bhuta itu. Panca Tan Matra ini dalam janin bayi
juga memproses dirinya menjadi Suksma Sarira, yakni Citta, Manah, Indriya dan
Ahamkara. Citta terdiri dari tiga unsur yaitu disebut Tri Guna, yaitu Sattwam,
Rajas, Tama. Ketiga unsur ini membentuk akhlak manusia. Manah adalah alam
pikiran dan perasaan, indriya alam keinginan dan ahamkara adalah alam keakuan. Unsur-unsur
tersebut disebut Suksma Sarira. Alam transparan ini dapat merekam dan menampung
hasil-hasil yang dikerjakan oleh badan atas pengendali Citta tadi. Bekas-bekas
ini nantinya merupakan muatan bagi si Atma (roh) yang akan pergi ke alam pitra.
Ketika
manusia itu meninggal Suksma Sarira dengan Atma akan pergi meninggalkan badan.
Atma yang sudah begitu lama menyatu dengan Sarira, atas kungkungan Suksma
Sarira, sulit sekali meninggalkan badan itu. Padahal badan sudah tidak dapat
difungsikan, lantaran beberapa bagiannya sudah rusak. Hal ini merupakan
penderitaan bagi Atma (roh).
Untuk
tidak terlalu lama atma terhalang perginya , perlu badan kasarnya di upacarakan
untuk mempercepat proses kembalinya kepada sumbernya dialam yakni Panca Maha
Bhuta. Demikian juga bagi sang atma perlu dibuatkan upacara untuk pergi ke alam
pitra dan memutuskan keterikatannya dengan badan kasarnya. Proses inilah yang
disebut Ngaben.
Kalau
upacara ngaben tidak dilaksanakan dalam kurun waktu yang cukup lama, badan
kasarnya akan menjadi bibit penyakit, yang disebut Bhuta Cuwil, dan Atmanya
akan mendaptkan Neraka, seperti dijelaskan :
“Yan wwang mati mapendhem ring prathiwi salawasnya tan
kinenan widhi-widhana, byakta matemahan rogha ning bhuana, haro haro gering
mrana ring rat, etemahan gadgad”
Artinya
“kalau orang mati ditanam pada tanah, selamnya tidak
diupacarakan diaben, sungguhnya akan menjadi penyakit bumi, kacau sakit
mrana di dunia, menjadi gadgad (tubuhnya)….”(lontar Tatwa Loka Kertti, lampiran
5a).
Landasan pokok ngaben adalah lima kerangka agama Hindu
yang disebut Panca Sradha atau lima keyakinan itu adalah :
- Ketuhanan / Brahman : Brahman merupakan asal terciptanya alam semesta beserta isinya, termasuk manusia. Beliau juga merupakan tujuan akhir kembalinya semua ciptaan itu. Dalam Kekawin Arjuna Wiwaha dirumuskan secara singkat dengan kalimat Sang Sangkan Paraning Dumadi artinya beliau sebagai asal dan kembalinya alam semesta beserta semua isinya. Berdasarkan atas keyakinan inilah, upacara tersebut dilakukan dengan tujuan untuk mengembalikan semua unsur yang menjadikan manusia ke asalnya. Sebagaimana juga tujuan dari Agama Hindu yaitu Moksartham Jagad Hita Ya Ca Iti Dharma yang berarti bahwa tujuan tertinggi agama Hindu adalah mencapai Moksa. Dimana Moksa dapat diartikan sebagai proses menyatunya Atma dengan Brahman atau dengan istilah Atman Brahman Aikyam, konsep Agama Hindu adalah untuk kembali menyatu dengan sang pencipta (Brahman / Tuhan), dimana Tuhan merupakan asal semua kehidupan.
- Atman (roh) : Keyakinan akan adanya Atma pada masing-masing badan manusia. Ia yang menghidupkan semua mahkluk termasuk manusia. Atma merupakan setetes kecil (atum) dari Brahman. Suatu sat setelah tiba waktunya, ia pun akan kembali kepada asalnya yang suci, atma perlu disucikan. Hal inilah yang memerlukan upacara.
- Karma : Manusia hidup tidak bisa lepas dari kerja. Kerja itu ada atas dorongan suksma sarira (Budi, Manah, Indria, dan Aharalagawa) setiap kerja akan berpahala. Kerja yang baik (Subha karma) berpahala baik pula. Kerja yang buruk (Asubha karma) akan berakibat keburukan pula. Pahala karma ini akan menjadi beban atma akan kembali keasalnya. Lebih-lebih buah karma yang buruk. Ia merupakan beban atma yang akan menghempaskan ke alam bawah (Neraka). Oleh karena itu manusia perlu berusaha untuk membebaskannya. Bagi para Yogi ia mampu membebaskan dosa-dosanya tanpa bantuan sarana dan prasarana orang lain. Tapi bagi manusia biasa, ia memerlukan pertolongan. Hal-hal inilah yang menyebabkan perlunya upacara Ngaben itu, yang salah satu aspeknya akan menebus dan menyucikan dosa-dosa itu.
- Samsara : artinya penderitaan. Atma lahir berulang-ulang ke dunia ini. Syukur kalau lahirnya menjadi manusia utama, atau setidak-tidaknya menjadi manusia. Adalah sangat menderita kalau lahir menjadi binatang. Oleh karena itu perlu dilaksanakan upacara ngaben, yang salah satu tujuannya adalah untuk melepaskan atma untuk dapat kembali ke asalnya. Hal ini disimbolkan dengan tirtha pangentas dan aksara-aksara kelepasan lainnya seperti rurub kajang, recedana, dan lain-lain.
- Moksa : artinya kebahagiaan abadi. Inilah yang menjadikan tumpuan harapan semua manusia. Dan inilah menjadi tujuan Agama Hindu. Demi tercapainya moksa itu, atma harus disucikan. Dosa-dosanya harus dibebaskan. Keterikatannya dengan duniawi harus diputus, kemudian terakhir Ia harus dipersatukan dengan sumbernya. Inilah menjadi konsep dasar upacara ngaben, memukur dan terakhir Ngalinggihang Dewa Hyang pada sanggah Kamulan atau Ibu Dengen. Hal ini mengandung arti Atma bersatu dengan sumbernya (Kamulan Kawitan) atau kata lain mencapai Moksa (kendatipun ini hanyalah usaha dan khayalan pretisantana).
c)
Unsur
Metafisika dalam Ngaben
Setelah
mengetahui maksud dan tujuan serta landasan filosofis. Penulis akan mencoba
mengungkapkan unsur metafisika yang terdapat dalam upacara ngaben. Berangkat
dari ontologi (metafisika umum) yang berusaha menjawab persoalan dan menggelar
gambaran umum tentang struktur yang ada atau realitas berlaku mutlak untuk
segala jenis realitas (yang ada). Realitas yang mendasar yang diyakini sebagai
sumber dan makna itu oleh Sontag (1970:4) disebut sebagai “prinsip utama” ( the
first principle ). Setiap filsuf atau aliran dalam memahami prinsip pertama
menggunakan cara-cara yang berbeda, oleh karena itu dalam pemikiran filsafat
kita menemukan beberapa model pendekatan, dari yang tradisional sampai yang
paling kontemporer. Pendekatan itu berkembang dari model pemikiran
kosmosentris, theosentris, antroposentris, logosentris, dan ke
gramatologisentris. Masing-masing memiliki watak, titik pijak, perspektif, dan
orientasi yang berbeda.
Telah
ditetapkan bahwa dalam upacara ngaben dianggap sebagai “simbolis pengantar atma
(jiwa) ke alam pitra (baka)”. Proses pengantaran atma ke alam pitra merupakan
prinsip utama yang lalu dituangkan melalui symbol berupa upacara yang disebut
Ngaben. Oleh karena itu “proses pengantaran atma (jiwa) ke alam pitra (baka)”
tersebut merupakan prinsip pertama dalam ontologi upacara ngaben.
d)
Dasar
Hukum
Ngaben
merupakan salah satu upacara adat Umat Hindu yang masuk ke dalam ruang lingkup
upacara Pitra Yajna. Dimana yang dimaksud dengan Pitra Yajna adalah persembahan
suci kepada leluhur. Pitra Yajna berasal dari kata Pitr yang artinya leluhur,
yajna yang berasal urat kata yaj yang berarti berkorban. Leluhur dimaksud
adalah Ibu Bapak, kakek, buyut, dan lain-lain yang merupakan garis lurus ke
atas, yang menurunkan kita. Kita ada karena ibu dan Bapak. Ibu dan Bapak ada
karena Kakek dan Nenek, begitu seterusnya. Jadi kita ada atas jasa mereka. Kita
telah berhutang kepada mereka. Hutang kepada leluhur disebut Pitra Rna. Hutang
ini harus dibayar, membayar utang kepada leluhur dengan melaksanakan pitra
yajna. Jadi pitra yajna merupakan suatu pembayaran hutang kepada leluhur. Hal
inilah yang menjadi dasar hukum dari pada Pitra Yajna itu.
Upacara
menghormati leluhur dalam Agama Hindu di kenal dengan istilah Sradha. Hal ini
dijelaskan dalam Menawa Dharma Sastra sebagai berikut : “Upacara Pitra Yajna
yang harus kamu lakukan Hendaknya setiap harinya melakukan sraddha dengan
mempersembahkan nasi atau dengan air dan susu, dengan umbi-umbian . Dan
dengan demikian Ia menyenangkan para leluhur.” (M.D.S.I.82).
E. Jenis – jenis Ngaben Sederhana
1.
Mendhem Sawa
Mendhem sawa berarti penguburan
mayat. Di muka dijelaskan bahwa ngaben di Bali masih diberikan kesempatan untuk
ditunda sementara, dengan alasan berbagai hal seperti yang telah diuraikan.
Namun diluar itu masih ada alasan yang bersifat filosofis lagi, yang didalam
naskah lontar belum diketemukan. Mungkin saja alasan ini dikarang yang
dikaitkan dengan landasan atau latar belakang filosofis adanya kehidupan ini.
Alasannya adalah agar ragha sarira yang berasal dari unsur prthiwi sementara
dapat merunduk pada prthiwi dulu. Yang secara ethis dilukiskan agar mereka
dapat mencium bunda prthiwi. Namun perlu diingatkan bahwa pada prinsipnya
setiap orang mati harus segera di aben. Bagi mereka yang masih memerlukan waktu
menunggu sementara maka sawa (jenasah) itu harus di pendhem (dikubur) dulu.
Dititipkan pada Dewi penghuluning Setra (Dewi Durga).
2. Ngaben Mitra Yajna
Berasal dari kata Pitra dan Yajna.
Pitra artinya leluhur, yajna berarti korban suci. Istilah ini dipakai untuk
menyebutkan jenis ngaben yang diajarkan pada Lontar Yama Purwana Tattwa,
karena tidak disebutkan namanya yang pasti. Ngaben itu menurut ucap lontar Yama
Purwana Tattwa merupakan Sabda Bhatara Yama. Dalam warah-warah itu tidak
disebutkan nama jenis ngaben ini. Untuk membedakan dengan jenis ngaben sedehana
lainnya, maka ngaben ini diberi nama Mitra Yajna.
Pelaksanaan Atiwa-atiwa / pembakaran mayat ditetapkan
menurut ketentuan dalam Yama Purwana Tattwa, terutama mengenai upakara dan
dilaksanakan di dalam tujuh hari dengan tidak memilih dewasa (hari baik).
3. Pranawa
Pranawa adalah aksara Om Kara. Adalah nama jenis
ngaben yang mempergunakan huruf suci sebagai simbol sawa. Dimana pada mayat
yang telah dikubur tiga hari sebelum pengabenan diadakan upacara Ngeplugin atau
Ngulapin. Pejati dan pengulapan di Jaba Pura Dalem dengan sarana bebanten
untuk pejati. Ketika hari pengabenan jemek dan tulangnya dipersatukan pada
pemasmian. Tulangnya dibawah jemeknya diatas. Kemudian berlaku ketentuan
seperti amranawa sawa yang baru meninggal. Ngasti sampai ngirim juga sama
dengan ketentuan ngaben amranawa sawa baru meninggal, seperti yang telah
diuraikan.
4. Pranawa Bhuanakosa.
Pranawa Bhuanakosa merupakan ajaran
Dewa Brahma kepada Rsi Brghu. Dimana Ngaben Sawa Bhuanakosa bagi orang yang
baru meninggal walaupun pernah ditanam, disetra. Kalau mau mengupakarai sebagai
jalan dengan Bhuanakosa Prana Wa.
5.
Swasta
Swasta artinya lenyap atau hilang.
Adalah nama jenis ngaben yang sawanya (mayatnya) tidak ada (tan kneng
hinulatan), tidak dapat dilihat, meninggal didaerah kejauhan, lama di setra,
dan lain-lainnya, semuanya dapat dilakukan dengan ngaben jenis swasta. Walaupun
orang hina, biasa, dan uttama sebagai badan (sarira) orang yang mati
disimbolkan dengan Dyun (tempayan) sebagai kulit, benang 12 iler sebagai otot,
air sebagai daging, balung cendana 18 potong. Pranawa sebagai suara, ambengan
(jerami) sebagai pikiran, Recafana sebagai urat, ongkara sebagai lingga hidup.
Tiga hari sebelum pengabenan diadakan upacara ngulapin, bagi yang meninggal di
kejauhan yang tidak diketahui dimana tempatnya, upacara pengulapan, dapat
dilakukan diperempatan jalan. Dan bagi yang lama di pendhem yang tidak dapat
diketahui bekasnya pengulapan dapat dilakukan di Jaba Pura Dalem.
F. Ngaben Sarat
Ngaben Sarat adalah Ngaben yang
diselenggarakan dengan semarak, yang penuh sarat dengan perlengkapan upacara
upakaranya. Upacara ngaben sarat ini memerlukan dukungan dana dan waktu yang
cukup untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Ngaben sarat dilakukan baik
terhadap sawa yang baru meninggal maupun terhadap sawa yang telah dipendem. Ngaben
sarat terhadap sawa yang baru meninggal disebut Sawa Prateka. Sedangkan ngaben
sarat terhadap sawa yang pernah dipendem disebut Sawa Wedhana. Baik sawa
prateka maupun sawa wedhana memerlukan perlengkapan upacara bebanten dan sarana
penunjang lainnya yang sangat besar atau banyak. Semua itu dipersiapkan dalam
kurun waktu yang panjang serta memerlukan tenaga penggarap yang besar. Karena
itulah terhadap kedua jenis ngaben ini disebut Ngaben Sarat.
- Kondisi Umat Hindu dimasa lalu
Pada masa lalu, lebih-lebih sebelum
masa kemerdekaan, umat Hindu kondisinya sangat lemah. Sebagai masyarakat
Agraris mereka berpenghasilan sangat rendah. Pemahaman terhadap Agama Hindu
sangat rendah. Lebih-lebih ketika itu, ajaran Agama masih tabu untuk dipelajari
secara umum. Motto away wera yang disalahtafsirkan menghantui pikiran
umat. Akibatnya pemahaman Agama Hindu sangat rendah. Pengertian Ngaben disalah
artikan dimana Ngaben adalah identik dengan Ngabehin. Kalau tidak
mempunyai dana yang besar umat tidak akan berani ngaben. Umat tidak mengenal
ada bentuk ngaben sederhana. Lalu mereka jarang sekali ngaben. Kalau toh ada
ngaben mereka pasti golongan mekel, golongan menak, keluarga Puri, atau
Geria.
Sewaktu-waktu umat kebanyakan juga
ikut ngaben. Namun secara kolektif, baik dengan cara ngiring (ikut / numpang)
pada puri atau pun geria; kadang kala dari masyarakat yang berpikiran agak
maju, melaksanakan ngaben kolektif yang disebut Ngagalung. Biasanya
disponsori oleh banjar. Akibat dari semua itu, sawa leluhur lama terpendam.
Bertahun-tahun bahkan puluhan tahun. Hal ini tentu bertentangan dengan prinsip
ngaben.
- Kondisi umat Hindu masa sekarang.
Masyarakat sekarang telah measuki era Industrialisasi.
Khususnya Bali adalah Industri Pariwisata. Masyarakat Industri adalah
masyarakat yang penuh dengan kesibukan. Pendapatan masyarakat semakin
meningkat. Pemahaman terhadap ajaran agama juga semakin meningkat, pelaksanaan
upacara menjadi semakin semarak. Dengan pendapatan yang tinggi maka semakin
bergairah dalam melaksanakan ibadah agamanya. Bagi Agama Hindu melaksanakan
upacara agama termasuk ngaben kelihatan makin semarak saja. Setiap orang mati
kebanyakan diaben. Ada yang mengambil ngaben sederhana dan ada juga yang
mengambil jenis pengabenan sarat. Disisi lain akibat dari dampak pengaruh
industri pariwisata, adalah penyempitan waktu. Hidup gotong royong seperti masa
lalu mulai terancam. Kalau ada tetangga yang ngaben, tanpa diundang dia datang
untuk membantu bekerja. Tapi sekarang tanpa di undang ia tidak akan datang.
Kalau toh diminta paling-paling bisa membantu 1 s/d 2 kali saja. Syukurlah
masyarakat Hindu di Bali masih mempunyai Banjar. Banjar adalah suatu lembaga
adat yang andal untuk mempertahankan kebersamaan dan gotong-royong. Melalui
banjar umat Hindu yang ngaben dapat mengharapkan bantuan warganya. Hanya
beberapa kali mereka dapat meminta gotong-royong banjar. Ternyata lembaga
banjar ini masih sangat efektif untuk membantu pelaksanaan ngaben.
Jenis-jenis
Ngaben Sarat :
Jenis-jenis Ngaben Sarat tergantung jenis sawa
(jenasah) yang diupakarakan yaitu Sawa Prateka dan Sawa Wedhana.
- Bilamana sawa yang diupakarakan itu baru meninggal disebut Sawa Prateka. Sawa Prateka adalah jenis ngaben untuk sawa (mayat) yang baru meninggal belum sempat diberikan upacara penguburan. Bila disimpulkan yaitu begitu atma atau urip meninggalkan badan, sawanya lalu diupacarakan di rumah seperti dimandikan, diperciki tirta pemanah, dihidangkan saji tarpana, dengan lebih dulu atma itu disuruh kembali sementara pada badannya terdahulu. Jadi di rumah betul sawanya yang diupakarakan. Inilah yang disebut Sawa Prateka.
- Sedangkan terhadap sawa yang telah pernah dikubur (di pendhem) lalu di aben disebut Sawa Wedhana. Sawa Wedhana adalah jenis ngaben yang dilakukan untuk mayat yang telah mendapatkan upacara penguburan (ngurug). Adapun sawa yang telah ditanam di Setra namanya makingsan, dititipkan pada tanah. Atma itu dipegang oleh Bhatari Durga. Pimpinan setra. Demikian prihalnya sawa yang ditanam. Pada Waktu pengupacarakan sawa itu namanya sawa Wedhana. Tiga hari menjelang pengabenan ada upakarannya yang disebut ngulapin. Sawa yang telah pernah dipendhem disebut tawulan. Tawulan ini tidak ikut diupacarakan lagi tawulan ini diganti dengan pengawak, yang terbuat dari kayu cendana atau kayu mejegau yang panjangnya satu lengkat satu hasta. Dan lebarnya empat jari. Cendana ini digambari orang-orangan sebagai pengganti sawa. Pengawak ini disebut sawa karsian. Upacara ngaben jenis ini juga disebut Sawa Rsi.
G. Pembagian Ngaben Menurut Caranya
Selain pembagian ngaben menurut
jenis ngaben diatas baik ngaben sederhana maupun ngaben sarat, adapula
pembagian ngaben dilihat dari cara pelaksanaannya yaitu :
1.
Ngaben Langsung
Ngaben Langsung Artinya, Upacara ini langsung
dilakukan setelah orang itu meninggal. Ini biasanya dilakukan bagi mereka yang
boleh dikatakan mampu untuk urusan ekonominya. Pada umumnya upacara ngaben dari
persiapannya membutuhkan waktu yang agak lama, minimal kira-kira 10 hari,
itupun jika “hari baik” berdasarkan hitungan kalerder Bali sudah dapat
ditentukan / dipilih. Sementara itu biasanya mayat dari orang yang meninggal
akan diawetkan terlebih dahulu, baik dengan cara pembekuan (es), atau dengan
zat kimia lainnya.
2.
Ngaben Massal (ngerit)
Seperti namanya ngaben masal dilakukan secara
bersama-sama dengan banyak orang. Di masing-masing desa di Bali biasanya
mempunyai aturan tersendiri untuk acara ini. Ada yang melakukan setiap 3 tahun
sekali, ada juga setiap 5 tahun dan mungkin ada yang lainnya. Bagi masyarakat
yang kurang mampu, ini adalah pilihan yang sangat bijaksana, karena urusan
biaya, sangat bisa diminimalkan. Biasanya mereka yang mempunyai keluarga
meninggal dunia, akan di kubur terlebih dulu. Pada saat acara ngaben masal
inilah, kuburan itu digali lagi untuk mengumpulkan sesuatu yang tersisa dari
mayat tersebut. Sisa tulang atau yang lain, akan dikumpulkan dan selanjutnya
dibakar.
Prosesi upacara ngaben selanjutnya,
setelah pembakaran mayat, abunya kemudian dibuang ke laut. Dilanjutkan dengan
upacara penjemputan arwah di laut tersebut, sebelum akhirnya ditempatkan di
pura keluarga masing-masing. Disinilah biasanya seperti dijelaskan dihalaman
lain tentang pura keluarga masyarakat hindu di Bali, disamping fungsinya untuk
memuja tuhan juga untuk memuja para leluhurnya.
H. Hari
Baik atau Dewasa Ngaben
Pada hakekatnya saat yang baik
(dewasa) adalah merupakan repleksi dari adanya pengaruh alam besar (Buana
Agung) terhadap kehidupan alam kecil dengan alam besar (Makrokosmos) itu.
Adanya pengaruh alam besar terhadap kehidupan manusia serta akibat dari
pengaruh saling berhubungan itu betul-betul diperhatikan oleh setiap umat Hindu
dalam melakukan usaha terutama dalam melakukan upacara yajna, dalam hal ini
ngaben.
Bergeraknya matahari ke utara atau
keselatan dari bulatan bumi yang sesuai dengan penglihatan manusia, seperti
dapat dilihat sepanjang tahun membawa pengaruh yang besar terhadap kehidupan di
Bumi, lahir bathin. Bergeraknya matahari inilah yang menjadi patokan pesasihan
dalam ilmu wariga itu. Dan pesasihan merupakan dasar pokok dari dewasa,
khususnya dewasa ngaben sarat.
Bila kita perhatikan keadaan sasih
yang disebabkan pergeseran matahari ke utara ke selatan (secara pandangan manusia)
maka akan terlihatlah bagian-bagian sasih-sasih itu serta kegunaannya untuk
upacara apa tepatnya, sesuai dengan petunjuk dalam lontar-lontar di Bali.
I.
Khas Upacara
Adat Ngaben di Desa Trunyan Bali.
DIpinggir Danau Batur dan dikelilingi tebing bukit,
Desa Trunyan memiliki banyak keunikan sebagai sebuah desa kuna dan Bali Aga
(Bali asli). Konon ada sebuah pohon Taru Menyan yang menebarkan bau sangat
harum. Bau harum itu mendorong Ratu Gede Pancering Jagat untuk mendatangi
sumber bau. Beliau bertemu dengan Ida Ratu Ayu Dalem Pingit di sekitar
pohon-pohon hutan cemara Landung. Di sanalah kemudian mereka kawin dan secara
kebetulan disaksikan oleh penduduk desa hutan Landung yang sedang berburu. Taru
Menyan itulah yang telah berubah menjadi seorang dewi yang tidak lain adalah
istri dari Ida Ratu Pancering Jagat. Sebelum meresmikan pernikahan, Ratu Gede
mengajak orang-orang desa Cemara Landung untuk mendirikan sebuah desa bernama
Taru Menyan yang lama kelamaan menjadi Trunyan. Desa ini berada di Kecamatan
Kintamani, Daerah Tingkat II Bangli. Ternyata tidak semua umat Hindu di Bali
melangsungkan upacara ngaben untuk pembakaran jenasah. Di Trunyan, jenasah
tidak dibakar, melainkan hanya diletakkan di tanah pekuburan. Trunyan adalah
desa kuna yang dianggap sebagai desa Bali Aga (Bali asli). Trunya memiliki
banyak keunikan dan yang daya tariknya paling tinggi adalah keunikan dalam
memperlakukan jenasah warganya. Trunyan memiliki tiga jenis kuburan yang
menurut tradisi desa Trunyan, ketiga jenis kuburan itu di-klasifikasikan
berdasarkan umur orang yang meninggal, keutuhan jenasah dan cara penguburan
yaitu :
1. Kuburan utama adalah yang dianggap
paling suci dan paling baik yang disebut Setra Wayah.
Jenazah yang dikuburkan pada kuburan suci ini hanyalah
jenazah yang jasadnya utuh, tidak cacat, dan jenasah yang proses
meninggalnya dianggap wajar (bukan bunuh diri atau kecelakaan).
2. Kuburan yang kedua disebut kuburan muda
yang khusus diperuntukkan bagi bayi dan orang dewasa yang belum menikah. Namun
tetap dengan syarat jenasah tersebut harus utuh dan tidak cacat.
3. Kuburan yang ketiga disebut Sentra
Bantas, khusus untuk jenasah yang cacat dan yang meninggal karena salah pati
maupun ulah pati (meninggal secara tidak wajar misalnya kecelakaan,
bunuh diri).
Dari ketiga jenis kuburan tersebut
yang paling unik dan menarik adalah kuburan utama atau kuburan suci (Setra
Wayah). Kuburan ini berlokasi sekitar 400 meter di bagian utara desa dan
dibatasi oleh tonjolan kaki tebing bukit. Untuk membawa jenasah ke kuburan
harus menggunakan sampan kecil khusus jenasah yang disebut Pedau. Meski disebut
dikubur, namun cara penguburannya unik yaitu dikenal dengan istilah mepasah.
Jenasah yang telah diupacarai menurut tradisi setempat diletakkan begitu saja
di atas lubang sedalam 20 cm. Sebagian badannya dari bagian dada ke atas,
dibiarkan terbuka, tidak terkubur tanah. Jenasah tersebut hanya dibatasi dengan
ancak saji yang terbuat dari sejenis bambu membentuk semacam kerucut, digunakan
untuk memagari jenasah. Di Setra Wayah ini terdapat 7 liang lahat terbagi
menjadi 2 kelompok. Dua liang untuk penghulu desa yang jenasahnya tanpa cacat
terletak di bagian hulu dan masih ada 5 liang berjejer setelah kedua liang tadi
yaitu untuk masyarakat biasa.
Jika semua liang sudah penuh dan ada
lagi jenasah baru yang akan dikubur, jenasah yang lama dinaikkan dari lubang
dan jenasah barulah yang menempati lubang tersebut. Jenasah lama, ditaruh
begitu saja di pinggir lubang. Jadi jangan kaget jika di setra wayah berserakan
tengorak-tengkorak manusia yang tidak boleh ditanam maupun dibuang. Meski tidak
dilakukan dengan upacara Ngaben, upacara kematian tradisi desa Trunyan pada
prinsipnya sama saja dengan makna dan tujuan upacara kematian yang dilakukan
oleh umat Hindu di Bali lainnya. Upacara dilangsungkan untuk membayar hutang
jasa anak terhadap orang tuanya. Hutang itu dibayarkan melalui dua tahap, tahap
pertama dibayarkan dengan perilaku yang baik ketika orang tua masih hidup dan
tahap kedua pada waktu orang tua meninggal serangkaian dengan prilaku ritual
dalam bentuk upacara kematian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar